
Bu Anara dan keluarganya masih mencerna perkataan Kiara.
"Siapa Alan yang kamu maksud?" tanya Bu Anara yang terlihat serius. Sedangkan yang lain sejak tadi sudah memperhatikan Kiara.
Kiara memberanikan diri menatap ke depan. Dia menatap Alan yang duduk di depannya.
"Dia," ucap Kiara sambil menunjuk Alan.
Bu Anara yang duduk di sebelah Kiara, langsung saja menatap Alan dengan tatapan tajam.
"Apa maksud semua ini, Alan? Apa yang Kia katakan itu benar? Apakah kamu yang menghamililnya?" sahut Pak Andika yang ikut bertanya.
"Malam itu cuma kesalahan, Pah. Alan di jebak."
"Bukan masalah di jebak atau tidaknya, Alan. Tapi dimana rasa pertanggung jawabanmu? Kamu menghamili wanita lain, tapi mau nikahnya sama yang lain lagi," Pak Andika tak habis pikir dengan kelakuan anaknya. .
"Pah, kita harus bagaimana?" tanya Bu Anara.
"Kita harus nikahkan mereka, Mah. Kasihan Kia, lihatlah badannya kurus seperti itu. Pasti di luaran sana dia hidup tidak mudah," ujar Pak Andika yang merasa kasihan kepada Kiara.
"Mamah kecewa sama kamu, Alan. Jika kamu memang berbuat salah, harusnya kamu bicara sama kita," ucap Bu Anara.
"Aku tidak mau bicara sama kalian, karena aku tidak mau menikahi wanita culun sepertinya," ucap Alan.
Plak plak
Pak Andika menampar kedua pipi anaknya.
"Kamu harus tetap menikahinya, Alan. Jika kamu mau lepas tanggung jawab, Papah akan coret nama kamu dari daftar ahli waris keluarga kita," ancam Pak Andika.
__ADS_1
"Arggghhhhh ... Semua ini gara-gara kamu," Alan menunjuk Kiara, lalu dia beranjak dari duduknya dan pergi dari sana.
Bu Anara menatap Alan yang kini sedang menaiki tangga menuju ke kamar.
"Pah, bagaimana dengan Nela?" tanya Adelia yang sedang memangku anaknya.
"Sepertinya kita harus membatalkan pernikahannya. Karena disini Kia yang butuh pertanggung jawaban, bukan dia." ucap Pak Andika.
"Sepertinya Nela dan ibunya akan kecewa, Pah."
"Biar Papah yang bicara. Papah mau menelepon Bu Rena dulu," Pak Andika mengambil ponselnya yang ada di dalam saku, lalu pergi dari sana.
Kiara merasa tak enak, karena dia sudah mengacau di rumah itu. Namun jika dia tidak mengatakan, dia sendiri yang akan susah. Kiara tidak ingin anak-anaknya kenapa-napa hanya karena kekurangan makanan. Terserah jika nantinya dia tidak akan di terima di keluarga itu. Yang penting kehidupan anaknya kelak ada yang menanggung.
"Maafkan saya, Bu. Karena saya, kalian jadi tidak harmonis seperti ini," ucap Kiara.
"Tidak usah minta maaf, Nak. Justru saya yang minta maaf karena Alan sudah menghamilimu tanpa memberikan pertanggung jawaban."
"Bagaimana caranya, Nak?" tanya Bu Anara.
"Nanti Kia dan Alan tinggal bersama saja. Tapi Eva juga ikut tinggal bersama mereka untuk mengawasi Alan."
"Saya tidak terlalu menuntut jika Alan harus menikahi saya. Saya hanya ingin anak saya nanti hidup dengan mudah, tidak seperti saya yang hidup susah," ucap Kiara.
"Kamu tenang saja, Nak. Alan akan tetap menikahi kamu," ucap Bu Anara.
Beberapa menit kemudian, Pak Andika sudah sampai disana. Pak Andika kebali duduk di tempat duduk yang sebelumnya di duduki olehnya.
"Pah, bagaimana dengan Bu rena?" tanya Bu Anara kepada suaminya yang baru duduk.
__ADS_1
"Bu Rena sangat kecewa, Mah. Begitu juga dengan Nela yang juga sangat kecewa."
"Pasti ini berat untuk mereka. Nanti kita harus datang untuk meminta maaf, Pah."
"Iya, Mah. Papah juga berpikiran seperti itu."
Bu Anara menatap Kiara yang duduk di sebelahnya.
"Kia, kamu sudah makan belum, Nak? Makan dulu yuk!" ajak Bu Anara.
"Iya Kia, nanti setelah makan, aku ajak kamu ke kamar," sahut Eva.
"Aku tidak lapar, Bu." ucap Kiara yang merasa tidak enak.
"Ayo bareng aku saja! Aku juga mau makan nih," ajak Adelia. Kebetulan tadi Adelia belum makan, karena niatnya akan makan di pesta. Namun sepertinya pestanya juga tidak jadi.
"Ayo!" Adelia memegang tangan Kiara. Kiara langsung saja berdiri dari duduknya. Adelia menggandeng tangan Kiara menuju ke ruang makan.
Adelia tahu jika saat ini Kiara tampak malu. Jadi dia berinisiatif untuk mengambilkan makan untuknya.
"Ini, makanlah!" Adelia menaruh piring yang sudah terisi nasi dan lauk ke meja dapan Kiara.
"Terima kasih, Kak."
"Sama-sama, jangan lupa habiskan."
"Iya, Kak." Kiara mulai melahap makanannya.
Sesekali Adelia menatap Kiara yang sedang makan. Dia merasa prihatin karena Kiara terlihat seperti sedang kelaparan.
__ADS_1
Setelah sarapan, Adelia mengajak Kiara untuk bersantai.
Bu Anara dan Pak Andika sudah pergi ke rumah Nela, untuk meminta maaf. Alan juga ikut pergi, karena dia harus meminta maaf sendiri kepada Nela dan Ibunya.