
Bu Sinta sudah mengatakan kepada Andika, jika Anara akan menikah dengan Rian. Andika terlihat tenang menyikapi perkataan Ibunya. Namun Bu Sinta tahu jika saat ini anaknya sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu yakin tidak cemburu?" tanya Bu Sinta, setelah selesai mengatakan perkataannya.
"Iya, Mah. Memangnya kenapa?"
"Mamah tahu jika kamu mencintai Anara. Pasti tidak semudah itu kamu bisa melupakannya," ucap Bu Sinta.
"Aku tidak apa-apa kok, Mah. Lihatlah sekarang sudah move on." Andika tersenyum menatap Ibunya.
"Syukurlah, Mamah harap kamu juga menemukan jodoh yang terbaik."
"Amin, Mah. Oh iya, niatnya Dika ingin keluar malam ini."
"Tumben kamu pergi pamitan, biasanya juga langsung pergi saja."
"Lagi ingin pamitan, Mah."
"Mamah ijinin, tapi jangan pergi sendiri."
"Iya, Mah. Nanti pergi sama teman kok," ucapnya.
Hanya sebentar mereka mengobrol. Bu Sinta bersiap untuk pergi arisan di rumah teman sosialitanya.
Setelah kepergian Ibunya, Andika pergi ke kamarnya.
Andika menutup pintu kamar lalu menguncinya.
Andika menatap cermin, lalu dia berdiri di depannya.
Pyar
Andika memukul cermin sehingga pecah, bahkan tangannya berdarah.
Andika mengacak rambutnya, pikirannya berkelana entah kemana.
Tring
Andika mendengar ponselnya berbunyi. Lalu dia mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Ternyata Stela yang menghubunginya.
__ADS_1
"Hallo, ada apa?"
"Aku di bawah nih, cepat kamu keluar!" pinta Stela.
"Tunggu sebentar!" Andika meletakan ponselnya kembali. Lalu dia pergi keluar dari kamar.
Andika menuruni tangga dan melihat Stela sedang duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
"Tangan kamu kenapa?" Stela beranjak dari duduknya, lalu mendekati Andika. "Astaga ini darahnya banyak sekali, biar aku obatin yah. Ayo duduk dulu!" Stela menuntun Andika hingga dia duduk di sofa.
"Oh iya, dimana kotak p3k?" tanya Stela.
"Ada di dekat dapur, tanya saja sama Bibi."
"Baiklah," Stela pergi ke dapur lalu bertanya kepada Asisten rumah tangga yang sedang memasak.
Kini Stela sudah kembali menghampiri Andika. Dia mulai mengobati luka yang ada di tangan Andika.
"Jika sedang ada masalah lebih baik cerita saja," pinta Stela.
"Aku tidak apa-apa kok. Oh iya, kapan kekasihmu pulang dari itali?"
"Satu bulan lagi, memangnya kenapa? Tumben sekali tanya kekasih."
"Kenapa kamu lesu seperti itu? Kamu tidak rela melepaskannya?"
"Entahlah, aku tidak tahu. Tapi melihat dia berbahagia, aku juga ikut bahagia."
"Bahagia apanya? buktinya tuh tangan saja sampai kamu lukai."
Andika dan Anara sama-sama tidak tahu jika mereka saling salah paham. Anara mengira jika Andika dan Stela sepasang kekasih. Andika juga mengira jika Anara memang benar tidak mencintainya.
"Tidak usah banyak tanya, lebih baik nanti malam antar aku pergi."
"Kemana?"
"Ke bar, aku mau cari kesenangan."
"Tangan kamu luka loh, lebih baik di rumah saja."
__ADS_1
"Tapi kakiku baik-baik saja, jadi aku bisa pergi."
"Baiklah jika itu maumu, nanti malam aku akan mengantar."
Hanya satu jam Stela berada disana. Saat ini dia berpamitan untuk pulang. Andika mengantar Stela hingga ke depan rumahnya.
Mungkin awalnya mereka berdua dekat, namun hanya sebatas teman saja. Karena Stela juga sudah mempunyai kekasih. Dan Andika juga tidak mencintainya, dia hanya menganggap Stela sebagai teman.
🍀🍀🍀
Tin tin
Andika sedang bersantai sambil menunggu kedatangan Stela. Saat mendengar suara klakson mobil dari luar, dia langsung membuka pintu. Terlihat Stela yang baru keluar dari mobil. Stela menghampiri Andika yang sedang berdiri di depan pintu.
"Ayo pergi!" ajaknya.
"Lets go," Andika menutup pintu rumahnya, lalu dia melangkah pergi mendekati mobilnya.
Mereka berdua pergi dengan menggunakan mobil masing-masing.
Andika dan Stela saling adu kecepatan mengemudi. Mereka mengemudi dengan kecepatan penuh. Hingga saat ini Andika yang lebih dulu sampai di parkiran bar.
Stelah memarkirkan mobilnya. Dia melihat Andika yang sedang berdiri di dekat pintu masuk.
"Wah curang yah, aku di tinggalin."
"Kamu saja yang bawa mobilnya lelet," ucap Andika.
Mereka berdua langsung masuk ke dalam club. Andika duduk di salah satu kursi, lalu dia memesan minuman. Sedangkan Stela pergi untuk ikut menari di depan karena sepertinya sangat asyik.
Andika menghabiskan dua botol minuman. Dia sudah meracau tak jelas. Bahkan dua kancing kemeja teratas sudah terbuka, karena dia sengaja membukanya.
"Anara, jangan tinggalin aku. Aku cinta sama kamu," racau Andika.
Terlihat seorang wanita penghibur datang menghampiri Andika. Wanita itu mencoba untuk merayu Andika. Namun tidak mempan, Andika terus saja meracau.
Dari kejauhan, Stela melihat Andika di dekati oleh seorang wanita. Karena takut jika Andika di jebak atau mabuk parah, Stela memilih untuk menghampirinya. Dan benar saja, saat ini Andika sedang meracau tidak jelas. Stela meminta orang untuk membantunya memapah Andika.
Andika di bawa ke mobil Stela. Sedangkan mobil Andika akan di tinggal disana. Karena saat ini Andika sedang mabuk berat, jadi tidak mungkin jika mengemudi.
__ADS_1
Stela segera mengemudikan mobilnya menuju ke alamat rumah Andika.
°°°°