
Andika menyuruh supir untuk mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit. Dia tidak bisa mengemudi jika dalam kondisi panik seperti itu. Bisa-bisa saat mengemudi tidak konsen.
Saat ini mereka sedang di dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
Tring tring
Andika mendengar ponsel miliknya berdering. Dia mengambil ponselnya yang ada di saku celana. Ternyata Bu Sinta yang menghubunginya. Bu Sinta bertanya ke rumah sakit mana Anara akan di bawa. Dan Andika mengatakan jika Anara di bawa ke rumah sakit yang biasa mereka kunjungi.
Kebetulan tadi Bu Sinta baru datang ke rumah Anara. Namun di rumah itu sepi. Bi Inem memberitahu bahwa saat ini Anara sedang di bawa ke rumah sakit. Jadi Bu Sinta menelfon Andika untuk bertanya.
Andika melihat istrinya mengerjapkan ke dua matanya.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Andika menatap wajah pucat istrinya.
"Kita mau kemana? Kenapa kita naik mobil?" tanya Anara.
"Kita akan pergi ke rumah sakit, sayang. Tadi kamu pingsan," kata Andika.
"Pingsan?" Anara mulai mengingat jika tadi dia dan suaminya sedang melakukan ritual suami istri. Tapi dia tidak mengingat apa pun lagi. Dia pingsan begitu saja.
"Iya, sayang. Kepala kamu pusing tidak, biar aku pijitin," ucap Andika.
"Aku mau minum saja," ucapnya.
Andika mengambil botol aqua berisi air minum. Dia menyuruh Anara untuk duduk, lalu dia membantunya untuk minum. Anara menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.
Tak lama, mobil yang mereka naiki sampai di depan rumah sakit. Andika menggendong istrinya turun dari mobil, hingga memasuki rumah sakit. Kondisi tubuh Anara sangat lemas. Jadi Andika tidak mengijinkannya untuk jalan sendiri.
"Sus, tolong istri saya!" ucap Andika saat melihat seorang suster yang lewat.
"Silahkan Bapak daftar dulu ke bagian pendaftaran," ucapnya.
"Saya ingin istri saya cepat di tangani. Dia habis pingsan. Saya juga minta ruangan VIP untuk istri saya," ucap Andika.
"Bisa, itu bisa di atur. Sebentar, saya ambil kursi roda dulu," ucapnya.
Suster itu pergi untuk mengambil kursi roda. Tak lama suster itu sudah kembali, dan meminta Andika untuk mendudukan Anara disana.
Andika dan yang lainnya mengikuti suster hingga ke bagian pendaftaran. Setelah berbicara kepada petugas yang berjaga, suster itu segera pergi dengan mendorong kursi roda yang sedang di naiki oleh Anara. Pak Indra juga mengikutinya. Sedangkan Andika masih mengisi formulir pendaftaran.
"Dika," terlihat Bu Sinta berjalan tergesa-gesa menghampiri anaknya.
Andika mendengar ada yang memanggil namanya. Dia menoleh ke sumber suara.
"Mamah, baru sampai?" tanya Andika.
"Iya, Nak." jawab Bu Sinta, yang kini sudah ada di dekat anaknya. "Oh iya, dimana Anara?" tanya Bu Sinta.
__ADS_1
"Ada di ruangannya, tadi aku minta agar di beri pelayanan VIP di rumah sakit ini," ucapnya.
"Ayo kesana!" ajak Bu Sinta.
"Iya," Andika dan Bu Sinta berjalan berdampingan.
Kebetulan saat mereka sampai, terlihat dokter baru mau memasuki ruangan itu.
"Maaf, Dok. Apa kami boleh masuk?' tanya Andika dari arah belakang.
"Mohon tunggu sebentar, Pak, Bu." ucapnya, sambil menoleh menatap Andika.
Andika dan Bu Sinta ikut duduk bersama Pak Indra.
Tak lama, Dokter itu keluar dari ruangan Anara.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Andika.
"Ibu Anara hanya kecapean saja. Saya sarankan untuk jangan memaksakan suatu pekerjaan atau melakukan sesuatu jika memang sudah lelah." ujar Pak Dokter.
"Baik, Dok. Apa istri saya harus di rawat?"
"Iya, untuk hari ini saja karena kondisinya masih lemas. Besok sudah bisa pulang," ucapnya.
"Apa kami bisa menengoknya?" sahut Bu Sinta.
