Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.40


__ADS_3

Anara begitu senang saat suaminya mau mengerti dengan semua kenyataan yang ada. Dia merasa jika Aldi itu suami yang dia cari-cari, karena mau menerimanya apa adanya.


Anara mengantarkan suaminya hingga keluar dari rumah. Saat ini Aldi hendak berangkat ke cafe miliknya.


"Sayang, nanti siang kamu datang ke cafe ya! Antarkan makan siang untuk aku," pinta Aldi.


"Iya, Kak. Anara usahakan kalau Adel tidak rewel," ucapnya.


"Nanti kamu telfon saja kalau tidak bisa pergi," pinta Aldi.


"Siap, Kak." ucapnya.


Anara bersalaman dengan suaminya lalu dia mengecup singkat punggung tangannya. Begitu juga dengan Aldi yang mencium singkat kening istrinya.


Anara menatap suaminya hingga masuk ke mobilnya. Aldi membuka sedikit kaca mobilnya, lalu melambaikan tangannya sambil menatap istrinya. Begitu juga dengan Anara yang membalas lambaian tangan suaminya. Dia kembali masuk ke rumah setelah melihat mobil suaminya keluar dari gerbang rumah.


Anara menutup pintu rumah, dia akan menghampiri anaknya di kamar. Namun langkahnya terhenti saat dia mendengar suara ketukan pintu dari luar rumah. Anara memilih untuk membukakan pintu rumahnya.


Dia melihat Andika sedang berdiri disana.


"Ada apa, Kak?" tanya Anara, yang berdiri di depan pintu.


"Aku mau memastikan sesuatu," Andika menerobos masuk ke rumah.


"Eh, Kak Andika mau ngapain?" Anara mengejar Andika yang sedikit melangkah cepat.


Andika melihat Ani yang baru keluar kamar dengan menggendong Baby Adel. Lalu dia menghampirinya.


"Bolehkah saya menggendong!" pinta Andika.


Sejenak Ani menatap Anara yang juga sedang melangkah ke arahnya.


"Jangan! Jangan biarkan Adel di gendong orang lain," ucap Anara, lalu dia segera mengambil Baby Adel dari gendongan Ani.


"Kenapa kamu panik seperti itu?" Andika melihat raut wajah Anara yang terlihat panik.


"Tidak!" kata Anara, lalu dia segera membawa Baby Adel.


Andika menghadang Anara yang hendak pergi. Sejenak dia memperhatikan wajah Baby Adel. Dia melihat memang ada kemiripan dengannya. Apalagi mata biru yang di miliki olehnya.


"Aku mau bicara sama kamu," ucap Andika.


"Mau bicara apa? Kalau tidak penting, lebih baik tidak usah bicara."


"Serahkan dulu anak kamu sama baby sisternya!" pinta Andika.


Anara menghela nafasnya, lalu dia mendekati Ani dan menyerahkan Baby Adel.


Anara mengajak Andika untuk bicara di taman belakang rumah.


"Apa yang mau di bicarakan?" tanya Anara.

__ADS_1


"Apa Adel itu anakku?" tanya Andika.


"Bukan, Adel itu anakku," ucap Anara.


"Ayolah, tidak usah berbohong! Mamah yang tanya sendiri ke aku karena merasa curiga. Untuk memastikan, aku bertanya kepadamu," ucapnya.


Anara tersenyum kecut menatap Andika. Bisa-bisanya Andika tidak peka. Padahal sudah terlihat jelas jika Baby Adel itu mirip dengannya.


"Bukan, dia bukan anakmu," ucapnya.


"Baiklah kalau memang bukan anakku, Aku pergi dulu," Andika beranjak dari duduknya lalu pergi.


Dasar tidak peka, tapi itu lebih baik sih,' batin Anara.


Syukur deh kalau dia bukan anakku. Tapi aku harus tetap menyelidikinya, siapa tahu dia berbohong,' batin Andika.


Setelah kepergian Andika, Anara kembali masuk ke rumah untuk menghampiri anaknya.


°°°


Menjelang jam makan siang, Anara bersiap untuk pergi ke cafe suaminya. Dia sudah menyiapkan makan siang untuk suaminya. Untung saja Baby Adel baru tidur, jadi bisa dia tinggal.


Anara pergi dengan menaiki taxi.


Kini taxi yang mengantarnya sudah sampai di depan restoran. Anara segera turun setelah membayar.


