Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode 8


__ADS_3

Adelia mengerjapkan kedua matanya. Dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dia mulai mengingat kejadian tadi sore yang menimpanya. Adelia menatap ke samping, ternyata Rian masih tertidur pulas. Adelia mengepalkan tangannya karena merasa geram dengan Rian.


Adelia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kecil di sisi ranjang. Dia melihat layar ponselnya, ternyata saat ini sudah pukul sebelas malam. Adelia melihat ada banyak pesan masuk. Dia membaca satu persatu pesan itu. Dia membalas pesan yang di kirimkan oleh Ibunya dan Adiknya. Tak lama, Bu Anara kembali membalas pesan Adelia. Bu Anara berniat pergi ke kamar yang di tempati oleh Adelia. Namun Adelia melarangnya dengan alasan akan istirahat.


Setelah selesai membalas semua pesan, dia memilih untuk turun dari atas tempat tidur.


Dengan susah payah, Adelia sedikit menyeret kakinya menuju ke kamar mandi. Dia menangis sejadi-jadinya di bawah guyuran sower.


"Hiks ... hiks ... Apa yang harus aku lakukan?"


Cukup lama menangis, dia merasa tak kuat lagi untuk berdiri, karena bagian pangkal pahanya terasa sakit. Adelia segera menyelesaikan mandinya.


Dengan berhati-hati, dia keluar dari kamar mandi. Lalu mencari pakaian ganti untuk dia kenakan.


Terlihat Rian mengerjapkan kedua matanya. Dia menatap sekeliling kamar yang terasa asing. Lalu tatapannya tertuju pada sosok wanita yang sedang mengenakan pakaian.


'Siapa dia? Kok berambut panjang? Bukankah Eva berambut pendek?' batin Rian.


Rian menyingkap selimutnya. Dia melihat tubuhnya telanjang bulat. Lalu dia teringat kejadian beberapa jam yang lalu. Dia mendapat pesan misterius dari nomor asing yang mengatakan jika itu Clarissa.


Terlintas senyum mengembang di sudut bibir Rian. Dia beranjak dari atas tempat tidur tanpa bersuara. Lalu dia memakai boxer miliknya yang tergeletak di atas lantai. Rian mendekati wanita yang sedang berdiri membelakanginya. Dia mengira jika wanita itu adalah Clarissa.


"Cla, akhirnya kita bertemu lagi," Rian memeluk Adelia dari belakang.


Adelia kaget karena tiba-tiba di peluk dari belakang.


"Lepasin!" Adelia melepaskan tangan Rian yang berada di pinggangnya.


Rian merasa jika suara mantan kekasihnya itu berbeda. Lalu dia memutar tubuh Adelia sehingga menghadapnya. Rian terkejut melihat wanita yang ada di depannya itu ternyata Adelia, bukan Clarissa.


"Kakak ipar, ngapain ada disini?" tanya Rian.


Plak


Adelia menampar pipi Rian.


"Ngapain kamu bilang? Dasar breng*sek," Adelia mendorong tubuh Rian sehingga Rian menjauh darinya.


Adelia membereskan barang bawaannya. Malam ini juga dia akan pulang ke rumah.


Rian masih berdiri mematung di tempatnya. Dia kembali mengingat saat tadi dirinya bangun tidur tanpa busana. Lalu Rian melangkah mendekati ranjang. Dia menyingkap selimut hingga selimut itu terjatuh ke lantai. Betapa terkejutnya saat melihat noda merah di atas seprei. Rian menatap Adelia yang sedang melangkah kesana kemari dengan sedikit menyeret kakinya.


"Astaga, jangan-jangan aku dan Adel ..." Rian membekap mulutnya sendiri karena terkejut.

__ADS_1


Baru juga dia bahagia karena sudah menikahi Eva, namun sekarang malah terkena masalah karena menodai Kakak iparnya sendiri.


Rian melangkah mendekati Adelia.


"Adel, yang terjadi di antara kita ..." perkataan Rian terhenti saat Adelia memotong perkataannya.


"Tidak usah di ingat lagi, aku akan melupakan semuanya," ucap Adelia.


Dia tidak mau jika pernikahan adiknya hancur gara-gara dia. Jadi dia memilih untuk mengorbankan diri tanpa meminta pertanggungjawaban kepada Rian.


"Lalu jika kamu hamil?"


"Tidak mungkin hamil, lagian hanya sekali melakukan itu," ucapnya.


