Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.51


__ADS_3

Rian mengajak Adelia pergi ke rumah yang akan dia beli. Kini keduanya sedang bersiap untuk pergi. Rian yang sedang memangku Raffa, dia menatap istrinya yang sedang memoleskan make up ke wajahnya.


"Sayang, jangan tebal-tebal pakai make upnya. Nanti gawat loh kalau kamu terpincut oleh lelaki lain," ucap Rian sambil menatap istrinya.


"Tidak akan, lagian siapa yang mau naksir istri orang," ucap Adelia tanpa mengalihkan arah pandangnya dari depan cermin.


"Jaman sekarang istri orang itu lebih menggoda loh," kata Rian yang kini masih tetap menatap istrinya.


"Oh jadi Mas Rian kepincut istri orang," Adelia menatap suaminya dengan tatapan tajam.


"Astaga, bukan itu maksudku," Rian merutuki dirinya sendiri karena salah bicara, sehingga istrinya menjadi salah paham.


"Awas saja kalau Mas Rian macam-macam, aku cari berondong sekalian."


"Jangan dong, sayang. Mas lebih menggoda dari pada berondong."


"Kata siapa?"


"Iya deh iya, berondong lebih menggoda dari pada Mas," setelah mengatakan itu Rian memilih untuk diam. Karena jika berdebat dengan istrinya tidak akan selesai-selesai.


Adelia mengambil tas selempang miliknya, lalu dia memakainya.


"Ayo kita pergi!" ajak Adelia sambil beranjak dari duduknya.


Rian menggendong anaknya, lalu dia mengikuti istrinya yang sudah melangkah duluan keluar dari kamarnya.


Bu Anara melihat anak dan menantunya yang baru keluar dari kamar, dan penampilan mereka sudah terlihat rapi.


"Kalian mau kemana?" tanya Bu Anara.


"Kita mau pergi melihat rumah baru, Mah." jawab Adelia.


"Kalian mau beli rumah?" tanya Bu Anara.


"Iya, Mah. Rian niatnya ingin membeli rumah," ucap Rian.


"Yah, rumah ini jadi sepi dong kalau tidak ada kalian."

__ADS_1


"Masih ada Eva sama Alan loh, Mah."


"Tapi tetap saja, kalau satu anak Mamah tidak ada, rasanya ada yang berbeda," ucap Bu Anara.


Hanya sebentar mereka mengobrol. Adelia dan Rian segera berpamitan untuk pergi.


Bu Anara melihat Alan yang sedang menuruni tangga.


"Mau kemana kamu?" tanya Bu Anara sambil menatap Alan.


"Alan mau keluar, Mah. Jenuh jika di rumah terus."


"Tidak boleh, bukankah kamu lupa jika sekarang kamu di batasi keluar masuk rumah sebelum kamu menikah. Dan juga, baru kemarin kamu pergi, jadi tidak usah pergi lagi."


"Astaga, aku bukan anak gadis, Mah. Kok Mamah larang-larang aku keluar?"


"Kalau kamu keluar, kamu bisa saja tuh merusak anak gadis orang. Jadi lebih baik di rumah saja, jangan macam-macam.


Alan hanya menunduk lesu, sekarang dia tidak sebebas dulu. Sekarang mau pergi saja susah.


"Jangan hanya memikirkan main, senang-senang, main game. Tapi berpikirlah lebih dewasa. Sebentar lagi kamu akan menikah loh. Dari pada pergi keluyuran tidak jelas, mending belajar bisnis saja sama Papahmu."


"Iya, Mah. Tapi nanti, udahlah Alan mau ke kamar saja."


Bu Anara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap kepergian anaknya.


•••••••


Adelia dan Rian sudah sampai ke rumah mewah yang akan di beli oleh Rian. Mereka melangkah masuk ke dalam rumah itu mengikuti orang yang menjual rumah. Kebetulan rumah itu baru selesai di bangun, dan benar-benar masih baru.


Mereka berkeliling dan melihat semua ruangan yang ada di rumah itu. Adelia dan Rian menyukai interior rumah itu. Apalagi desainnya terlihat mewah dan kekinian.


"Bagaimana Pak Rian, Bu Adel, apa kalian tertarik dengan rumah ini?"


"Kami tertarik, Pak." jawab Rian.


Kebetulan Rian dan Adelia sebelumnya sudah berdiskusi.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu saya akan urus surat-suratnya dan pembayarannya."


"Kami serahkan ke Bapak saja, kami hanya terima beres," ucap Rian.


"Baik, terima kasih, Pak, Bu." ucapnya, lalu berjabat tangan dengan Rian dan Adelia.


Setelah melihat-lihat rumah, dan sudah memutuskan akan membelinya, Rian dan Adelia segera pulang.


"Sayang, kita mau mampir kemana dulu?" tanya Rian.


"Langsung pulang saja, Mas. Nih Rafa sudah mengantuk," Adelia melihat anaknya yang sedang menguap.


"Baiklah," Rian membukakan pintu mobil untuk istrinya. Setelah istrinya masuk, dia kembali menutup pintu mobil itu.


Rian langsung saja mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumah itu.


Tak terasa sudah cukup lama mengemudi, kini mobil yang di kendarai Rian sudah sampai di depan rumahnya. Rian dan Adelia segera turun dari mobil. Mereka berjalan berdampingan menuju ke rumah. Kebetulan pintu rumahnya terbuka lebar, jadi mereka langsung saja masuk.


Rian dan Adelia mendengar Bu Anara dan Eva yang sedang mengobrol.


"Lagi bahas apa nih? Sepertinya serius sekali?" tanya Adelia.


"Ini loh, katanya Eva tidak mau jika dia nikahnya di langkahi oleh Alan," ucap Bu Anara.


"Kalau begitu kamu nikah juga, Eva. Sekalian saja nanti nikahnya barengan sama Alan,” ucap Adelia.


"Menikah itu tidak semudah itu, Kak." ucap Eva.


"Nanti Kakak bantu bicara sama Reno deh, biar dia segera melamar kamu."


"Jangan, Kak. Aku malu loh."


"Habisnya sampai sekarang Reno tidak memberi kode juga sih."


"Tenang saja, mungkin nanti di acara nikahan Alan, Reno datang kesana untuk melamar kamu," sahut Rian yang ikut berbicara.


"Ah tahu ah ... " Eva beranjak dari duduknya, lalu pergi dari hadapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2