
Tak terasa sudah tiga bulan usia Alan Prawira Atmaja. Di usia anaknya yang ke tiga bulan itu, Andika mengadakan foto keluarga yang di adakan di rumahnya. Kebetulan dia sudah menyewa fotographer handal untuk mengabadikan momen kebersamaan keluarganya.
Terlihat Bu Sinta yang masuk ke kamar Anara. Kebetulan pintu kamar itu terbuka lebar.
“Nara, kamu sudah siap?” Bu Sinta mendekati Anara yang sedang bercermin.
“Sudah nih,” Anara beranjak dari duduknya.
Anara dan Bu Sinta keluar dari kamar itu. Kebetulan semuanya sudah berkumpul di depan. Mereka terlihat kompak karena memakai pakaian dengan warna yang senada.
Fotographer itu mengarahkan mereka untuk duduk di sofa.Terlihat Eva dan Adelia duduk di tengah. Anara dan Andika duduk di pinggir. Kebetulan Anara juga menggendong Alan. Sedangkan Bu Sinta dan Pak Indra berdiri di samping mereka. Fotographer itu mulai mengambil beberapa foto.
Setelah cukup lelah berfoto, Bu Sinta mengajak semuanya untuk beristirahat. Fotographer yang tadi mengambil foto mereka juga langsung berpamitan untuk pulang. Karena foto yang di ambilnya sudah cukup.
Bu Sinta mengajak mereka untuk duduk di karpet yang telah di sediakan. Mereka duduk melingar disana. Anara memberikan Alan kepada Ani. Ani membawa Alan menuju ke kamar.
Terlihat Bi Inem datang dengan membawa suguhan untuk mereka. Bi Inem menata toples berisi makanan ringan. Lalu Bi Inem kembali ke dapur untuk mengambil makanan ringan yang lainnya.
“Mamah senang sekali loh kita bisa berkumpul seperti ini,” ucap Bu Sinta sambil menatap anak dan cucunya.
“Nara juga senang, Mah. Tapi terasa ada yang kurang. Kak Nesa tidak ada disini,” kata Anara.
Uhuk uhuk
Andika tersedak saat mendengar istrinya mengatakan nama Vanesa.
“Kamu kenapa?” Bu Sinta bertanya kepada Andika.
__ADS_1
”Hanya tersedak saja,” ucap Andika, lalu dia mengambil gelas berisi air putih.
“Hati-hati kalau makan, Mas.” Ucap Anara sambil menatap suaminya.
Andika hanya tersenyum menatap istrinya.
Mereka saling mengobrol, bahkan Andika sudah membahas harta warisan. Padahal anak-anaknya itu masih kecil.
"Nanti kalau anak-anak sudah besar, mungkin Dika akan pindah rumah," ucap Andika.
"Kok gitu?" tanya Bu Sinta.
"Karena ini rumah milik Aldi, jadi nanti akan di wariskan ke Eva. Sekaligus dengan dua cafe itu juga akan pindah tangan atas nama Eva," ucap Andika.
"Lalu Adel dan Alan?" Bu Sinta kembali bertanya kepada anaknya.
"Alan akan mewarisi perusahaanku, sedangkan Adel akan mengurus perusahaan milik Mamah yang selama ini di kelola oleh aku juga," ucapnya.
"Aku yakin," ucapnya.
°°°°°°°°°°°°°°°°
Andika mengajak ke dua anaknya untuk tidur bersamanya. Karena dia kasihan melihat Ani yang kelelahan mengurus mereka berdua.
Hingga menjelang tengah malam Andika masih terjaga. Padahal dia sudah mengantuk sekali, tapi Adel dan Eva masih asyik bermain.
"Sayang, kita tidur yuk! Papah mengantuk nih," terlihat Andika menguap sambil menutupi mulutnya dengan tangannya.
__ADS_1
'Jika seperti ini aku butuh kopi,' gumam Andika.
Andika mendekati anaknya yang sedang bermain di atas karpet.
"Sayang, Papah ke dapur dulu yah mau membuat kopi, kalian jangan nakal," ucap Andika sambil menatap ke dua anaknya.
Andika keluar dari kamar. Sengaja dia membuka pintu kamarnya lebar agar dia bisa mendengar jika anaknya ada yang menangis.
Andika sudah sampai di dapur. Dia melihat istrinya yang sedang minum. Andika berjalan cepat, namun langkahnya tak menimbulkan suara.
Andika memeluk istrinya dari belakang. Karena Anara kaget, air yang ada di gelas tumpah ke bajunya.
"Aduh," Anara menaruh kembali gelas yang sedang dia pegang ke atas meja. Lalu dia menoleh ke belakang. Ternyata suaminya yang mengagetkannya.
"Maaf, sayang. Sinih biar aku lap bajunya," Andika menaruh tangannya di dada istrinya. Kebetulan bagian itu yang basah karena ketumpahan air.
"Astaga, jangan cari kesempatan dalam kesempitan," Anara menepis tangan suaminya.
"Hehe ... " Andika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku pergi saja deh, mau kembali ke kamar," Anara hendak melangkah pergi, namun Andika menahan tangannya sehingga Anara menghentikan langkahnya.
"Buatkan aku kopi! Kasihan anak-anak aku tinggal di kamar. Mereka masih asyik bermain. Malam ini aku begadang," ucap Andika.
"Baiklah, Mas Dika kembali ke kamar saja. Nanti kopinya aku antar," ucap Anara.
"Terima kasih istriku," Dengan cepat Andika mencium baju bagian dada istrinya yang tadi basah. Lalu dia pergi dari sana sebelum istrinya mengomel.
__ADS_1
"Astaga, suami nakal," gumam Anara sambil menatap kepergian suaminya.
°°°°°°°