Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.89


__ADS_3

Anara dan Andika baru pulang dari kantor. Namun Anara merasa lelah sekali. Bahkan dia juga meminta suaminya untuk menggendongnya masuk ke dalam rumah.


Bu Sinta dan Pak Indra sedang bersantai di ruang keluarga. Mereka melihat Andika sedang melangkah memasuki rumah dengan menggendong Anara.


"Dika, istrimu kenapa?" tanya Bu Sinta.


"Dia kelelahan, Mah." ucap Andika.


Bu Sinta menatap pakaian yang di pakai oleh Anara berbeda dengan pakaian tadi pagi.


"Tunggu!" Bu Sinta menghentikan langkah Andika yang hendak membawa istrinya menuju ke kamar. "Perasaan tadi pagi Nara tidak memakai pakaian itu?"


"Hehe ... Kok Mamah bisa paham sih," ucap Andika sambil tersenyum menatap Ibunya.


"Jangan-jangan kalian habis melakukan itu," Bu Sinta menatap anaknya penuh selidik.


"Nah itu tahu," ucapnya.


"Astaga, kamu melakukan berapa kali? Kok istrimu sampai kelelahan seperti itu?"


"Entah, aku tidak mengingatnya.


"Jika seperti ini kalian bisa punya anak lagi," ucapnya.


"Nara KB kok, Mah." ucap Anara yang masih berada di gendongan suaminya.


"Mah, sudah dulu bicaranya. Dika mau ke kamar dulu," Andika langsung melanjutkan langkahnya menuju ke kamar.


Bu Sinta hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap kepergian anaknya.


"Namanya juga anak muda, sudah biarkan saja," ucap Pak Indra.


"Tapi anak mereka masih kecil-kecil, kasihan kalau punya adik lagi. Nanti kasih sayangnya terbagi."


"Itu tidak akan, Saya tahu bagaimana Anara dan Andika," ucap Pak Indra.


Bu Sinta melihat Andika yang sudah kembali keluar dari kamar. Lalu pergi ke dapur. Hanya sebentar dia di dapur, kini dia akan kembali ke kamar.


"Dika, habis ngapain kamu?" tanya Bu Sinta.


"Tadi Dika menyuruh Bibi untuk menyiapkan makan malam, dan langsung di antar ke kamarku," ucapnya.


"Kenapa tidak makan bareng kita saja?"


"Kasihan Anara kecapean, Mah. Dika melarangnya keluar dari kamar."


"Alasan, paling kamu mau ajak tempur lagi," ucap Bu Sinta.


"Tidak kok, beneran," ucapnya, lalu kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


Semakin hari hubungan Anara dan Andika semakin terlihat romantis. Bahkan saat Andika libur kerja, dia mengajak istri dan anak-anaknya untuk jalan-jalan.


Terlihat Bu Sinta masuk ke rumah dengan langkah tergesa-gesa.


"Nara ... Nara ... " Bu Sinta berteriak memanggil Anara.


"Ada apa, Mah?" tanya Anara, yang sedang bermain dengan anak-anaknya.


"Suamimu tidak bisa di hubungi. Mamah takut jika dia kenapa-napa," ucapnya.


Anara melihat raut wajah Bu Sinta yang terlihat sangat panik.


"Tadi katanya Mas Dika sedang di perjalanan pulang loh. Sekitar tiga puluh menit yang lalu sih."


"Dalam waktu tiga puluh menit tidak mungkin loh kalau suamimu belum sampai. Mamah khawatir sama dia," ucap Bu Sinta.


"Mah, jangan bikin Nara khawatir dong," Anara mendadak panik karena takut jika terjadi sesuatu dengan suaminya.


"Nara, lebih baik kamu cari suamimu. Tadi terakhir chattingan sama Mamah sih dia sedang singgah di restoran. Coba deh kamu cari kesana! Biar anak-anak sama Mamah."


"Baiklah, Nara mau bersiap dulu," Anara beranjak dari duduknya, lalu pergi ke kamar untuk bersiap.