Kini mereka masuk ke ruangan itu. Sedangkan Pak Dokter langsung pergi dari sana.
Andika mendekati istrinya, lalu dia menarik kursi untuk dia duduki.
"Sayang, kamu mau apa? Biar aku beliin," ucap Andika kepada istrinya.
"Aku tidak ingin apa-apa kok, Mas." ucapnya. Lalu Anara menatap Bu Sinta. "Mah, Mamah tidak ajak Adel dan Eva?"
"Tidak, Nak. Anak-anak di rumah sama Ani. Mamah penasaran loh, kenapa kamu bisa kecapean. Jangan-jangan karena kemarin kamu di naikin Adel dan Eva," ucapnya.
"Apa maksudnya?" sahut Pak Indra.
"Kemarin itu Nara lagi jagain Adel sama Eva, tapi ketiduran di atas tikar. Mungkin karena dia kecapean. Saat Mamah lihat sih Adel dan Eva sedang duduk di atas tubuhnya," jelas Bu Sinta.
"Astaga, kelakuan dua bocil ada-ada saja," gumam Pak Indra, namun masih terdengar oleh mereka.
"Tapi, masa iya hanya karena di naikin bocil, Nara sampai pingsan segala. Jangan-jangan ... " Bu Sinta menatap Andika yang sedang duduk di samping ranjang pasien.
"Kenapa Mamah lihatin aku?" tanya Andika yang kini sedang menatap ibunya.
Bu Sinta tidak menjawab perkataan anaknya. Dia memperhatikan wajah Anara. Terlihat sekali ada lingkar hitam di bawah mata.
__ADS_1
"Sepertinya Nara pingsan karena kamu mengajaknya begadang. Jadinya dia kelelahan, benar kan?" Bu Sinta memperhatikan raut wajah anaknya.
"Mamah so tahu," ucap Andika.
"Mengaku saja! Lagian Mamah bisa lihat kok, itu ada lingkar hitam di bawah mata istrimu. Pasti karena semalam begadang," kata Bu Sinta, sambil menatap anaknya.
"Maaf, kan Mamah sendiri yang menyuruh Anara hamil lagi. Ya sudah Dika langsung tancap gas pol."
"Astaga, nanti Mamah hukum kamu loh. Bisa-bisanya menyiksa istri di atas ranjang, sampai pingsan pula," Bu Sinta tak habis pikir dengan kelakuan anaknya.
"Maaf, Mah, Pah," ucap Dika sambil menatap Bu Sinta dan Pak Indra secara bergantian.
"Mah, jangan salahkan Mas Dika. Mungkin Nara pingsan karena memang kondisi Nara sedang tidak baik. Lagian biasanya Mas Dika tenaganya juga sangat kuat," ujar Anara.
Bu Sinta mendekati anaknya, lalu menjewer telinganya.
"Aduh sakit, Mah." Andika merintih karena telinganya sedikit sakit.
"Awas kalau kamu kasar lagi sama istrimu. Nanti Mamah carikan suami baru saja untuk dia," ancam Bu Sinta.
"Enak saja, aku akan hajar lelaki itu, jika berani merebut Nara dariku," ucap Andika.
"Jadi tugas kamu sekarang itu apa?" Bu Sinta bertanya kepada anaknya.
"Membuat Nara hamil, biar tidak di dekati lelaki lain."
Plak
Bu Sinta memukul bahu anaknya.
"Aduh, Mamah kok suka sekali menyiksa anak sendiri," ucap Andika sedikit merintih.
"Yang kamu pikir itu hanya urusan ranjang saja. Ingat Dik, hati-hati! Jangan cari kepuasan sendiri tapi mengakibatkan istrimu masuk rumah sakit seperti ini," ucap Bu Sinta menasehati anaknya.
"Tadi Nara sudah bicara loh, kalau kondisi dia sedang kurang baik," ucap Andika.
"Lalu kenapa kamu tetap memaksanya?"
"Siapa yang memaksa? Kami melakukannya atas dasar suka sama suka. Sama sekali tidak ada paksaan," ucap Andika.
"Stt, jangan di bahas lagi. Kepalaku pusing mendengarnya," sahut Anara, yang sejak tadi menyimak pembicaraan mereka.
"Maaf, sayang. Mamah hanya menasehati Dika saja," ucap Bu Sinta kepada menantunya.
"Iya, Mah." jawab Anara.
°°°°°°°°
__ADS_1