
Rian memegang kedua tangan Adelia yang menutupi wajah. Spontan Adelia membuka telapak tangannya. Dia menatap Rian yang saat ini berdiri di depannya.
"Lepasin!" Adelia mencoba untuk melepaskan tangannya yang di pegang oleh Rian.
"Jangan gerak-gerak, nanti handukku jatuh," ucap Rian.
Adelia diam, dia menatap ke arah handuk yang sedang di kenakan oleh Rian.
"Itu tidak me--" kedua mata Adelia terbelalak saat melihat handuk itu jatuh ke lantai. Dia buru-buru mengalihkan arah pandangnya.
"Kamu kenapa?" tanya Rian.
Adelia menunjuk ke arah bawah, tanpa mengalihkan arah pandangnya. Karena saat ini dia menoleh ke samping.
Rian menatap ke bawah, ternyata handuknya jatuh ke lantai. Rian melepaskan tangan Adelia yang sedang dia pegang. Lalu kembali memakai handuk itu untuk menutupi tubuhnya.
"Aku sudah pakai handuk kok, tidak usah pura-pura malu."
Adelia kembali menoleh sehingga sekarang dia dan Rian saling tatap.
"Siapa yang pura-pura malu, yang ada kamu tuh yang tidak tahu malu," ucap Adelia.
Rian tidak menimpali perkataan Adelia. Dia fokus menatap ke perut Adelia yang sudah terlihat membuncit.
"Lihatin apa kamu?" Adelia menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Tidak kok," perlahan Rian mendekati Adelia.
Adelia yang melihat Rian berjalan mendekatinya, dia segera mundur beberapa langkah. Hingga kini dia tidak bisa berkutik karena terpojok di tembok.
__ADS_1
"Stop!" Adelia menyuruh Rian untuk jangan terlalu dekat.
Adelia menatap Rian yang kini berjongkok. Dia takut sekali jika Rian akan berbuat macam-macam. Apalagi Rian hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh polosnya.
Cup
Rian mencium perut Adelia cukup lama. Awalnya Adelia mau mendorong Rian agar menjauh. Namun dia tidak tega, sehingga dia membiarkan Rian mencium perutnya.
"Sudah ih geli," Adelia menyingkirkan wajah Rian dari perutnya.
Rian kembali berdiri, dia menatap wajah cantik Adelia. Lalu Dia meraba wajah cantik itu. Namun Adelia menepis tangan Rian.
"Jangan galak-galak, nanti kamu nambah cantik," ucap Rian menggoda Adelia.
"Kamu tuh jangan nakal, tidak sopan sekali pegang-pegang."
"Ih ngeselin, kamu itu memang tidak cocok jadi adik iparku. Mana ada adik ipar tidak punya akhlak seperti kamu," Adelia memukul dada bidang Rian dengan kedua tangannya.
"Aku memang tidak mau jadi adik iparmu. Tapi maunya jadi suamimu," ucap Rian.
"Jangan mimpi," Adelia berbalik arah. Lalu berjalan mendekati pintu keluar.
Rian tersenyum sambil menatap Adelia yang berjalan semakin menjauh darinya. Lalu Rian mencari pakaian untuk dia kenakan.
Adelia membuka pintu, dia melihat Reno sedang berdiri di depan pintu.
"Dompetnya sudah ketemu, Kak?" tanya Adelia.
"Dompetnya ada di saku, tidak jadi hilang."
__ADS_1
"Oh jadi kalian berdua sekongkol mau ngerjain aku."
Reno mengeryitkan keningnya.
"Ngerjain apa? Aku tidak tahu apa-apa," ucapnya.
"Kamu nyuruh aku masuk ke kamar, tapi ternyata di dalam ada Rian."
"Oh, itu sih bukan sekongkol, tapi memang aku sengaja menyuruh kamu masuk duluan. Siapa tahu kamu mau kangen-kangenan dulu sama Kak Rian."
"Kalian berdua ngeselin," setelah mengatakan itu, Adelia berlalu pergi.
"Woy bumil, jangan pergi!" teriak Reno, namun Adelia tetap melanjutkan langkahnya.
Rian sudah selesai berganti pakaian. Dia melihat Reno memasuki kamar.
"Ren, dimana Adel?" tanya Rian.
"Sudah pergi tuh," ucapnya.
"Dia tinggal dimana?" Rian kembali bertanya.
"Di apartemen, Kakak mau kesana? Bagus tuh kalau Kakak nyamperin dia. Sekalian saja itu koper dibawa. Biar Kakak tidak tidur disini, sempit tahu."
"Ada benarnya juga ide kamu," Rian tampak menyunggingkan sudut bibirnya sambil merencanakan sesuatu. "Kasih aku alamatnya!" pinta Rian.
"Siap, aku kirim ke ponsel Kakak," Reno mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Lalu dia mencari nomor ponsel Rian, dan langsung mengirimkan alamat tempat tinggal Adelia.
Setelah mendapat alamat dari Reno, kini Rian bersiap untuk pergi. Rian akan pergi diantar oleh supir yang sudah Reno sewa, yang biasa mengantarnya bepergian selama disana.
__ADS_1