
Andika merasa jika ada pergerakan dari tangan Anara.
"Mas, aku dimana?"
Andika menatap wajah pucat istrinya.
"Kamu di rumah sakit. Sayang, kamu baik-baik saja?"
Anara hanya menganggukan kepalanya.
Andika melepaskan tangannya yang memegang istrinya.
"Kenapa aku disini? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Anara.
"Kenapa kamu menyembunyikan ini kepada kita semua?" Andika tidak menjawab pertanyaan istrinya. Dia malah balik bertanya.
"Menyembunyikan apa? Aku tidak mengerti apa maksud perkataan Mas Dika?"
"Kamu hamil, dan sekarang keguguran."
"Kenapa aku sampai tidak tahu jika aku hamil? Tidak ada tanda-tanda mual atau yang lainnya. Kenapa aku begitu bodoh?Kenapa aku tidak menyadari jika aku hamil? Dan sekarang ... " Anara mengusap perutnya yang rata.
"Sayang, maaf ya. Ini juga salah aku, karena sudah membiarkan kamu mengurus anak-anak sendirian. Kamu pasti sangat kelelahan, bahkan wajah kamu juga pucat sekali," Andika juga merasa bersalah. Selama ini dia hanya menginginkan istrinya untuk perhatian kepada ke dua anaknya.
Anara diam, dia masih sedih karena kehilangan anaknya.
Andika menatap Anara dengan rasa kasihan.
'Apa selama ini aku yang terlalu egois?' batin Andika.
Andika mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam saku celana. Dia menghubungi Bu Sinta dan memberitahukan jika saat ini Anara sudah sadar.
Tak lama, Bu Sinta datang dengan Pak Indra dan ke dua cucunya.
"Nara, yang sabar, Nak. Semua ini cobaan untuk kamu. Kamu harus mengikhlaskannya," ucap Bu Sinta.
"Mah, kenapa Nara begitu bodoh. Nara tidak tahu jika Nara hamil."
Bu Sinta mengusap pelan wajah Anara.
"Yang sabar, Nak. Kamu jangan larut dalam kesedihan, lihatlah ada anak-anakmu yang butuh kamu di sampingnya," Bu Sinta menunjuk Adelia dan Eva.
"Iya, Mah. Nara akan berusaha kuat," Anara memaksakan diri untuk tersenyum.
"Nara, sebaiknya kita pekerjakan Baby sister lagi. Aku kasihan melihat kamu kelelahan. Aku tidak mau hal seperti ini terjadi lagi," ucap Andika.
"Mamah juga setuju," ucap Bu Sinta.
"Mamah .... " Adelia meminta di turunkan di ranjang tempat Anara berbaring.
"Sayang, Mamah kamu sedang sakit. Kamu harus nurut yah sama Nenek," Bu Sinta mencoba untuk memberikan pengertian kepada cucunya.
"Nenek ... " ucap Adelia sambil memperhatikan Bu Sinta.
"Iya, sayang. Sama Nenek," Bu Sinta mencium pipi Adelia. Menurutnya Adelia sangat lucu. Walaupun masih kecil, tapi sudah pintar menyimak pembicaraan orang lain.
Tok tok
__ADS_1
Terdengar ketukan pintu dari luar ruang inap Anara.
"Biar Mamah yang buka pintu," Bu Sinta berjalan mendekati pintu, lalu membukanya.
Ternyata yang datang Ani. Tadi Bu Sinta sengaja menghubunginya untuk datang ke rumah sakit.
"Ayo masuk!" ajak Bu Sinta.
Ani mendekati Anara, lalu memberikan semangat agar Anara tidak larut dalam kesedihan.
Pak Indra menyerahkan Eva kepada Ani. Karena Pak Indra sudah kelelahan menggendong cucunya.
"Nara, mulai sekarang Ani akan kembali menjadi baby sister anak-anak," ucap Bu Sinta.
"Iya, Mah. Nara juga setuju," ucapnya.
Ani membawa Eva keluar dari ruangan itu karena terus merengek.
°°°°°°°°°°°
Anara sudah pulang dari rumah sakit. Namun untuk beberapa hari ke depan dia harus istirahat total. Dia tidak di perbolehkan untuk mengerjakan hal-hal yang berat dulu.
Andika masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi makanan untuk istrinya.
"Sayang, makan dulu yuk!" Andika menaruh nampan itu di atas meja kecil dekat ranjang.
"Terima kasih, Mas." Anara merasa senang karena suaminya begitu perhatian.
