
Akhirnya Andika kembali bersemangat, karena puasa panjangnya sudah berakhir. Andika menghampiri istrinya yang sedang berkemas. Kebetulan besok mereka akan pergi liburan untuk tiga hari ke depan.
"Sayang, sudah selesai?" Andika duduk di sebelah istrinya yang sedang memasukan pakaian ke dalam koper.
"Sudah nih," Anara menutup koper itu, lalu menaruhnya di dekat lemari.
"Baiklah, sekarang kita langsung istirahat saja, menyiapkan tenaga untuk besok," ajak Andika.
"Iya, Mas." Anara mengikuti suaminya yang terlebih dahulu sudah berada di atas tempat tidur.
Andika memiringkan tubuhnya, lalu menyangga kepalanya dengan satu tangannya. Dia memperhatikan istrinya yang sedang berjalan mendekatinya.
"Kenapa Mas Dika lihatin Nara seperti itu?" tanya Anara.
"Sebelum tidur, satu ronde dulu yuk!" ajak Andika, yang memang sudah tidak tahan karena sudah berpuasa cukup lama.
"Besok saja, kalau sekarang melakukan itu, besok mau pergi malah kecapean," ucap Anara.
"Baiklah, besok ya kita melakukannya. Mas akan tagih janjimu jika kita sudah sampai di Bali."
"Tenang saja, aku tidak akan ingkar janji," Anara naik ke atas tempat tidur, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Anara melihat suaminya yang masih berada di posisi yang sama.
"Mas, ayo tidur!" ajak Anara.
"Iya, sayang." Andika membenarkan posisinya. Dia memeluk pinggang istrinya.
Kini ke duanya mulai memejamkan ke dua matanya.
Anara masih terjaga, dia belum tidur, padahal sudah lima belas menit dia memejamkan matanya.
Anara merasakan tangan susminya menelusup ke dalam bajunya. Saat tangan itu hendak ke bagian atas, Anara memukul tangan suaminya.
"Aduh ... " pekik Andika karena merasa sakit.
Anara membalikan tubuhnya, sehingga dia saling berhadapan dengan suaminya.
"Katanya ngajakin tidur, tapi tangannya tidak bisa diam," ucap Anara.
Andika malu sekali karena istrinya memergoki aksinya. Padahal beberapa waktu yang lalu dia berbuat seperti itu, tapi istrinya tidak terbangun.
"Maaf, sayang. Kirain kamu sudah tidur," Andika memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Oh jadi kalau aku sudah tidur, Mas Dika bebas ngapain saja. Jangan-jangan selama ini Mas Dika sering jahil kalau aku tidur," Anara menatap suaminya penuh selidik.
"Maaf, sayang. Jangan marah ya!"
"Tidak kok, tapi kalau mau ngapa-ngapain tinggal bilang saja. Jangan sembunyi-sembunyi seperti itu," pinta Anara.
__ADS_1
"Kalau begitu, apa boleh minta sekarang?"
"Tidak, besok saja," Anara kembali membalikan tubuhnya, sehingga saat ini dia membelakangi suaminya.
••••••
Pagi ini Anara dan yang lainnya sudah ada di perjalanan menuju ke Bali.
Hanya satu jam lima puluh menit, pesawat yang di naiki oleh mereka mendarat dengan selamat di bandara. Satu per satu penumpang mulai turun secara bergantian.
"Tujuan kita mau kemana nih?" tanya Anara.
"Ke hotel dong, sayang. Mobil jemputan kita sudah menunggu di depan," kata Andika.
Bu Sinta dan yang lainnya mengikuti Andika yang sudah melangkah terlebih dahulu.
Benar saja, mobil yang menjemput mereka sudah ada di depan bandara. Kebetulan supirnya sedang berdiri di samping mobil.
"Maaf, apa ini Pak Andika?" supir itu mencocokan foto Andika yang ada di ponselnya dengan Andika yang asli.
"Benar, Pak." ucapnya dengan ramah.
"Mari Pak, Bu," supir itu menarik pintu mobil bagian belakang sehingga bergeser.
