Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.92


__ADS_3

Menjelang siang, Anara pergi ke kantor suaminya. Dia akan mengajak suaminya makan siang bersama. Setelah makan siang bersama suaminya, niatnya dia akan pulang bersama Adelia. Kebetulan hari ini dia hanya kerja setengah hari.


Saat ini Anara sudah sampai di depan kantor suaminya. Dia turun dari taxi lalu segera melangkah masuk ke kantor itu. Beberapa karyawan yang melihatnya, menyapanya dengan ramah.


Anara sudah berdiri di depan lift. Saat lift terbuka, dia segera masuk. Anara memencet tombol lantai teratas dimana ruangan suaminya berada.


Ting


Pintu lift terbuka, Anara segera keluar. Dia melangkah menuju ke ruangan suaminya. Dia menghentikan langkahnya saat sampai di depan pintu yang bertulisan ruang Direktur.


Kebetulan pintu ruangan suaminya sedikit terbuka. Anara memegang pegangan pintu dan hendak mendorongnya, namun dia mendengar suara gelak tawa. Anara menatap ke dalam ruangan itu. Dia melihat suami dan anaknya sedang bermain. Namun disana juga ada seorang wanita.


'Siapa wanita itu?' batin Anara.


"Mamah ... " Adelia memanggil Anara. Kebetulan tadi tak sengaja menatap ke arah pintu masuk, dan melihat Anara disana.


"Kamu menunjuk-nunjuk apa sih, sayang?" Andika melihat ke arah pandang anaknya. Namun dia tidak melihat keberadaan istrinya.


"Mamah ... "Adelia masih menunjuk tangannya lagi ke arah pintu.


"Mana mungkin Mamahmu kesini, sayang. Mamahmu kan hanya sibuk dengan adikmu," ucapnya.


"Adel sama Tante saja mainnya," ucap Selfi yang merupakan sekretaris Andika, yang baru bekerja beberapa minggu.


Anara sebenarnya masih berdiri di depan pintu. Dia juga mendengar semua ucapan mereka. Tadinya dia akan masuk, namun Anara menunggu beberapa menit. Tapi dia malah mendengar suaminya berbicara seperti itu.


'Apa Mas Dika menganggapku pilih kasih, sehingga dia rela mengajak Adel ke kantor. Padahal Mas Dika juga pasti sangat sibuk. Apa Mas Dika belum menerima Eva sebagai anaknya. Apa perempuan itu sedang dekat dengan Mas Dika?' batin Anara, sambil menduga-duga.


"Aduh ... " tiba-tiba tas slempang Anara jatuh ke lantai. Anara yang sedang bergelut dengan pikirannya, sedikit kaget.


Andika mendengar seperti ada yang jatuh dari depan pintunya.


"Siapa itu?" ucap Andika dengan sedikit berteriak.


Anara mengambil tas miliknya, lalu dia pergi bersembunyi.


Andika beranjak dari duduknya. Dia melangkah mendekati pintu masuk. Saat dia membuka pintu itu, dia tidak melihat siapa pun disana.


"Aneh, tidak ada siapa-siapa," gumam Andika, lalu dia menutup rapat pintu itu.


Anara memilih untuk pergi dari sana.


°°°°°°°


Andika baru pulang dari kantor. Dia menggendong anaknya, dan tangan yang satunya membawa bingkisan makanan.


"Sayang, kamu sudah pulang?" Anara menghampiri suaminya, lalu mengajak Adelia bersamanya.


"Ah, anak Mamah tadi ngapain di kantor Papah?" tanya Anara.

__ADS_1


"Main ama ante tantik," jawab Adelia.


"Tante cantik? Siapa itu?"


"Sekretarisku," ucap Andika, lalu dia melangkah pergi ke kamar


Adelia terus berceloteh. Dia memberitahu Anara, jika Tante cantik sangat baik. Karena sudah menemaninya main seharian, sehingga dia tidak bosan.


"Adel mandi dulu ya, Mamah mandiin," ucap Anara.


"Yey mandi baleng Mamah," Adelia terlihat girang.


Anara membawa Adelia menuju ke kamar. Anara melepas pakaian anaknya, lalu dia menggendongnya dan mengajaknya ke kamar mandi.


Setelah memandikan anaknya, Anara memakaikan piyama panjang ke tubuh anaknya.


"Nah sekarang Adel sudah cantik, lalu mau ngapain?"


"Mau makan bolu dali ante tantik," ucapnya.


"Bolu?"


Adelia menganggukan kepalanya.


