
Andika mengerjapkan ke dua matanya. Dia baru ingat jika tadi dia sedang menjaga Adelia. Andika menatap ke segala arah namun tidak ada Adelia disana.
'Astaga, tadi kan aku lagi jagain Adel, tapi kok tidak ada?' batin Andika.
Andika beranjak dari atas tempat tidur. Lalu dia pergi keluar dari kamar. Andika melihat istrinya yang sedang duduk sendirian di ruang keluarga. Lalu dia menghampirinya.
"Sayang, kamu lagi ngapain?" Andika duduk di sebelah istrinya.
"Kak Dika sudah bangun?"
"Sudah nih," ucapnya.
"Tadi kok di suruh jagain Adel tapi malah tidur. Adel hampir akan jatuh loh dari atas tempat tidur. Dia ingin mencoba turun. Untung saja tadi aku datang tepat waktu. Kalau tidak, ah aku tidak bisa membayangkannya," ujar Anara.
"Maaf, sayang. Tadi aku merasa cape jadi rebahan di atas kasur, eh malah ketiduran."
"Nah itu, jangan di ulangi loh Mas. Aku tidak ingin jika terjadi sesuatu dengan anak kita," kata Anara.
"Iya, sayang. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," Andika memeluk istrinya yang sedang duduk di sebelahnya. "Oh iya, sekarang Adel dimana?" Andika kembali melepaskan pelukannya.
"Sedang tidur bareng Eva," ucapnya.
Anara dan Andika masih asyik mengobrol. Namun obrolan ke duanya terhenti saat mereka mendengar ketukan pintu dari luar.
"Biar aku yang bukain," Anara beranjak dari duduknya, lalu dia pergi ke depan.
Ternyata yang datang tukang paket. Anara menerima paket itu, lalu dia kembali masuk ke dalam rumah.
"Sayang, siapa yang datang?" tanya Andika.
"Tukang paket, Mas." ucapnya.
"Kamu belanja online?" tanya Andika.
"Tidak," kata Anara, yang memang merasa tidak berbelanja online.
"Lalu itu apa?" Andika menunjuk kotak yang sedang di pegang oleh istrinya.
"Aku juga tidak tahu, disini tidak ada nama pengirimnya dan juga nama penerimanya."
"Masa sih? Jangan-jangan isinya bom. Kamu buang saja, sayang. Aku takut nih," ucap Andika.
"Astaga, katanya CEO, tapi lihat paket tanpa nama pengirim saja takut," Anara duduk di sebelah suaminya. Lalu dia mulai membuka kotak itu.
Anara menghentikan sejenak tangannya yang akan membuka tutup kotak itu.
"Berani tidak?" Andika memperhatikan istrinya yang terlihat ragu-ragu.
__ADS_1
"Berani kok, siapa yang takut," ke dua mata Anara terbelalak saat membuka kotak itu.
"Aaaaa ..... " Anara menjauh dari kotak itu. Dia takut saat melihat beberapa ekor tikus yang ada di dalam kotak itu.
"Astaga, siapa yang mengirim tikus-tikus ini?" Andika juga beranjak dari duduknya. Dia heran kenapa ada yang mengirimkan paket seperti itu.
"Mas, tangkap semua tikus itu!" Anara melihat tikus ysng tadi ada di dalam kotak, sekarang ada di lantai.
"Bi ... Bibi ... " Andika berteriak memanggil Bi Inem.
"Iya, Tuan." terlihat Bi Inem yang baru sampai di ruang keluarga.
"Bi, tolong tangkap semua tikus itu!" pinta Andika.
"Astaga, kenapa di rumah ini jadi banyak tikus? Sebentar, bibi mau ambil racun tikus dulu," Bi Inem berlalu pergi untuk mengambil racun tikus yang di simpan di gudang belakang.
Semua tikus sudah tertangkap. Bi Inem membuang tikus-tikus itu di luar rumah.
Anara kembali duduk di sofa. Dia merasa lega karena semua tikus sudah tertangkap.
"Siapa kira-kira yang mengirim paket seperti itu?" tanya Anara kepada suaminya.
"Aku juga tidak tahu, sayang. Bagaimana jika orang itu memang sengaja meneror kita?"
