Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.122


__ADS_3

“Nak, Papah pamit pulang dulu. Nanti Papah akan memberi pengertian kepada Vanesa. Semoga saja dia mau menerima kenyataan ini,” ujar Pak Indra yang tidak mau jika ada perselisihan di antara mereka.


“Terima kasih, Pah. Tapi Nara juga ingin ikut,” kata Anara.


Sebenarnya Anara sangat ingin berdamai dengan Kakaknya. Dari dulu dia berharap bisa akrab layaknya kakak beradik pada umumnya. Namun sampai saat ini, itu masih jadi hal yang belum bisa dia capai.


“Jangan, Nak. Nanti Papah beri pengertian dulu sama Kakakmu. Kamu tahu sendiri kan bagaimana sikap Nesa kepadamu?” sebenarnya Pak Indra melarang Anara demi kebaikannya.


“Tapi, Pah.” Ucapan Anara terhenti saat suaminya berbisik kepadanya.


“Turuti saja apa kata Papah, itu juga demi kebaikanmu,” bisik Andika.


“Baiklah, Anara tidak ikut, Pah.” Ucapnya sambil menatap Pak Indra.


“Kalau begitu Papah mau pulang dulu, kebetulan taxinya sudah datang,” Pak Indra melihat taxi yang sudah berhenti di depan gerbang rumah.


“Hati-hati, Pah.” Ucap Anara.


“Siap, Nak.” Jawabnya.


Andika mengantar Pak Indra hingga sampai di dekat taxi. Sedangkan Anara masih berdiri di depan rumah bersama ke dua anaknya.


Andika kembali menghampiri anak dan istrinya.


“Sayang, ayo masuk!” ajak Andika, sambil menuntun Adelia dan Eva.


“Iya, Mas.” Anara mengikuti langkah suaminya.


Alan menatap orang tuanya yang baru masuk sambil melipat ke dua tangannya di atas dada.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Andika yang kini sudah duduk di sebelah Alan.


“Alan bosan di rumah terus,” ucap Alan.


“Kenapa bosan, Nak? Bukankah disini ada kakak-kakakmu, dan kamu bisa main bareng mereka loh,” ujar Andika.


“Alan mau main,” rengeknya.

__ADS_1


“Ayo main sama aku!” Adelia duduk di sebelah adiknya, lalu menyentuh bahu adiknya. Namun ternyata Alan menepis tangan Adelia.


Anara membisikan sesuatu di telinga suaminya.


“Mas, sepertinya saat dewasa nanti, anak kita ini cuek sama anak perempuan,” bisik Anara.


“Sekarang kan masih kecil, kita tidak bisa menebaknya, sayang.” ucap Andika.


“Hanya dugaanku saja,” ucap Anara.


Anara mengira jika Alan nantinya akan cuek kepada jenis. Namun Andika berpikiran lain, dia melihat Alan ini sepertinya sedikit arrogan.


°°°°°°°°°°


Pak Indra sudah sampai di rumahnya. Namun rumah itu terlihat sepi. Sepertinya Vanesa belum pulang.


“Nes, Nesa ... “ teriak Pak Indra sambil menatap ke segala arah.


Namun tidak ada sahutan. Mungkin Vanesa memang belum pulang.


Baru juga akan masuk ke kamar, Pak Indra mendengar deru mobil dari luar rumah. Karena penasaran, Pak Indra memilih untuk melihat siapa yang datang.


“Nesa, siapa dia?” Pak Indra bertanya sambil menatap lelaki di samping anaknya.


“Dia pacarku, Pah.” Jawab Vanesa.


“Pacar?” Pak Indra terkejut saat tahu jika putrinya berpacaran dengan lelaki yang jauh lebih muda.


“Kalian kenal kapan? Kok sudah berpacaran?” tanya Pak Indra.


“Tadi, Pah. Dan kita memutuskan untuk saling berpacaran,” jawab Vanesa.


