Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.82


__ADS_3

Bu Anara melihat ada yang berbeda dari anaknya. Alan terlihat lebih suka berdandan, tidak seperti biasanya.


Alan sedang duduk bersantai di balkon rumahnya. Karena sekarang hari libur, jadi dia hanya bersantai di rumah.


Tring tring


Alan tersenyum saat melihat layar ponselnya. Akhirnya seseorang yang sedang dia pikirkan meneleponnya.


📞"Hallo, sayang. tumben nih menelepon?"


Dari belakang Alan, terlihat Bu Anara yang mendengar semua pembicaraannya. Kebetulan Bu Anara berniat untuk mengajaknya makan siang bersama.


Alan terlihat mesra berteleponan dengan seseorang yang Bu Anara sendiri tak tahu itu siapa.


'Siapa yang sedang telponan sama Alan? Bukankah Nela sudah mau menikah dengan orang lain? Ataukah Alan sudah punya kekasih baru? Dasar anak tidak tahu diri. Biarkan saja dia pacaran, nanti juga dia akan putus, cari lagi putus lagi. Hanya Kiara satu-satunya wanita yang pantas menjadi pendampingnya,' batin Bu Anara.


Bu Anara tak jadi memanggil anaknya, dan memilih untuk pergi dari sana.


Pak Andika melihat istrinya yang kini kembali menghampirinya ke ruang makan.


"Mah, ayo makan siang! Papah sudah lapar nih," ajaknya.


"Iya, Pah," Bu Anara menarik kursi yang ada di depan suaminya, lalu duduk disana.


"Mamah sudah panggil Alan? Kok dia tidak ikut turun?"

__ADS_1


"Mamah tidak jadi memanggil dia. Tadi Mamah lihat dia sedang teleponan sama pacarnya."


"Pacar?" Pak Andika yang akan mengambil nasi, seketika menghentikannya.


"Iya, Pah. Tadi Alan sedang telponan mesra sekali. Mamah tidak habis pikir sama anak itu."


"Bukankah sudah putus sama Nela?"


"Sepertinya dia punya pacar baru lagi, Pah."


"Astaga, emang dasar ya anak itu. Papah kira setelah di tinggal nikah sama Nela, dia akan membuka hatinya untuk Kiara."


"Mamah kira juga seperti itu, Pah. Tapi nyatanya tidak."


"Iya, Pah. Mamah juga sudah cape menasehati dia. Tapi dia terus seperti itu."


Keduanya memilih untuk berhenti mengobrol. Mereka memulai makan siangnya.


Terlihat Alan yang sedang melangkah menuruni tangga. Pakaiannya terlihat rapi karena sepertinya dia mau pergi.


"Mah, Alan pergi dulu ya," ucapnya dengan sedikit berteriak.


Bu Anara yang sedang makan siang, sejenak menghentikannya. Bu Anara pergi ke depan untuk melihat anaknya yang akan pergi.


"Alan, kamu mau kemana?" Bu Anara menghirup aroma parfum anaknya yang begitu menyengat. Sepertinya Alan memakai parfum lebih banyak dari biasanya.

__ADS_1


"Aku mau pergi, Mah. Ada urusan di luar,” ucapnya.


"Kamu punya pacar baru?" tanya Bu Anara yang memang penasaran.


"Hehe Mamah tahu saja. Ya sudah, aku pergi dulu," setelah berpamitan kepada ibunya, Alan segera pergi.


Pak Andika melihat istrinya yang kini sudah kembali duduk.


"Mah, anak kita mau kemana?"


"Biasa, Pah. Dia mau pacaran," jawabnya.


"Sepertinya kita jangan terlalu membiarkan dia berkeliaran bebas, Mah. Alan tidak akan sadar-sadar juga kalau kita biarkan begitu saja," ujar Pak Andika.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Pah? Dari dulu Alan memang seperti itu. Mungkin karena terlalu di manjakan sejak kecil. Beda sekali dengan Kakak-kakaknya.”


"Nanti juga Mamah tahu. Biar ini jadi urusan Papah," ucapnya.


"Baiklah, Mamah harap Papah tidak akan melakukan hal macam-macam sama Alan."


"Ya tidak mungkin, Mah. Masa Papah macam-macam sama anak sendiri sih."


Bu Anara menyerahkan semuanya kepada suaminya. Biarkan suaminya yang mengurus anaknya yang susah di atur itu.


°°°°°°

__ADS_1


__ADS_2