"Sama-sama, sayang. Biar aku suapin yah," ucap Andika menawarkan diri.
Anara menurut saat suaminya memintanya untuk membuka mulutnya. Andika sangat telaten menyuapi istrinya. Sejak tadi Anara hanya menatap suaminya yang sedang sibuk menyuapinya.
"Kenapa lihatin aku? Aku tahu kok kalau aku tampan," ucap Andika yang memperhatikan tatapan Anara.
"Mas Dika apaan sih," Anara tersenyum malu-malu.
"Nah senyum seperti ini terlihat cantik. Jangan sedih lagi ya, sayang."
"Iya, Mas. Terima kasih karena sudah memperhatikanku. Pakai di suapi segala, padahal aku bisa sendiri loh."
"Tidak apa-apa, sayang. Biar kamu cepat sembuh jadi aku perhatiin. Nanti kan kalau kamu sudah sembuh kita bisa melakukan itu lagi," Andika melirik sekilas ke bagian bawah istrinya.
"Ternyata baik ada maunya," gumam Anara, namun masih terdengar oleh suaminya.
"Iya dong, sayang. Tidak ada yang gratis di dunia ini."
Setelah selesai menyuapi istrinya, Andika mengajak ke depan untuk berkumpul dengan ke dua anaknya.
"Mas, aku bisa jalan sendiri," ucap Anara, yang kini berada di gendongan suaminya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu kelelahan, Jadi menurut saja," Andika membuka pintu kamar, lalu keluar menuju ke ruang keluarga.
Bu Sinta yang sedang bermain bersama cucunya, melihat keromantisan Anara dan Andika.
"Wah seperti pengantin baru saja nih," kata Bu Sinta.
"Iya dong, Mah." kata Andika, lalu dia mendudukan istrinya di sofa.
__ADS_1
'Semoga saja tidak ada permasalahan lagi di pernikahan kalian, Nak.' batin Bu Sinta.
Bu Sinta senang melihat anak dan menantunya terlihat bahagia seperti itu.
Andika memang selalu memperhatikan istrinya. Dia ingin memberikan kebahagiaan kecil seperti perhatian yang selalu dia berikan. Sengaja dia lakukan agar istrinya tidak terlalu sedih lagi mengingat anaknya yang telah tiada.
°°°°°°°°°°°
Setelah beberapa hari meliburkan diri dari pekerjaan, hari ini Andika berniat untuk kembali bekerja.
Anara melihat suaminya yang sedang berdiri di depan cermin sambil mengancingkan kemejanya.
"Biar Nara bantuin, Mas." Anara menghampiri suaminya, lalu membantu mengancingkan kancing kemejanya.
"Sekalian dasinya, sayang." pinta Andika.
"Siap, Mas." Anara mengambil dasi suaminya yang tergeletak di atas meja rias, lalu segera memakaikannya.
Cup
Andika mencium singkat bibir istrinya.
"Mas apa-apaan sih?"
"Sudah cukup lama aku berpuasa. Aku sudah merindukanmu, sayang."
"Tahan, Mas. Ingat kata Dokter."
"Iya, sayang. Kalau aku mengingat itu, jadi sedikit lesu."
"Mas Dika jangan nakal yah, awas loh kalau punya wanita lain di luar sana."
"Tidak kok, sayang. Mas hanya setia sama kamu saja," Andika mencubit gemas pinggang istrinya.
"Jangan pegang-pegang loh, nanti khilaf," kata Anara.
"Kalau khilaf tinggal di buka."
"Ingat, puasa masih lama, jangan asal buka saja."
"Mas cums becanda kok, sayang. Ayo antar aku ke depan," Andika menggandeng tangan istrinya. Lalu mereka pergi keluar dari kamar.
Anara mengambilkan bekal makanan yang sudah dia siapkan untuk suaminya.
Terlebih dahulu Andika berpamitan dengan anak-anaknya. Lalu dia keluar dari rumah di antar oleh istrinya.
"Mas, jangan lupa bekalnya kamu makan yah. Kamu belum sarapan loh," kata Anara, mengingatkan suaminya.
"Siap, sayang. Aku berangkat dulu yah," Andika dan Anara saling berjabat tangan. Lalu Anara mencium punggung tangan suaminya.
Cup
Andika mencium singkat bibir istrinya.
Anara memegang bibirnya yang tadi di cium oleh suaminya, sambil menatap suaminya yang sedang melangkah pergi.
°°°°°°°°
__ADS_1