Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.60


__ADS_3

Vanesa sedang bersantai di ruang keluarga. Dia mendengar ketukan pintu dari luar rumah. Vanesa beranjak dari duduknya, lalu membukakan pintu itu.


Cklek


Vanesa melihat dua orang polisi. Tiba-tiba dia merasa panik dan hendak menutup kembali pintu rumahnya. Namun salah satu polisi itu menahan tangannya.


"Lepas!" ucap Vanesa mencoba untuk melepaskan diri.


"Maaf Nona, sebaiknya Nona ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan atas kecelakaan yang menimpa saudara Aldi.


"Saya tidak salah, saya tidak sengaja," Vanesa terus memberontak meminta untuk di lepaskan.


Kebetulan Pak Indra sedang ada di dapur, namun mendengar suara ribut-ribut dari luar. Pak Indra mendekat ke sumber suara.


Pak Indra sedikit bingung kenapa ada polosi datang ke rumahnya. Apalagi mereka sedang memegangi tangan Vanesa.


"Ada apa ini? Kenapa memegang tangan anak saya seperti itu?" tanya Pak Indra.


"Maaf, Pak. Kami datang untuk menangkap Nona Vanesa atas tuduhan tabrak lari," ucapnya.


"Siapa yang di tabrak?" Pak Indra masih belum mengerti dengan apa yang di katakan oleh polisi itu.


"Pak Aldi, yang sekarang sedang koma di rumah sakit," ucap salah satu dari polisi itu.


Pak Indra menatap Vanesa seolah meminta penjelasan.


"Nes, apa semuanya benar?" Pak Indra ingin mengetahui jawabannya langsung dari anaknya.


Vanesa hanya menunduk tak berani berkata apa pun.


"Jawab!" ucap Pak Indra dengan sedikit berteriak.


"Iya," ucap Vanea yang masih menundukan pandangannya.


Plak plak

__ADS_1


Pak Indra menampar kedua pipi anaknya.


"Maaf, Pak. Jangan ada kekerasan! Biar kami yang mengurus kasus ini," ucap salah satu polisi itu.


"Biarkan saya bicara sebentar sama anak saya," ucap Pak Indra.


Polisi itu melepaskan pegangannya di tangan Vanesa. Pak Indra menarik Vanesa masuk ke rumah.


"Papah tidak menyangka kamu akan berbuat hal seperti itu. Papah didik kamu sampai kamu kuliah, semua yang kamu minta juga selalu Papah kasih. Tapi kenapa kamu malah berbuat kriminal seperti ini?" Pak Indra memijat pelipisnya yang tak sakit.


"Maaf, Pah." Vanesa hanya bisa menunduk di depan ayahnya. Selama ini dia tidak pernah melihat ayahnya semarah itu.


"Pak polisi, bawa saja anak saya!" ucap Pak Indra.


Kedua polisi itu masuk ke rumah, lalu membawa Vanesa pergi. Pak Indra tetap di dalam rumah, tanpa melihat kepergian anaknya. Jujur saja saat ini dia sangat kecewa.


Vanesa sudah sampai di kantor polisi. Kebetulan di sana juga sudah ada Andika yang datang atas undangan sebagai pelapor.


"Mas, tolongin aku! Aku tidak mau di penjara," Vanesa menatap Andika penuh harap. Sedangkan Andika menatap Vanesa dengan tatapan dingin.


"Aku tidak sengaja," ucap Vanesa.


"Maksud kamu, tadinya mau menabrak Anara tapi malah kena Aldi, bagitukah?"


Vanesa hanya diam tanpa menjawab perkataan suaminya.


"Sudah tidak ada lagi maaf untukmu. Secepatnya aku akan urus perceraian kita," kata Andika, sambil menatap Vanesa dengan serius.


Vanesa kembali menegakkan kepalanya. Dia menatap Andika yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin.


"Jangan, Mas! Jangan ceraikan aku!" Vanesa memerosotkan tubuhnya. Lalu dia berlutut di kaki Andika.


Andika membuang arah pandangnya. Dia tidak mau menatap istrinya yang sedang memohon.


"Jauhkan tangan kotormu itu dari kakiku!" Andika menjauhkan diri dari Vanesa. Lalu dia pergi dari hadapannya.

__ADS_1


Vanesa hanya bisa menangis, dia tidak rela jika di campakan seperti ini oleh suaminya.


'Awas saja Anara, ini semua gara-gara kamu,' batin Vanesa.


Karena rasa bencinya terhadap Anara, apa pun masalahnya dia selalu menyalahkan Anara.


Setelah selesai memberikan keterangan kepada polisi, Andika langsung pulang.


Saat di perjalanan Bu Sinta menelfonnya, dan memintanya untuk pergi ke rumah sakit.


🍀🍀🍀


Andika sudah berada di depan ruangan Anara. Namun dia mendengar ribut-ribut dari dalam. Baru juga dia akan membuka pintu, namun pintu itu terbuka dulu. Bu Sinta keluar dari ruangan itu.


"Mah, kok seperti ada ribut-ribut?" tanya Andika.


"Iya, Nak. Anara terus meminta untuk di pertemukan dengan Aldi. Namun Mamah takut jika Anara akan down setelah mengetahui semua kebenarannya." ujar Bu Sinta.


"Lalu Mamah mau kemana?"


"Mamah mau memanggil Dokter. Kamu masuk deh tenangin Anara," pintanya.


"Baik, Mah." Andika masuk ke ruangan itu dan melihat Anara yang sedang duduk termenung di atas ranjang pasien.


"Nara, kamu kenapa?" tanya Andika.


Nara menatap ke sumber suara. Dia menyuruh Andika untuk mendekat.


"Kak, tolong pertemukan aku dengan Kak Aldi," ucap Anara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Nanti yah, nunggu Dokter dulu," ucapnya.


"Kalau tetap tidak boleh?"


"Aku akan pertemukan kamu dengan Aldi tanpa sepengetahuan siapa pun."

__ADS_1


Anara tersenyum menatap Andika. Dia merasa senang dan sedikit tidak sedih lagi.


__ADS_2