Anara sudah berganti pakaian. Dia akan pergi di antar oleh supir. Beberapa kali Anara menghubungi nomor suaminya, namun nomornya tidak aktif.


Sepanjang jalan Anara menatap ke luar kaca mobil. Karena bisa saja dia melihat mobil suaminya di pinggir jalan.


Kini mobil yang di naiki Anara sudah sampai di depan restoran yang di sebutkan oleh Bu Sinta. Namun restoran itu terlihat sepi. Bahkan pintu depannya juga tetutup.


Anara mendekati pintu itu dan membukanya. Saat dia akan masuk, tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang memanggilnya.


"Maaf, Kak. Cari siapa ya?" tanya wanita itu.


Anara menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita memakai seragam, sepertinya wanita itu salah satu waiters yang ada di restoran.


"Saya cari suami saya," ucapnya.


"Kakak tidak lihat jika tadi pintunya tertutup? Jangan-jangan Kakak mau maling?"


"Tidak kok, saya tidak ada maksud untuk masuk ke dalam. Saya hanya mau memastikan jika suami saya ada di dalam atau tidak. Kalau begitu saya permisi dulu. Maaf kalau saya sudah lancang." Anara hendak melangkah pergi, namun wanita itu menahan tangannya.


"Jangan kabur! Tanggung jawab dulu, ayo ikut saya!" ajaknya, sambil membuka lebar pintu restoran.


"Tapi saya harus pergi," ucap Anara.


"Ikut atau saya tuntut!"


"Baiklah," akhirnya Anara menurut, karena dia takut jika di tuntut.

__ADS_1


Anara merasa aneh melihat restoran yang sudah di dekorasi sangat indah. Sepertinya akan ada acara di restoran itu.


Anara menghentikan langkahnya saat wanita tadi juga berhenti.


"Maaf, Pak. Saya membawa seorang wanita yang masuk begitu saja ke restoran ini," ucapnya, kepada seorang lelaki yang memakai topi hitam dan sedang duduk membelakangi mereka.


Anara menunduk takut, dia tidak mau jika harus berurusan dengan hukum hanya karena menerobos masuk ke dalam restoran yang pintunya tertutup rapat.


"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud untuk menerobos masuk. Saya hanya sedang mencari suami saya, siapa tahu ada disini," ucap Anara, sambil menundukan pandangannya.


Lelaki itu berdiri, lalu mendekati Anara.


"Jangan menunduk!" ucapnya.


Anara merasa jika suara lelaki itu tidak asing. Dia mendongkakkan pandangannya. Ternyata lelaki yang berdiri di hadapannya adalah suaminya.


"Mas Dika ... " ucap Anara, yang merasa terkejut. Lalu pandangan Anara beralih kepada wanita yang tadi menyuruhnya bertanggung jawab.


"Maaf, Kak. Saya hanya menjalankan perintah agar Kakak mau masuk kesini. Mohon maaf atas sikap saya tadi," ucapnya, sambil menundukan pandangannya.


"Tidak apa-apa kok," lalu Anara beralih menatap suaminya.


"Mas, kamu lagi ngapain disini?" tanya Anara.


"Aku mau menjawab jika kamu memejamkan mata," pinta Andika.


"Kenapa harus memejamkan mata segala?"


"Menurut saja!"


Anara segera memejamkan ke dua matanya.


Andika memutar tubuh istrinya sehingga posisinya membelakanginya. Lalu dia mengambil sesuatu dari saku celananya.


Anara merasakan jika ada sesuatu di lehernya.


"Mas, ini apa?" tanya Anara yang masih memejamkan matanya.


"Buka matamu, sayang!" pinta Andika.


Anara membuka matanya dan melihat ada kalung di lehernya. Lalu dia menatap suaminya.


"Mas, ini maksudnya apa? Dan semua ini," Anara menunjuk sekitarnya yang di dekorasi begitu indah.


"Ini kejutan untuk kamu, Sayang. Kamu suka?"


Anara hanya menganggukan kepalanya. Dia begitu senang karena di perlakukan seromantis ini oleh suaminya.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2