
Adelia dan Rian sedang menonton televisi sambil menikmati secangkir teh hangat. Beberapa kali Rian menatap Adelia yang sedang mengusap perutnya yang sedikit sakit.
"Adel, perutmu kenapa?" tanya Rian.
"Aku tidak apa-apa," jawabnya.
Rian mendekati Adelia. Dia memegang perut itu lalu mengusapnya secara perlahan.
Adelia merasa lebih enakan. Perutnya sudah tidak sakit lagi. Mungkin anaknya sedang ingin merasakan sentuhan ayahnya.
"Bagaimana?"
"Sudah enakan," jawab Adelia.
"Sepertinya anak kita ingin di tengokin ayahnya," kata Rian.
Adelia melotot saat mendengar penuturan Rian.
"Apa maksudmu?"
"Masa itu saja tidak tahu sih. Ekhem ekhem loh," ucap Rian sambil senyum-senyum sendiri.
"Berani mendekat, aku panggilkan tukang sunat."
"Suruh ngapain? Memangnya di negara ini ada tukang sunat?"
"Suruh bawa golok yang panjang," Adelia memperagakan dengan tangannya seperti saat sedang memotong sesuatu.
Rian bergidik ngeri melihat Adelia yang memperagakan seperti itu.
__ADS_1
Adelia tersenyum puas saat melihat Rian bungkam seketika.
Ting tong
Mereka berdua saling tatap saat mendengar suara bel dari luar pintu.
"Biar aku yang bukain pintu," Rian beranjak dari duduknya, lalu dia melangkah ke ruang depan untuk membuka pintu.
Cklek
Rian mengeryitkan keningnya saat melihat Clarissa berdiri di depan pintu dengan membawa koper.
"Ngapain bawa koper segala?" tanya Rian.
"Mau menginap," ucapnya.
Belum juga Rian menjawab, Clarissa sudah angkat bicara.
"Ini aku," ucap Clarissa. Lalu dia melangkah memasuki rumah itu tanpa permisi.
Rian menutup pintu, lalu kembali bergabung bersama Adelia.
"Kak Clarissa, kok bawa koper?" tanya Adelia.
"Maaf ya jika aku merepotkan. Tapi, bolehkah aku tinggal disini sampai suamiku pulang? Suamiku sedang dinas di luar kota," ucap Clarissa.
Sejenak Adelia berpikir, mungkin ada baiknya juga jika dia memperbolehkan Clarissa tinggal disana. Apalagi di apartemen itu dia hanya berdua dengan Rian. Jika Clarissa tinggal disana, mungkin Rian tidak akan macam-macam.
"Boleh kok, tinggalah selama yang Kakak mau. Lagian Kakak juga sudah seringkali membantu aku," ucap Adelia.
__ADS_1
Rian merasa kurang suka jika Clarissa tinggal disana. Itu berarti Clarissa bisa saja mengganggu momen kebersamaannya dengan Adelia.
°°°°°°°
Terlihat Rian yang baru sampai di ruang makan karena akan makan malam. Kebetulan Adelia dan Clarissa sudah berada disana. Rian duduk di sebelah Adelia. Sedangkan Clarissa sejak tadi sudah duduk di depan Adelia.
Clarissa mengambil piring yang ada di depan Rian, lalu mengambilkan nasi dan lauk.
"Silakan!" Clarissa menaruh piring yang sudah terisi itu ke atas meja.
"Tidak usah perhatian sama dia, Kak. Nanti malah besar kepala," ucap Adelia sambil melihat Clarissa yang begitu perhatian.
"Tidak apa-apa, biar sekalian saja. Karena aku juga mau mengambil nasi."
Kini ketiganya mulai melahap makanan mereka. Sesekali Clarissa menatap Rian.
"Ini aaa ... " Rian hendak menyuapkan makanan ke mulut Adelia.
Adelia tidak menerima suapan itu.
"Aku bisa makan sendiri kok," kata Adelia.
"Ayolah," Rian memutar arah pandang Adelia sehingga menghadap ke arahnya. Dia memaksa Adelia untuk membuka mulutnya.
Akhirnya Adelia menerima suapan pertama dari Rian.
Rian terlihat senang sambil menatap Adelia yang sedang mengunyah. Sedangkan Clarissa merasa seperti obat nyamuk di antara mereka.
Setelah selesai makan malam, Adelia dan Clarissa bersantai sambil mengobrol. Sedangkan Rian pergi ke kamar. Dia akan bersantai di kamar saja. Lagian dia tidak bebas untuk menggoda Adelia jika ada Clarissa disana.
__ADS_1