
Bu Vanesa sudah bertanya kenapa Kiara menangis. Namun Kiara tidak mau menjawabnya. Bu Vanesa mengira jika mungkin saja Kiara sedang memikirkan masa depannya. Atau memikirkan lelaki yang telah menodainya.
Sejak pulang dari butik, Kiara hanya mengurung diri di kamar. Sesekali Bu Vanesa menengoknya, karena khawatir.
Bu Vanesa baru selesai memasak. Kebetulan akan memanggil Kiara untuk makan bersamanya.
Tok tok
"Kiara, ayo makan, Nak!" ucapnya sambil mengetuk pintu kamar Kiara.
Kiara membuka pintu kamarnya.
"Aku belum lapar, Tan." ucapnya.
"Jangan menuruti kata lapar, kamu ini sedang hamil. Kasihan anakmu jika belum mendapat asupan. Apa kamu menginginkan sesuatu? Nanti bisa Tante buatkan."
"Kia tidak ingin apa-apa kok, Tan."
"Ya sudah kalau begitu ayo makan,Tante sudah memasak yang sehat-sehat loh."
"Iya, Tan." Kiara menutup pintu kamarnya, lalu mengikuti Bu Vanesa yang sudah melangkah duluan.
Bu Vanesa melihat Kiara yang hanya mengaduk-aduk nasi saja.
"Kia, kalau tidak mau makan sendiri, nanti Tante suapin loh."
"Ini Kia makan kok," Kiara langsung menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Setelah makan malam, Tante mau bicara sama kamu."
"Iya, Tan."
Kini keduanya sudah tidak ada yang bersuara.
Tak lama, keduanya sudah selesai makan malam. Bu Vanesa mengajak Kiara untuk berbicara di ruang keluarga.
Kini keduanya duduk berhadap-hadapan.
"Begini, Kia. Tante ingin kamu bercerita apa masalahmu. Mungkin dengan begitu kamu bisa lebih merasa lega."
Sebenarnya Kiara malu untuk bercerita. Tapi mungkin ada baiknya jika di bercerita. Siapa tahu Bu Vanesa memberinya solusi.
__ADS_1
"Kia tidak tahu kenapa terus memikirkan lelaki itu, Tan. Padahal sebelumnya Kia tidak punya perasaan sama sekali terhadapnya. Kia juga merasa sakit saat melihatnya berci*uman dengan wanita lain," ujar Kiara.
"Jadi laki-laki itu sudah punya kekasih?"
"Iya, Tan. Jauh sebelum melakukan itu ke Kia, mereka sudah berpacaran lama."
"Mungkin kamu suka sama dia, Kia. Lebih baik kamu perjuangkan saja cintamu. Demi anak yang kamu kandung juga."
"Tapi lelaki itu kelihatannya sangat membenci Kia, Tan. Karena Kia dulu gadis culun di kampus."
"Hanya itu?"
"Entah, Kia juga tidak tahu. Tapi yang pasti dia tidak menyukai Kia."
"Tante akan membantumu merubah penampilan. Kamu itu cantik loh, apalagi kalau rambut kamu tidak di kucir dua, dan jangan pakai kaca mata."
"Tapi aku tidak jelas melihat jika tidak memakai kaca mata."
"Nanti Tante ajarin pakai softlens. Oh iya, apa kamu tahu dimana rumah laki-laki itu?"
"Aku tidak tahu," ucap Kiara sambil menggeleng-gelangkan kepalanya.
"Amin, Tan."
Kiara sedikit merasa lega, karena sudah bercerita kepada Bu Vanesa.
°°°°°°
Bu Anara pergi ke dapur untuk mengambil minum. Namun Bu Anara melihat Alan yang sedang membuka isi kulkas.
"Alan, kamu sedang apa tengah malam begini?"
"Aku lapar, Mah. Tapi di kulkas tidak ada apa pun."
"Kamu masak mie instan saja kalau begitu."
"Kok aku ingin nasi goreng ayam yah," ujar Alan.
"Astaga, kamu ini seperti ibu hamil yang sedang ngidam saja. Coba deh cari di luar, siapa tahu ada yang jualan."
"Tapi aku ingin nasi goreng ayam buatan Mamah," kata Alan.
__ADS_1
"Kalau mau buatan Mamah, lebih baik besok saja," ucapnya.
"Kok besok sih, aku maunya sekarang," Alan merengek sambil memegang lengan ibunya.
"Mamah ngantuk, mau lanjut tidur lagi," Bu Anara melepaskan tangan Alan yang bergelayut di lengan tangannya.
Alan mengikuti Bu Anara hingga ke kamar. Dia ikut menerobos masuk ke kamar ibunya.
"Astaga, Alan. Mamah mau tidur loh, kamu kenapa ngikutin segala?"
"Mah, buatin nasi goreng," Alan masih saja merengek.
Pak Andika terusik dari tidurnya saat mendengar suara orang mengobrol di kamarnya. Saat membuka mata, ternyata istri dan anaknya sedang berdebat.
"Kalian lagi ngapain sih?" tanya Pak Andika.
Bu Anara menoleh ke sumber suara.
"Ini anakmu ingin makan nasi goreng jam segini," ucap Bu Anara.
"Mamah buatin deh, Papah berisik dengarnya."
"Tapi sudah malam, Pah. Mamah ngantuk."
"Mah, ayo buatin, Mah." rengek Alan.
"Baiklah," Bu Anara menghela napasnya. Rasanya malas sekali untuk masak jam segini.
Bu Anara dan Alan keluar dari kamar. Alan menunggu di ruang makan sambil memainkan ponselnya.
Setelah berkutat di dapur, akhirnya Bu Anara sudah selesai memasak. Bu Anara memberikan piring berisi nasi goreng ayam kepada Alan.
Alan langsung makan dengan lahap tanpa menawari ibunya.
"Alan, tadi Mamah lupa kasih masako loh," kata Bu Anara.
"Tidak apa-apa, Mah. Ini enak kok," ucapnya.
Bu Anara menatap anaknya dengan heran. Sepertinya Alan memang sedang kelaparan.
°°°°°°°
__ADS_1