
Waktu berlalu begitu cepat. Saat ini Melisa sudah melahirkan. Dan saat itu juga Andika dan Vanesa datang untuk meminta agar Melisa mau membiarkan anaknya dan Andika melakukan tes DNA.
"Kenapa Mas Andika datang sama dia?" tanya Melisa.
"Karena ini istri saya," ucap Andika.
"Lebih baik kamu tanda tangani surat persetujuan ini," Vanesa memberikan selembar kertas yang merupakan surat persetujuan tes DNA antara Andika dan anak yang baru di lahirkan oleh Melisa.
"Apa-apaan ini? Saya yakin kok jika anak saya ini anak kandung Andika."
"Saya tidak bisa percaya dengan perkataan kamu kalau tanpa bukti," ucap Vanesa.
"Buktinya kami berdua pernah melakukan hubungan," ucap Melisa.
"Cepat tanda tangani! Atau aku ambil paksa anakmu," pinta Vanesa, agar Melisa mau menurut dengannya.
"Jangan, ah ... " Melisa memegangi perutnya karena merasa sakit.
Vanesa menatap suaminya yang berdiri di sebelahnya.
"Mas, dia kenapa?"
"Aku juga tidak tahu," ucap Andika.
Vanesa melihat darah yang ada di pakaian Melisa.
"Sepertinya dia pendarahan, cepat Mas panggil Dokter!" pinta Vanesa.
"Iya," Andika keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru.
Terlihat suami dari Melisa yang baru datang. Kebetulan dia baru saja mencari uang tambahan untuk biaya lahiran istrinya.
__ADS_1
"Ada apa ini? Sayang, kamu kenapa?" tanya Doni kepada istrinya.
"Perutku sakit sekali, Awhh ... " Melisa memejamkan matanya karena merasa sakit.
Doni menatap Vanesa yang sedang berdiri di dekat ranjang istrinya.
"Kamu apakan istri saya?" Doni terlihat marah.
"Saya tidak berbuat apa-apa kok," ucap Vanesa.
Doni hendak berucap lagi kepada Vanesa. Namun tak jadi saat melihat kedatangan Dokter.
"Dok, tolong periksa istri saya!" pinta Doni.
"Baik, silahkan semuanya keluar!" pinta Bu Dokter.
Semuanya keluar dari ruangan itu. Bu Dokter juga meminta Doni untuk memanggilkan dua orang perawat.
Tak lama pintu itu terbuka, Dokter menghampiri mereka.
"Dengan keluarga pasien?" tanya Dokter.
"Saya suaminya," ucap Doni.
"Dengan berat hati saya harus mengatakan ini," sejenak Bu Dokter menghentikan perkataannya. "Istri Bapak tidak bisa di selamatkan karena pendarahan," ucapnya.
"Apa? Ini tidak mungkin," Doni tidak bisa lagi menahan air matanya.
"Sepertinya Ibu Melisa syok. Harusnya jika ibu yang baru melahirkan itu jangan di bebani dengan perkataan yang membuatnya syok," ucap Dokter.
Doni menatap tajam ke arah Vanesa.
__ADS_1
"Kamu apakan istri saya?" Doni mendekati Vanesa dan hendak mencekik lehernya.
"Stop! Jangan asal menyalahkan orang," Andika memegang kedua tangan Doni agar tidak bisa berkutik.
"Maaf Pak, Bu. Jangan bikin keributan di rumah sakit. Nanti saya panggilkan petugas keamanan jika kalian masih ribut seperti ini," ucap Bu Dokter.
"Dok, apa saya boleh melihat jenazah istri saya?" tanya Doni.
"Boleh, Pak." ucapnya.
Doni masuk ke ruangan itu, di ikuti oleh Andika dan Vanesa. Vanesa terus memegang lengan suaminya. Dia begitu takut jika di salahkan lagi oleh Doni.
°°°
Dengan sedikit pemaksaan, kini Andika sudah tes DNA dengan anaknya Melisa. Awalnya Doni terus melarang, namun demi kebaikan untuk semuanya, akhirnya dia mengijinkannya. Setelah tes DNA, ternyata Andika dan bayi laki-laki itu hasilnya tidak cocok. Itu berarti anak itu bukan anak kandung Andika.
Andika merasa lega saat tahu jika itu bukan anaknya. Itu berarti tidak akan ada masalah baru lagi di pernikahannya. Namun Doni tidak bisa memaafkan Andika dan Vanesa. Karena dia mengira jika sepasang suami istri itu yang sudah menyebabkan istrinya meninggal. Sebenarnya dia ingin menuntut, tapi karena dia orang susah, dia tidak punya uang cukup untuk membayar pengacara.
Saat ini Andika,Vanesa, dan Pak Indra sedang duduk bersantai di ruang keluarga.
"Maaf Pah, Nes, ada yang mau aku bicarakan," ucap Andika.
"Bicaralah!" ucap Pak Indra.
"Niatnya aku ingin sedikit membantu kebutuhan anaknya Melisa. Itu juga kalau Papah dan Nesa setuju," ucap Andika.
"Aku setuju, Mas. Kita anggap ini sebagai balas budi karena kita tak sengaja membuat Melisa syok dan meninggal."
"Sudahlah, sayang. Jangan ingat-ingat itu lagi," ucap Andika sambil memegang tangan istrinya.
Setelah selesai berbicara, Andika mengajak istrinya untuk beristirahat di kamar.
__ADS_1
°°°°