
Sudah tujuh hari usia anak dari pasangan Andika dan Anara. Kebetulan tadi malam Andika mengadakan syukuran kecil-kecilan pemberian Nama. Bayi mungil itu di beri nama Alan Prawira Atmaja.
Andika menghampiri Bu Sinta yang sedang sibuk di dapur.
"Mah, disini ada Bibi loh. Kok Mamah pakai cuci piring segala?" tanya Andika, dari arah belakang ibunya.
"Kamu lihat nih cucian banyak sekali, mana bisa Mamah bersantai-santai saja," ucap Bu Sinta tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Mau aku bantuin?"
Bu Sinta menatap ke arah Andika.
"Boleh, tuh buang sampah!" Bu Sinta menunjuk tempat sampah yang sudah penuh.
"Baiklah," Andika mendekati tempat sampah itu, lalu membawanya keluar dari rumah.
Setelah membuang sampah, Andika juga membantu pekerjaan rumah yang lain. Dia merasa kurang nyaman saat melihat rumah itu terlihat berantakan. Sisa acara semalam memang belum di beresi. Terutama karpet yang sudah di gulung namun masih tergeletak di lantai.
"Ah capenya .. " Andika merentangkan ke dua tangannya saat sudah selesai membereskan ruang keluarga.
"Baru segitu saja sudah cape, sekarang kamu tahu kan bagaimana capenya jadi ibu rumah tangga. Maka dari itu, kamu harus menghargai wanita," ujar Bu Sinta menasehati anaknya.
"Siap, Nyonya." ucap Andika.
"Astaga, ada-ada saja kamu, Dika. Ibu sendiri di panggil Nyonya."
"Hehe becanda doang, Mah. Kalau begitu Dika mau ke kamar dulu, mau mandi nih gerah," Andika mengibas-ngibaskan bajunya di depan ibunya.
"Jangan pegang anakmu dulu loh, tanganmu kotor," Bu Sinta menegur anaknya.
"Siap, Nyonya." setelah mengatakan itu, Andika pergi dari hadapan ibunya.
Andika masuk ke kamarnya. Dia melihat istrinya yang sedang menyu*sui anaknya.
"Sayang, anak kita tidur?" tanya Andika sambil menutup kembali pintu itu.
__ADS_1
"Sttt ... " Anara menaruh jari telunjuknya di bibirnya.
"Eh maaf," Andika seketika diam.
Andika pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Anara melihat suaminya yang sudah keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk.
Andika mendekati istrinya yang sejak tadi terlihat sedang memperhatikannya.
"Sayang, kenapa kamu lihatin aku? Oh iya, sepertinya kamu sudah tidak sabar untuk tidur bersamaku," Andika mendudukan dirinya di pinggir ranjang.
"Mas, basah ih, cepat pakai baju," Anara terkena tetesan air dari kepala suaminya.
Andika mengusap pucuk kepala istrinya, lalu dia beranjak dari atas ranjang.
"Berantakan ih," Anara merapihkan rambutnya yang menutupi wajahnya.
Setelah berganti pakaian dan mengeringkan rambutnya, Andika ikut berbaring di atas ranjang bersama anak dan istrinya.
"Alan tampan kan?"
"Iya, persis sepertiku," ucap Andika.
"Percaya diri sekali," gumam Anara dengan suara lirih.
"Bicara apa tadi? Mas dengar loh," ucap Andika.
"Tidak kok, mungkin Mas Dika salah dengar," ucap Anara.
"Masa sih? Sepertinya tidak."
Anara memilih untuk memejamkan ke dua matanya sebelum suaminya kembali bertanya.
Melihat istrinya akan tidur, Andika juga ikut memejamkan ke dua matanya.
__ADS_1
°°°°°°°°°
Pagi ini Andika dan yang lainnya sedang menikmati sarapan mereka. Namun tak sengaja dia mendengar tangisan anaknya.
"Siapa sih yang menangis?" Andika menoleh ke sumber suara. Ternyata Eva dan Adelia sama-sama sedang menangis.
"Kasihan Ani kewalahan mengurus anakmu, Dik." ucap Bu Sinta yang sedang duduk di depan Andika.
"Nanti Dika ajak Adel ke kantor deh, kasihan pasti bukan hanya Ani saja yang kewalahan, Mamah juga pasti cape bantuin Ani mengurus anakku," ucap Andika kepada Ibunya.
"Nah itu, Mamah juga sedikit cape kalau main sama bocil. Tapi ya itu sudah kewajiban Mamah membantu mengurus mereka. Lagian Mamah tidak mau jika kamu mencari baby sister baru," ujar Bu Sinta.
"Memangnya kenapa?"
"Takut jika nanti Baby sisternya godain kamu. Memangnya kamu tidak lihat berita gosip?"
"Gosip apaan? Lagian Mamah percaya saja sama gosip. Tidak mungkin loh jika aku terpikat sama Baby sister."
"Itu loh gosip seorang suami yang sudah mempunyai anak tiga, tapi terpikat sama Baby sisternya. Kasihan loh anaknya masih kecil-kecil tapi harus pisah dengan ayahnya," ujar Bu Sinta.
"Dika tidak seperti itu loh, Mah."
"Entahlah, tapi Mamah masih ragu jika harus mencari Baby sister baru. Mamah meragukanmu," ujar Bu Sinta.
"Mamah curigaan terus deh. Lagian Dika tidak mungkin macam-macam."
"Kamu pantas di curigai, Dika."
"Ya ya, di masalalu Dika memang nakal, tapi sekarang sudah berubah loh."
"Mamah sudah selesai, Mamah mau bantu Ani mengurus Adel dulu. Biar setelah kamu selesai makan, Adel sudah siap untuk ikut pergi."
"Iya, Mah." Andika menatap kepergian ibunya.
°°°°°
__ADS_1