Anara melangkah masuk ke restoran. Terlihat semua karyawan yang memberinya hormat, karena mereka tahu jika saat ini Anara sudah menjadi istri dari atasan mereka. Saat Anara sudah menjauh, mereka berkumpul dan saling berbisik. Dinda juga ikut bergabung dengan mereka dan ikut menggosip.


Aldi mendengar pintu ruangannya di ketuk dari luar.


"Masuk!" ucap Aldi, yang kini sedang duduk di kursi kebesarannya.


Anara membuka pintu yang memang tidak terkunci.


"Sayang, kamu sudah datang?" Aldi beranjak dari duduknya, lalu mendekati istrinya.


Kini keduanya duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Iya nih, tapi sepertinya tidak bisa berlama-lama karena takutnya Baby Adel rewel," ucap Anara.


"Tidak apa-apa kok, sekarang aku mau langsung makan saja. Kamu mau makan juga kan?"


"Boleh," ucap Anara.


Kini keduanya mulai menikmati makan siang mereka. Sesekali mereka saling menyuapi.


Setelah selesai makan siang, Anara kembali membereskan kotak makan siang yang dia bawa.


Tring tring


Terdengar ada notif panggilan masuk dari ponsel Aldi. Dia beranjak dari duduknya, lalu melihat ponselnya yang ada di atas meja kerjanya. Ternyata itu panggilan masuk dari Sherina.

__ADS_1


Ngapain lagi dia telfon?' batin Aldi, lalu dia mematikan panggilan itu.


Aldi kembali menghampiri istrinya.


"Siapa yang menelfon? Kok tidak di angkat?" tanya Anara.


"Itu tadi nomor baru, mungkin orang nyasar," ucap Aldi.


"Tapi kalau memang penting, bagaimana?"


"Kalau memang penting, pasti nanti juga nelfon lagi. Mas hanya tidak mau jika ada yang mengganggu kebersamaan kita," ucap Aldi.


Anara tersenyum senang karena suaminya lebih mengutamakan dia.


Anara dan Aldi saling mengobrol namun hanya sebentar. Anara harus cepat pulang karena khawatir kalau anaknya rewel. Aldi mengantarkan istrinya ke depan. Kebetulan taxi online yang di pesan olehnya sudah datang.


Di tengah perjalanan, taxi yang di naiki Anara mogok. Kebetulan itu di daerah yang tidak terlalu rame. Anara terpaksa berhenti disana. Saat ini Anara berdiri di pinggir jalan. Dia akan memesan taxi online lagi. Namun dari arah samping ada pengendara motor yang melaju kencang, lalu menyambar ponsel dan tas yang di pegang olehnya.


"Eh, jambret ... " teriak Anara.


Percuma dia berteriak karena sekitarnya sedang sepi. Supir taxi yang tadi mengantar Anara, sudah pergi ke bengkel terdekat. Sedangkan taxi yang mogok masih ada disana.


Aku harus ngapain? Bagaimana aku bisa pulang? ' gumam Anara.


Anara begitu khawatir dengan anaknya. Apalagi jika dia pulangnya telat, dia tak tega jika nanti anaknya menangis dan Ani tidak bisa menenangkannya.


Anara berjalan kaki di pinggir jalan.


Satu pun barang berharga tidak dia miliki. Hanya perhiasan saja yang dia pakai.


Jder jder


Terdengar suara petir sangat keras. Sepertinya akan turun hujan.


Aku harus kemana?' Anara menatap sekitar. Ternyata ada warung kecil di pinggir jalan. Dia memilih untuk berteduh disana. Dan benar saja, baru juga dia berteduh, langsung turun hujan yang begitu deras.


Sudah satu jam Anara berteduh, namun hujannya tidak reda juga.


Terlihat ada sebuah mobil berhenti di pinggir jalan. Aldi menatap istrinya yang terlihat kedinginan. Dia keluar dari mobil untuk menghampirinya.


"Sayang, kamu kok disini? Aku cariin kamu kemana-mana loh," Aldi berdiri di sebelah istrinya.


"Tadi tas sama ponselku di jambret, jadi aku tidak bisa menghubungi Kak Aldi."


"Bagaimana Bisa di jambret?"


"Nanti saja ceritanya di rumah, aku khawatir sama Adel," ucap Anara.


"Oh iya hampir lupa, tadi Adel terus menangis. Ya sudah, ayo pulang!" ajak Aldi.


Aldi mengajak istrinya untuk masuk ke mobilnya. Mereka langsung pulang ke rumah.

__ADS_1


°°°°


__ADS_2