Anara mengajak Adelia keluar dari kamar. Mereka pergi ke dapur untuk mengambil bolu yang Adelia inginkan. Sesampainya di dapur, Anara melihat Bi Inem yang sedang memotong kue bolu.


"Bi, itu bolu yang tadi Mas Dika bawa yah?" tanya Anara.


"Kebetulan Adel mau nih," Anara mengambil satu potong kue bolu, lalu memberikannya kepada anaknya.


Terlihat Ani yang sedang melangkah ke dapur untuk mengambil minum.


"Kak Ani, Eva kok di tinggal?"


"Eva sudah tidur, Non. Jadi saya mau istirahat sebentar," ucapnya.


"Nanti malam Adel sama Eva tidur sama Kak Ani ya," pinta Anara.


"Baik, Non." ucapnya.


•••••••••


Anara sedang bercermin sambil menatap penampilannya. Malam ini dia sengaja memakai lingeria berwarna merah.


Cklek


Pintu kamar mandi terbuka. Andika yang baru keluar dari kamar mandi, melihat istrinya yang sedang berdiri di depan meja rias. Terlihat sekali jika pakaian yang di kenakan istrinya sangat tipis.


Anara melihat suaminya dari pantulan kaca. Dia memilih untuk menghampirinya.

__ADS_1


"Mas," Anara membelai dada bidang suaminya.


Andika yang sedang duduk di pinggir ranjang, memilih untuk cuek. Namun lama kelamaan dia terbuai dengan sentuhan istrinya


Srak


Andika menarik lingeria yang di pakai oleh istrinya, sehingga lepas hanya dengan satu kali tarik. Dengan tidak sabaran, dia langsung merebahkan istrinya, lalu mulai melakukan aksinya. Andika memperlakukan istrinya dengan lembut. Namun di sela-sela aktifitasnya, dia mengingat lagi jika istrinya kurang perhatian terhadap Adel.


Andika langsung mempercepat gerakannya dengan kasar.


"Mas aww sakit, pelan-pelan," ringis Anara sambil menahan rasa perih di bagian bawahnya.


Andika tidak mendengarkan istrinya. Dia terus melakukannya dengan kasar hingga dia puas.


Andika merebahkan diri di samping istrinya, saat sudah selesai melakukan hubungan suami istri. Dia menatap punggung polos istrinya yang terlihat bergetar. Kebetulan Anara membelakanginya. Dan saat ini dia sedang menangis dalam diam.


"Terima kasih, aku puas," ucap Andika, lalu dia mulai memejamkan ke dua matanya.


Anara masih terisak hingga menjelang malam. Dia akhirnya tertidur juga karena kelelahan menangis.


Anara hanya tidur selama tiga jam. Dia terbangun karena merasa haus. Anara berajak dari atas tempat tidur. Lalu mengambil air minum yang kebetulan sudah tersedia di atas meja. Setelah minum, Anara memilih untuk membersihkan dirinya.


Setelah selesai membersihkan diri, Anara segera berganti pakaian di dalam kamar.


'Sudah beres, sebaiknya aku bangunin Mas Dika,' Anara menaruh handuk yang tadi dia pakai, lalu dia mendekati suaminya.


"Mas, bangun!" Anara menggoyang- goyangkan badan suaminya.


"Ada di depanmu, Selfi." Andika mengigau dalam tidurnya.


'Selfi, apa dia wanita yang aku lihat kemarin siang. Apa itu nama sekretarisnya Mas Dika,'' batin Anara.


Anara merasa sakit karena suaminya mengigau nama wanita lain.


Dalam mimpi, Andika sedang bersama sekretaris dan kliennya di ruang meeting. Mereka membahas kerja sama. Itu sebabnya dia sampai mengigau. Aktifitasnya setiap hari, terkadang memang suka ke bawa mimpi.


Anara pergi dari kamar, dia akan pergi ke kamar anak-anaknya.


Ani terbangun saat merasakan ada yang duduk di pinggiran ranjang. Ternyata yang datang itu Anara.


"Emm ... " Ani mendudukan dirinya di atas kasur. Sejenak dia mengumpulkan tenaganya sebelum dia turun dari atas kasur.


"Non Nara sudah bangun? Pagi sekali bangunnya?"


"Iya nih, lagi ingin bangun lebih pagi."


"Kalau Non Nara mau disini, aku kembali ke kamar," ucapnya.


"Iya, aku mau disini."

__ADS_1


Ani segera pergi keluar dari kamar itu.


°°°°


__ADS_2