Pak Indra semakin yakin jika anaknya hanya mencari pelampiasan saja. Karena tidak mungkin jika anaknya menyukai lelaki yang sudah jelas usianya terpaut jauh dengannya.


“Terserah kamu deh, Papah mau ke kamar dulu,” Pak Indra menarik koper yang di bawanya.


Pak Indra membiarkan anaknya bersama lelaki itu. Walaupun berondong, semoga saja lelaki itu bisa membuat Vanesa bisa melupakan Andika sepenuhnya.

__ADS_1


Pak Indra sudah berada di kamar yang sudah lama tidak di tempatinya. Lalu mulai mengeluarkan isi kopernya. Pak Indra memutuskan untuk memasukan semua pakaiannya ke dalam lemari. Setelah itu Pak Indra memutuskan untuk rebahan di atas tempat tidur. Namun lama-kelamaan tertidur karena mengantuk.


Vanesa yang berada di ruang keluarga, asyik mengobrol dengan lelaki yang baru saja menjadi kekasihnya. Lelaki itu berbisik di telinga Vanesa. Lalu Vanesa mengangguk dan mengajak lelaki itu ke kamarnya.


Sesampainya di kamar, lelaki itu langsung melancarkan aksinya kepada Vanesa. Hingga kini ke duanya sudah tak berbusana.


"Kamu sudah longgar hm, tapi itu tidak masalah," ucap lelaki itu, lalu kembali melakukan aksinya.


Setelah puas berolah raga di atas ranjang, ke duanya memilih untuk tidur.


Pak Indra mengerjapkan ke dua matanya. Lalu segera turun dari atas kasur. Pak Indra memutuskan untuk keluar dari kamar dan pergi ke dapur. Kebetulan saat ini Pak Indra merasa sangat haus.


Pak Indra pergi ke ruang depan untuk bersantai. Namun saat menatap ke jendela rumah, ternyata mobil yang tadi di naiki oleh Vanesa dan kekasihnya, masih terparkir disana.


'Jika mobilnya di depan, lalu dimana mereka,' batin Pak Indra.


Pak Indra memutuskan untuk pergi ke kamar anaknya. Saat ini sudah berada di depan pintu. Untung saja pintu itu tidak terkunci, sehingga bisa masuk dengan mudah. Pak Indra membelalakan matanya melihat ke dua insan yang sedang tidur di ranjang yang sama, dan juga baju mereka berserakan di lantai.


"Nesa, bangun!" Pak Indra berucap dengan suara sedikit meninggi.


Ke dua insan yang sedang berkelana di alam mimpi, kini mengerjapkan matanya. Vanesa terkejut saat melihat ayahnya sedang berdiri di dekat pintu, sambil menatapnya.


"Pah, ini tidak seperti yang Papah kira," ucap Vanesa sedikit takut.


"Lalu menurutmu, yang Papah pikirkan itu yang seperti apa?" Pak Indra merasa kecewa kepada Vanesa.


Vanesa hanya menunduk, dia tidak berani menjawab perkataan ayahnya.


Pak Indra beralih menatap lelaki yang sedang bersama anaknya.


"Cepat pulang! Jangan lupa kembali lagi dengan membawa ke dua orang tuamu untuk melamar Vanesa. Saya pikir kalian harus segera menikah. Karena tingkah laku kalian sudah kelewat batas. Saya permisi dulu, jangan lupa pakai kembali pakaian kalian," ujar Pak Indra.


Pak Indra segera keluar dari kamar anaknya.


Lelaki itu kini turun dari atas kasur, lalu memakai pakaiannya kembali.


"Kamu mau menikahiku?" tanya Vanesa.

__ADS_1


"Nanti aku akan bicarakan dulu dengan orang tuaku," ucapnya.


'Masa sih lelaki keren sepertiku menikah dengan wanita yang sudah longgar, apa kata teman--temanku nanti. Apalagi keluargaku sudah pasti tidak setuju,' batin lelaki itu.


__ADS_2