Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.24


__ADS_3

Anara menatap bangunan di depannya yang beberapa hari ini tidak dia tempati. Rasanya dia begitu rindu berkumpul dengan keluarganya.


Anara melangkahkan kakinya mendekati pintu masuk.


Tok tok


Anara mengetuk pintu rumah, dan seorang wanita yang membukakannya.


"Kamu siapa?" tanya Anara.


"Saya Husna, pembantu di rumah ini," ucapnya.


Anara menatap wanita itu yang terlihat seumuran dengan Kakaknya.


"Kak Nesa ada di dalam?"


"Ada, sialahkan masuk!" ucapnya.


Anara melangkah masuk ke dalam. Dia melihat Andika dan Pak Indra sedang duduk di sofa.


"Pah, lama tidak bertemu," ucap Anara sambil tersenyum menatap Ayahnya.


"Iya, kamu mau melihat Nesa? Pergi saja ke kamarnya," ucap Pak Indra.


"Iya, Pah. Kalau begitu, Nara permisi dulu." Anara pergi ke kamar Vanesa.


Saat ini dia sudah berada di depan kamar Kakaknya. Anara mengetuk pintu kamar itu. Namun tidak ada jawaban dari dalam. Akhirnya dia langsung masuk saja.


Anara melihat Vanesa yang sedang menonton televisi.


"Kak Nesa, bagaimana keadaan Kakak?" Anara mendekati Vanesa, lalu dia duduk di pinggiran ranjang.


"Ngapain kamu di sini? Jangan dekat-dekat!" Vanesa menggeserkan badannya karena tidak mau terlalu dekat dengan Anara.


"Aku merindukan Kakak, semoga Kak Nesa cepat pulih. Kakak jangan sedih lagi yah." ucap Anara sambil menatap Vanesa.


"Kamu mau menertawakanku?"


"Tidak Kak, aku tidak akan pernah tertawa di atas penderitaan orang lain," ucap Anara.


"Baguslah kalau kamu tahu diri," ucap Vanesa lalu dia kembali menatap layar televisi.


"Ini Nara bawakan buah-buahan, Nara taruh di meja yah. Nanti Kakak makan," ucap Anara.


Anara masih mengoceh mengajak Kakaknya mengobrol. Namun Vanesa tidak menanggapi perkataan adiknya.


"Kak Nesa lelah? kalau begitu Nara keluar dulu. Kakak istirahat saja yah," Anara beranjak dari duduknya. Dia keluar dari kamar itu.


Anara menghampiri Ayahnya yang sedang mengobrol dengan Andika.


"Pah, bagaimana keadaan Papah?" tanya Anara.

__ADS_1


"Baik," ucap Pak Indra cuek.


"Syukurlah kalau baik-baik saja, apa Anara boleh duduk?" tanya Anara, yang saat ini sedang berdiri.


"Lebih baik kamu pergi saja," ucap Pak Indra.


Kapan Papah akan menerimaku? Apa aku begitu hina di hadapan Papah?" batin Anara.


"Kalau begitu Nara permisi dulu, Pah." Anara tersenyum menatap Ayahnya. Lalu dia melangkah keluar dari rumah itu.


°°°


Aldi mau menghubungi Anara, namun dia tidak punya nomornya. Jadi dia menghubungi telpon rumahnya.


πŸ“ž"Hallo," ucap Bi inem


πŸ“žHallo, Bi. Anara ada?"


πŸ“ž"Non Anara tadi keluar, katanya sih mau ke rumah orang tuanya," ucapnya.


Ngapain lagi Anara kesana? Sudah jelas-jelas dia di usir," batin Aldi.


πŸ“ž"Ya sudah, Bi. Terima kasih," Aldi langsung mematikan panggilan telfonnya.


Aldi pergi dari cafenya. Niatnya saat ini hanya ingin menemui Anara. Kebetulan jarak dari cafe ke rumah Pak Indra, hanya 15 menit saja.


Aldi melihat Anara sedang berdiri di pinggir jalan. Sepertinya dia sedang menunggu angkutan umun. Aldi menghentikan mobilnya di depan tempat Anara berdiri.


"Lagi nunggu angkot," jawab Anara.


"Ayo masuk!" pinta Aldi.


Anara langsung masuk ke mobil.


Aldi kembali mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya.


"Ngapain kamu ke rumah orang tuamu?" tanya Aldi sambil fokus mengemudi.


"Aku mendengar kabar jika Kak Vanesa keguguran, jadi aku menjenguknya." ucap Anara.


"Benarkah?"


"Iya, Kak."


"Nanti deh aku kesana, sekarang kita pulang dulu."


Kini keduanya tidak saling mengobrol lagi. Anara juga diam, dia hanya menatap kendaraan berlalu lalang dari balik kaca mobil.


Sesampainya di rumah, Aldi meminta Anara untuk berbicara serius.


Saat ini keduanya duduk saling berhadapan.

__ADS_1


"Nara, aku minta kamu ijin dulu kalau mau pergi kemanapun," pinta Aldi.


"Kenapa harus ijin?"


"Sekarang kamu ini tanggung jawabku." ucap Aldi. "Oh iya, aku tidak ingin saat kita nikah nanti, ayah dari anakmu datang dan mengganggu pernikahan kita." ucapnya lagi.


Anara tampak memikirkan sesuatu. Dia tidak bisa menjamin jika Andika tidak akan pernah datang menemuinya. Karena tadi pagi juga dia datang untuk meminta anaknya yang belum lahir.


"Kamu kanapa?" Aldi menatap Anara yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Ah tidak kok," ucap Anara.


"Aku masih penasaran siapa ayah anakmu. Kita itu sebentar lagi menikah, aku harap sebelum hari pernikahan, kamu sudah jujur dengan ayah dari anakmu," ucap Aldi.


"Iya," jawab Anara.


Aku akan pikirkan ini nanti saja, lagian masih lama juga aku lahiran. Yang pasti, aku tidak mungkin menyebut nama Andika. Karena akan ada banyak hati yang terluka. Biarlah aku saja yang terluka, yang lain jangan." batin Anara.


"Aku akan menagih janjimu," kata Aldi.


"Janji apa?" tanya Anara.


"Bukankah kamu akan menurut selama menjadi kekasihku. Aku meminta hakku," ucap Aldi.


"Aku tidak mungkin melakukan itu, untuk sekarang bisa membahayakan kandunganku."


"Kita bisa melakukan yang lain, ayo ikut!" Aldi beranjak dari duduknya, lalu dia melangkah pergi.


Anara mengikuti Aldi masuk ke lift. Hingga lift itu sekarang sudah berhenti di lantai paling atas.


Ting


Saat lift terbuka, keduanya langsung keluar. Anara masih mengikuti Aldi hingga masuk ke kamarnya.


Dengan tidak sabar, Aldi menarik Anara hingga kini keduanya sampai di atas kasur. Aldi mulai melakukan aksinya.


Percuma juga kalau mau menolak, aku bukam wanita suci lagi. Tubuhku sudah di sentuh dua lelaki yang berbeda." batin Anara


...


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA.


LIKE


KOMEN


VOTE


KOMEN


Like komen saja sudah cukup kok.😊

__ADS_1


__ADS_2