Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.65


__ADS_3

Sudah satu minggu kepergian Kiara. Kini Eva dan Alan juga kembali tinggal di rumah orang tua mereka. Selama satu minggu itu, Alan terus mencari keberadaan Kiara. Namun dia tidak menemukannya. Begitu juga dengan Pak Andika yang mengerahkan orang suruhannya untuk mencari keberadaan Kiara.


Saat ini Pak Andika dan keluarganya sedang sarapan bersama. Namun di antara mereka tidak ada yang bersuara. Karena Pak Andika tidak suka jika ada yang mengobrol di saat sedang makan.


"Setelah sarapan, Papah ingin berbicara kepada kalian," ucap Pak Andika sambil menatap Eva dan Alan yang duduk di depannya.


"Baik, Pah." jawab Eva.


Lima menit kemudian, mereka sudah selesai sarapan. Mereka langsung saja pergi ke ruang keluarga untuk bersantai sambil menikmati teh hangat. Karena itu sudah kebiasaan di keluarga mereka setelah sarapan.


"Alan, mulai hari ini kamu ikut Papah ke kantor."


"Tapi Alan harus kuliah, Pah."


"Setelah pulang kuliah, kamu harus ke kantor. Sudah saatnya untuk kamu belajar bisnis loh," setelah berbicara kepada Alan, Pak Andika beralih menatap Eva. "Eva, karena sebentar lagi kamu wisuda, lebih baik pernikahan kamu di tunda dulu jadi dua bulan lagi. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Pak Andika.


"Tidak, Pah. Eva nurut saja, yang penting jadi nikah."


"Papah mengambil keputusan ini karena pernikahan kamu nanti sekalian resepsi saja. Jika dalam waktu dekat, mungkin persiapan kurang maksimal. Lagian entah kapan Alan akan menikah, jika resepsi kamu bareng sama Alan, itu entah tahun kapan. Nanti malah keburu kamu berbadan dua," ujar Pak Andika.


"Apa Papah sudah membicarakan ini dengan Pak Dirga?" tanya Eva.


"Sudah, Pak Dirga juga menyetujuinya."


"Syukurlah, itu berarti sekarang giliran Mamah yang mempersiapkan semuanya," sahut Bu Anara.


"Pah, Mah, bagaimana dengan Kia? Apa kita akan tetap mengadakan resepsi pernikahan tanpa adanya Kia?" tanya Eva sambil menatap orang tuanya.

__ADS_1


"Biar itu jadi urusan Papah. Kamu fokus saja sama pernikahan kamu, Nak." ucap Pak Andika.


"Mudah-mudahan Kia cepat di temukan ya. Aku khawatir sekali sama dia," ucap Eva.


"Amin, semoga saja, Nak." jawab Pak Andika.


Tring tring


Pak Andika mendengar ponselnya berdering. Ternyata itu panggilan masuk dari orang suruhannya.


"Papah mau angkat telepon dulu," ucap Pak Andika, lalu segera pergi dari hadapan mereka.


Bu Anara menatap Alan yang sedang memainkan ponselnya.


"Alan, bagaimana pencarian kamu? Apa kamu sudah menemukan keberadaan Kia?"


"Awas saja Alan, jika nanti kamu menyesalinya. Mungkin karena kamu yang masih terlalu labil, belum bisa menyelesaikan masalah, jadi Kia juga meragukanmu," ucap Bu Anara.


"Kalau itu sih pasti, pengangguran seperti Alan memang sudah pasti di ragukan," sahut Eva dengan sedikit menahan tawanya.


"Senang sekali kalau mengejekku," gerutu Alan, namun masih terdengar oleh mereka.


"Itu kenyataan, Alan. Bisa saja Kiara pergi untuk mencari ayah yang cocok untuk anaknya. Kamu kan masih terlalu labil. Belum cocok untuk menjadi seorang ayah," ucap Bu Anara.


"Ah lama-lama aku bosan di pojok-pojokin terus. Lebih baik aku pergi saja," Alan berlalu pergi dari hadapan mereka.


"Dasar anak itu," gumam Bu Anara, sambil menatap kepergian anaknya.

__ADS_1


“Mah, Eva pergi dulu ya, mau ke kampus bentar. Ada hal yang harus di urus,” ucap Eva berpamitan.


“Hati-hati, Nak.”


“Iya, Mah.” Jawabnya sambil beranjak dari duduknya.


Setelah kepergian Eva, Bu Anara juga pergi ke kamar. Ternyata di kamar ada suaminya yang baru selesai berteleponan.


“Pah, Papah habis telepon siapa?” tanya Bu Anara.


“Orang suruhan Papah. Mereka sudah menemukan keberadaan Kiara, Mah.” ucap Pak Andika.


“Wah bagus dong, itu berarti kita harus menemuinya.”


“Jangan sekarang, Mah. Takutnya dia malah menghindar. Kita bantu lewat orang lain saja,” ujar Pak Andika.


“Apa maksudnya?”


“Sini Papah bisikin,” Pak Andika mendekati istrinya, lalu berbisik di telinga istrinya.


Bu Anara setuju dengan ide suaminya.


“Papah juga minta agar Mamah merahasiakan semuanya dari Alan dan yang lainnya.”


“Baik, Pah.” ucap Bu Anara, yang menyetujui permintaan suaminya.


Mungkin membantu Kiara secara diam-diam, adalah hal yang tepat untuk saat ini. Saat waktunya tiba, Pak Andika akan menemuinya. Yang terpenting saat ini calon menantu dan calon cucunya ada di dalam jangkauannya.

__ADS_1


__ADS_2