"Tapi siapa? Sepertinya aku tidak punya musuh," ucap Anara.
"Sudahlah, sayang. Jangan di pikirkan lagi. Mulai sekarang kita tidak boleh asal menerima paket. Apalagi jika paket tanpa nama seperti tadi, mending di buang saja. Yang tadi biar jadi pelajaran agar kita ke depannya lebih bisa berhati-hati." ujar Andika.
°°°°°°°°°°°
Setelah teror tikus beberapa waktu yang lalu, Anara belum menerima lagi paket aneh tanpa nama. Anara merasa sedikit lega.
Saat ini Anara sedang bersiap untuk pergi. Dia menatap penampilannya di depan cermin.
Andika baru keluar dari kamar mandi. Dia melihat istrinya yang sudah berpakaian rapih.
"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Andika, sambil berjalan mendekati istrinya.
"Aku mau pergi sebentar, Mas. Mau ke rumah Papah. Sudah lama Nara tidak datang kesana," jawab Anara.
"Mau aku temani?" ucap Andika menawarkan diri.
"Tidak usah, Mas. Aku bisa pergi sendiri."
"Baiklah, tapi kamu harus di antar oleh supir loh," kata Andika.
"Kebetulan Pak supir sedang mengantar Bu Sinta."
__ADS_1
"Lalu kamu akan pergi naik apa?"
"Aku sudah pesan taxi online, Mas." kata Anara.
"Syukurlah," ucapnya.
Andika mengantarkan istrinya sampai ke depan rumah. Sebenarnya dia ingin sekali untuk mengantar istrinya. Namun dia masih ada pertemuan penting dengan rekan bisnisnya. Jadi terpaksa, dia membiarkan istrinya pergi sendiri.
Taxi online yang di pesan oleh Anara sudah datang. Dia segera masuk ke dalam.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba ada yang menghadang taxi yang dia naiki. Sehingga taxi itu harus berhenti.
"Ada apa, Pak?" tanya Anara kepada supir taxi.
"Itu di depan ada yang menghadang taxi ini. Sebentar ya, saya mau cek dulu. Siapa tahu itu hanya orang iseng," supir taxi itu membuka pintu mobilnya.
"Iya, Pak." ucap Anara.
Ternyata supir taxi itu di pukuli oleh beberapa preman yang baru keluar dari mobil. Anara melihat kejadian itu dari dalam mobil. Anara memilih untuk turun karena merasa kasihan dengan supir taxi itu.
"Stop! Jangan di pukul lagi! Kalian mau apa, biar saya yang kasih. Uang, perhiasan, atau ... " perkataan Anara terhenti saat dua orang preman itu memegangi ke dua tangannya.
"Apa-apaan ini? Lepasin!" Anara mencoba untuk melepaskan diri. Namun tenaganya kalah, ke dua preman itu tenaganya sangat kuat.
Anara di tarik tangannya agar dia mau masuk ke dalam mobil itu.
Saat ini Anara menjadi sandera mereka. Anara tidak tahu jika dia akan di bawa kemana. Ingin sekali Anara menghubungi suaminya. Namun ke dua tangannya yang di ikat sulit untuk melakukan pergerakan.
Saat ini mobil itu sudah sampai di depan bangunan kosong. Preman itu memaksa Anara untuk turun, lalu membawanya masuk ke bangunan kosong itu.
Bruk
Anara di dorong saat dia sudah masuk ke salah satu ruangan. Lalu preman itu mengunci pintu ruangan itu.
"Bagus juga kerja kalian, sekarang kalian berjaga disini," ucap seseorang yang memerintah ke dua preman itu.
"Baik, Bos." ucapnya.
"Saya akan masuk, karena saya akan memberikan pelajaran untuk Anara." ucapnya, sambil memegang pisau kecil.
Cklek
Anara mendengar pintu itu kembali terbuka. Lalu dia melihat siapa yang datang.
Anara terkejut saat melihat seseorang yang di kenalnya masuk ke ruangan itu.
"Tolong aku, aku di culik," ucap Anara kepadanya.
__ADS_1
"Hahahaha .... Akulah yang menculikmu," ucapnya, sambil menatap tajam ke arah Anara.
••••••