"Baiklah, tapi jika kamu hamil, kamu bilang saja. Nanti kita cari solusinya sama-sama," ucap Rian.


"Iya," hanya itu yang di katakan oleh Adelia. Lalu Adelia mengambil ponsel miliknya dan dimasukan ke dalam tas.


"Aku pulang dulu," Adelia melangkah pergi melewati Rian.


"Biar aku antar," ucap Rian sambil memegang tangan Adelia.


"Nanti ada yang curiga jika kita keluar sama-sama dari kamar ini," Adelia melepaskan tangan Rian yang memegang tangannya.


"Kamu duluan yang keluar, nanti baru aku."


Rian merasa kasihan melihat Adelia yang sedikit kesusahan saat berjalan.


Lima menit kemudian, Rian keluar dari kamar itu. Dia langsung pergi ke depan hotel. Namun dia tidak melihat keberadaan Adelia. Lalu dia memilih untuk pergi ke parkiran.


Baru juga keluar dari gerbang hotel, Rian melihat Adelia yang sedang duduk di pinggir jalan. Dia menghentikan mobilnya lalu keluar.


"Adel, ayo ikut!" Rian mengulurkan tangannya, namun Adelia tidak membalas uluran tangannya.


"Merepotkan saja," Rian sedikit berjongkok lalu menggendong Adelia.


"Lepasin! Kamu apa-apaan sih?" Adelia memukul dada bidang Rian.


"Diam, atau aku jatuhkan disini!"


Seketika Adelia diam, dia membiarkan Rian menggendongnya.


Saat ini Adelia dan Rian sudah berada di dalam mobil. Rian segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Adelia.

__ADS_1


"Kenapa kamu mau mengantar aku? Kenapa tidak bersama istrimu saja? Bukankah ini malam pertama kalian?"


"Ngapain aku sama Eva? Lagian aku sudah malam pertama dengan wanita lain. Jika aku juga menidurinya, itu berarti aku lelaki jahat karena sudah meniduri Kakak beradik sekaligus," kata Rian, tanpa mengalihkan arah pandangnya.


"Kamu cinta tidak sama Eva?"


"Sedikit, aku menyukainya karena Eva mirip dengan mantan kekasihku."


"Yang kamu sebut Cla itu ya?"


"Benar, namanya Clarissa."


"Jadi kamu menikahi Eva hanya sebagai pelampiasan saja?"


"Tidak," jawab Rian.


"Lalu?"


"Sudahlah, aku malas membahas itu," Rian mencoba menghindar agar Adelia tak lagi bertanya mengenai mantan kekasihnya.


°°°°°°°°°°


Sejak tadi Eva menangis karena dia di tinggalkan di malam pertamanya. Suaminya yang ijin ingin menemui temannya, namun sampai sekarang belum kembali juga.


“Sudahlah, mungkin suamimu memang sedang ada urusan di luar,” Bu Anara mencoba menenangkan Eva.


“Tapi ini lama sekali, Mah. Mas Rian pergi dari sore loh,” ucap Adelia yang masih terisak.


“Mah, Adel kemana? Kok Papah tadi ke kamarnya sudah kosong?” tanya Pak Andika yang baru memasuki kamar pengantin Eva.


“Tadi sih katanya pulang duluan. Barusan Mamah dapat pesan dari dia,” ucap Bu Anara.


“Kok Papah tidak tahu ya,” gumam Pak Andika.


“Tadi saat Papah cari Adel, masuk ke kamarnya?” tanya Bu Anara.


“Tidak, tadi Papah bertemu dengan petugas hotel yang baru keluar dari kamar itu. Lalu Papah bertanya keberadaan Adel."


“Eva, coba kamu telfon suamimu, siapa tahu di angkat,” ujar Bu Anara memberikan saran.


“Tadi juga sudah, Mah. Tapi tidak di angkat.”


“Coba deh Mamah yang telfon,”Bu Anara mengambil ponsel milik Eva yang tergeletak di pinggir ranjang, lalu menghubungi nomor Rian.

__ADS_1


Ternyata panggilan telfon itu di angkat. Bu Anara melontarkan berbagai macam pertanyaan kepada Rian. Rian menjawab dengan alasan jika temannya mengajaknya pergi keluar. Walaupun sedikit janggal, namun Bu Anara mencoba untuk mempercayai alasan menantunya.


°°°°°°°


__ADS_2