
Hanya dua hari Anara dan yang lainnya berada di purwokerto. Mereka memutuskan untuk kembali ke ibukota karena Andika yang harus kembali mengurus pekerjaannya. Anara hanya menurut saja. Lagian keinginannya untuk membeli mendoan sudah terpenuhi. Andika juga sudah membeli oleh-oleh untuk mereka bawa pulang.
Saat ini Anara dan yang lainnya sudah cek out. Mereka akan pergi ke bandara. Andika mengendarai mobil sendiri. Kebetulan mobil itu akan di ambil langsung ke bandara oleh karyawan tempat dia menyewa mobil itu.
Setelah menempuh perjalanan yang tak terlalu lama, kini mereka sudah sampai di depan bandara. Mereka turun dari mobil dan langsung menurunkan koper bawaannya. Andika menghubungi karyawan tempat dia menyewa mobil. Ternyata orang yang akan mengambil mobil itu sudah berada di perjalanan.
Bu Sinta menatap anaknya yang baru selesai bertelfonan.
"Dika, kita take off jam berapa?" tanya Bu Sinta.
"Tiga puluh menit lagi, Mah." jawab Andika.
Tin tin
Sebuah motor berhenti di depan mobil yang tadi di kendarai oleh Andika. Tampak dua lelaki turun dari motor, lalu mendekati Andika.
"Maaf, Pak Andika. Kami datang untuk mengambil mobil," ucap salah satu dati mereka.
Andika mengambil seuatu dari saku celananya.
"Ini kuncinya," Andika memberikan kunci mobil yang sedang dia pegang.
"Terima kasih sebelumnya, karena Pak Andika sudah berkenan memakai jasa dari perusahaan kami. Semoga saja Pak Andika tidak bosan-bosan untuk menyewa lagi jasa dari perusahaan kami," ucap salah satu dari dua lelaki itu.
"Sama-sama, mobilnya enak di pakai. Cukup nyaman di bawa bepergian," kata Andika.
__ADS_1
Ke dua lelaki itu segera berpamitan, lalu pergi dari sana. Yang satunya membawa mobil, dan yang satunya mengendarai motor yang tadi mereka pakai sebagai kendaraan menuju ke bandara.
Kebetulan Andika juga sudah membayar biaya sewa mobil melalui rekening. Jika saat menyewa lewat online, membayarnya juga lewat online. Andika memilih yang praktis saja, yang penting kualitas terjamin.
Cukup lama mereka menunggu. Terdengar pemberitahuan untuk para penumpang jurusan jakarta untuk segera bersiap, karena pesawat sebentar lagi akan take off. Andika dan keluarganya segera menaiki pesawat.
°°°°°°°°°
Lagi-lagi Anara tertidur selama perjalanan. Padahal perjalanan hanya tujuh puluh menit saja, namun bagi Anara, perjalanan selama itu membuatnya merasa mengantuk.
Andika menatap Bu Sinta yang sedang memangku Eva. Andika juga melihat jika ke dua anaknya sama sekali tidak tidur selama perjalanan.
Pesawat yang mereka naiki sudah mendarat dengan selamat. Semua penumpang satu persatu mulai turun dari pesawat.
"Kita keluar yuk! Supir yang menjemput kita sudah ada di depan bandara," ucap Andika.
"Ayo, Nak!" sahut Bu Sinta.
Mereka berjalan menuju ke luar bandara. Ternyata supir yang menjemput mereka sedang berdiri di luar mobil. Lalu supir itu membantu memasukan barang bawaan majikannya ke dalam bagasi.
Pak supir segera mengemudikan mobilnya.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, mereka sudah sampai di depan rumah. Andika dan yang lainnya segera turun. Mereka akan langsung beristirahat karena merasa cukup lelah.
"Dika, kamu bantuin bawa barang bawaan kita deh. Kasihan tuh Bi Inem bawa koper milik kita sendirian," ujar Bu Sinta kepada anaknya. Kebetulan Bu Sinta melihat Bi Inem yang sedang membawa koper melewati mereka.
__ADS_1
"Hm, baiklah," Andika pergi dari hadapan ibunya, lalu dia keluar rumah.
Bu Sinta bergabung dengan Anara yang sedang duduk di sofa bersama anak-anaknya.
"Adel lagi ngapain itu?" Bu Sinta melihat cucunya yang sedang memegang perut Anara, bahkan Adel mendekatkan telinganya ke perut buncit itu.
"Ini loh, Mah. Adel tadi tanya kok perut Mamah besar seperti balon. Terus isinya apa?"
"Hahaha ... Adel ada-ada saja," Bu Sinta sedikit tertawa mendengar perkataan Anara. "Lalu, kamu jawab apa?"
"Nara bilang kalau di dalam ada dedek bayinya. Terus dia nanya, dedek bayi itu seperti apa?"
"Astaga cucu Nenek bikin ngakak saja. Lalu kamu jawab apa lagi?"
"Nara bilang gini, dedek bayi itu seperti Adel dan Eva, tapi badannya lebih kecil."
"Adel ada-ada saja," Bu Sinta merasa kagum kepada cucunya yang masih kecil tapi sudah terlihat pintar.
"Sepertinya Adel bakalan sayang deh sama adiknya. lihat saja tuh," Anara menunjuk Adelia yang sedang mengusap-usap perutnya.
"Adel semakin lucu saja sih," Bu Sinta mendekati Adelia, lalu menggendongnya.
Adelia yang ada di gendongan Bu Sinta tak mau diam. Dia inginnya di turunkan lagi dari gendongannya.
°°°°°°°
__ADS_1