
Andika merasa jika semakin lama istrinya semakin aneh saja. Seperti pagi ini, istrinya memutar lagu rock sambil joget. Andika hanya memperhatikan istrinya.
"Sayang, jangan joget terus! Kasihan loh anakmu," ucap Andika.
"Ini juga kemauan anakku," jawabnya.
"Tapi pelan-pelan saja jogetnya," pinta Andika.
"Baiklah," Anara menurut dengan suaminya.
Tok tok
Andika mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar. Dia beranjak dari duduknya, lalu pergi untuk membuka pintu kamarnya.
Ternyata yang datang Bu Sinta.
"Ada apa, Mah?" tanya Andika.
"Kamu lagi dengerin musik apaan sih bising sekali?"
"Itu Nara lagi dengerin musik rock," jawabnya.
"Astaga, anakmu yang sekarang aneh sekali," ujar Bu Sinta.
"Nah itu, menurut Dika juga aneh. Masa ibu hamil sukanya joget rock, bukan hanya itu, Mah. Nara jadi lebih suka berpakaian sexy."
Bu Sinta menerka-nerka seperti apa cucunya kelak.
"Jangan-jangan anak kamu itu gadis tomboy," ucap Bu Sinta.
"Kalau gadis tomboy mana mungkin suka pakai pakaian yang sexy. Kalau suka musik rock, sih itu mungkin."
"Kata kamu anakmu itu laki-laki, bisa jadi dia pecinta wanita sexy dan musik rock," ucap Bu Sinta.
"Astaga, masa sih aku punya anak modelan begitu?"
Plak
Bu Sinta memukul bahu anaknya. "Sebelum bicara modelan begitu, ngaca dulu dong. Kamu juga dulu seperti itu," ucapnya.
"Masa nurun ke anak sih?"
"Itu sih pasti, ada pepatah mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itu berarti bisa saja sifatmu yang dulu akan menurun ke anakmu. Tapi semoga saja sih tidak."
"Jangan sampai deh," ucap Andika.
"Ah sudahlah, Mamah pergi dulu. Bising sekali disini," ucap Bu Sinta sambil melirik ke dalam kamar anaknya.
Setelah kepergian Bu Sinta, Andika juga kembali masuk ke kamar. Dia mendekati istrinya lalu menggendong tanpa persetujuannya.
"Ih Mas, apaan sih?" Anara memukul lengan suaminya. Dia tidak ingin di gendong.
__ADS_1
Andika merebahkan istrinya di atas kasur.
"Kasihan anak kamu pasti kecapean," Andika mengusap kening istrinya yang berkeringat.
"Anakku kuat kok, Mas." ucapnya.
"Aku mau pergi ke kantor, kamu mau ikut!" ajak Andika.
"Ikut, tapi aku belum mandi."
Andika kembali menggendong istrinya.
"Mau bawa aku kemana?" Anara mengalungkan tangannya di leher suaminya.
"Ke kamar mandi, bukankah kamu bilang belum mandi. Ya sudah, biar aku yang mandiin," ucap Andika.
"Astaga, pasti mau nyari kesempatan."
"Tahu saja," Andika tersenyum menatap istrinya, lalu dia melanjutkan langkahnya.
°°°°°°°°°°
Anara dan Andka sudah terlihat rapih. Anara memakai baju ala wanita kantoran. Andika membiarkan istrinya berpakaian seperti itu. Yang penting tidak memakai pakaian yang terlalu sexy.
Bu Sinta melihat anak dan menantunya yang baru keluar dari kamar. Lalu Bu Sinta menghampiri mereka.
"Nara, kamu kok rapih sekali? Kamu mau kerja?" tanya Bu Sinta.
"Iya, Mah. Kerja mengawasi Mas Dika," ucapnya.
"Biarkan saja, Mah." ucap Andika.
"Mamah ... " terlihat Adelia sedang berjalan menghampiri mereka.
"Sayang, sinih!" Anara tersenyum menatap anaknya.
Adelia memeluk kaki Anara.
"Mamah main," ucap Adelia sambil menarik-narik rok yang di pakai oleh Anara.
"Ayo! Tapi di kantor Papah ya," ucap Anara.
Adelia menganggukan kepalanya.
Anara menatap Bu Sinta yang masih berdiri disana.
"Mah, Adel sama Eva sudah mandi belum?" tanya Anara.
"Sudah, kamu mau ajak mereka ke kantor?" tanya Bu Sinta.
"Iya, Mah." jawabnya.
__ADS_1
Setelah selesai mengobrol, Anara memanggil Ani untuk segera menyiapkan makanan anak-anak. Sedangkan Andika dan Bu Sinta pergi ke ruang makan.
Anara pergi ke ruang makan dengan menuntun tangan ke dua anaknya.
"Wah cucu-cucu Nenek sudah cantik sekali," Bu Sinta beranjak dari duduknya, lalu menggendong Adelia.
Adelia di dudukan di sebelah Bu Sinta. Sedangkan Anara mendudukan Eva di sebelahnya.
Ani datang dengan membawa makanan untuk Adelia dan Eva. Setelah itu, dia pergi untuk bersiap. Karena nanti akan ikut dengan Anara dan Andika ke kantor.
°°°°°°°°°
Saat ini mereka sudah sampai di kantor. Ani mengajak Adelia dan Eva pergi ke ruang bermain yang ada di sebelah ruangan Andika. Sedangkan Anara ikut suaminya ke ruangannya.
"Sayang, pagi ini aku ada meeting. Kamu mau tunggu aku disini atau mau ke sebelah dulu sama anak-anakmu?" tanya Andika.
"Mau ikut," jawab Anara.
"Kamu sama anak-anak saja, sayang. Bukankah tadi di rumah kamu bilang mau main sama anak-anak," ujar Andika, mengingatkan perkataan istrinya tadi pagi.
"Iya sih, tapi nanti saja. Aku mau ikut sama Mas Dika dulu."
"Baiklah, ayo!" Andika melangkah keluar ruangan diikuti oleh istrinya.
Mereka berdua memasuki ruang meeting. Terlihat beberapa perwakilan karyawan yang sudah duduk di tempatnya masing-masing.
Anara mengambil satu kursi yang kosong. Lalu dia menaruhnya di sebelah tempat duduk suaminya.
Andika mulai memimpin meeting. Anara diam sambil duduk. Lama kelamaan dia merasa mengantuk.
Andika menatap istrinya yang sedang tidur. Dia hanya tersenyum, lalu dia melanjutkan lagi meetingnya.
Meeting telah selesai, Andika menggendong istrinya keluar dari ruangan itu. Kebetulan Anara masih tidur. Dia tidak sadar jika saat ini dia sedang di gendong oleh suaminya.
Andika sudah sampai di ruangannya. Dia masuk ke kamar pribadinya, lalu merebahkan istrinya disana. Namun baru juga direbahkan Anara terbangun.
"Kenapa aku disini?" Anara menatap ke sekelilingnya.
"Kamu ketiduran di ruang meeting, sayang. Jadi aku menggendongmu sampai kesini," kata Andika.
"Benarkah?"
"Iya, sayang." jawabnya.
Anara beranjak dari atas tempat tidur. Dia tidak bisa tidur begitu saja tanpa tahu anak-anaknya baik-baik saja atau tidak.
"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Andika.
"Aku mau lihat anak-anak," jawabnya, lalu Anara melangkah pergi dari sana.
.....
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE
BIAR NULIS.NYA SEMANGAT HEHE ....