Anara dan yang lainnya duduk di belakang. Sedangkan Andika duduk di sebelah Pak supir. Anara kembali menggeser pintu mobil itu sehingga tertutup.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, mobil itu sudah sampai di parkiran hotel. Pak supir membantu menurunkan barang-barang milik Andika dan keluarganya.
Setelah mendapat kartu akses masuk kamar, mereka segera pergi menuju ke kamar yang akan mereka tempati.
Andika membuka pintu kamarnya. Anara mengikuti suaminya masuk ke kamar yang akan di tempati oleh mereka.
"Mas, anak-anak tidak tidur sama kita?" Anara menaruh kopernya di lantai dekat tempat tidur.
"Tidak dong, sayang. Kalau anak-anak sama kita, nanti kita tidak bisa bikin adik baru."
"Baru juga sampai sudah bahas urusan ranjang," Anara duduk di pinggir ranjang.
"Cuma mengingatkan, takutnya kamu melupakan janjimu."
"Aku ingat kok," kata Anara, lalu dia membuka isi kopernya. Dia mengambil pakaian ganti, karena dia akan langsung mandi.
"Kamu mau mandi sekarang?" tanya Andika.
"Iya, aku gerah sekali." Anara beranjak dari duduknya, karena hendak pergi ke kamar mandi. Namun Andika menahan tangannya sehingga Anara tak jadi melangkah.
"Ada apa, Mas?" tanya Anara, sambil menatap suaminya.
"Nanti saja mandinya," Andika menarik Anara sehingga terjatuh ke atas pangkuannya.
__ADS_1
"Mas apa-apan sih," Anara mencoba untuk melepaskan diri dari suaminya. Dia takut suaminya akan meminta haknya sekarang. Dia belum siap, karena masih lelah.
"Tenang saja, aku tidak akan macam-macam kok. Hanya ingin berada di posisi seperti ini," ucapnya.
Anara langsung diam di pangkuan suaminya.
°°°°°°°°°°
Malam ini Anara sudah bersiap. Dia memakai lingeria berwarna merah sesuai keinginan suaminya.
Cklek
Pintu kamar mandi terbuka. Andika keluar dari kamar mandi. Dia melihat istrinya yang sedang berpose sexy di atas tempat tidur.
"Sayang, kamu mau menggodaku?" Andika menghampiri Anara. Dia segera naik ke atas tempat tidur.
"Aku hanya melakukan yang terbaik untuk menyenangkan suamiku," kata Anara.
Andika membelai mesra wajah istrinya. Dia juga memegang daerah lainnya. Mulai dari leher dan terus sampai ke bawah.
"Ini semuanya milikku," kata Andika, sambil menunjuk bagian kesukaannya.
Anara hanya menunduk malu, entah kenapa malam ini dia begitu gugup. Padahal ini bukan yang pertama kalinya untuk mereka.
"Kamu cantik sekali," Andika mencoba untuk memancing hasrat istrinya dengan memberinya sentuhan-sentuhan.
Anara menikmati semua perlakuan suaminya. Bahkan dia memejamkan ke dua matanya.
"Buka matamu, sayang. Lihat aku!" pinta Andika.
Anara membuka ke dua matanya. Dia menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.
Anara melihat suaminya yang sedang mendekatkan bibirnya. Spontan dia kembali menutup matanya.
"Buka saja! Kamu kok mendadak malu-malu seperti ini?"
"Aku gugup," ucap Anara.
"Seperti anak gadis saja pakai gugup segala," ujar Andika, lalu dia merobek lingeria yang di pakai oleh istrinya.
Srak
Dengan sekali tarik, lingeria itu langsung lepas dari tubuh Anara.
Andika mulai mencium istrinya, dan tangannya tak mau diam. Dia menyentuh apa pun yang ingin dia sentuh. Suara desa*han istrinya membuatnya semakin berhasrat.
Andika langsung melucuti pakaiannya. Kebetulan dia sama sekali belum melepas pakaiannya. Setelah itu, dia juga melepas penghalang terakhir yang menutupi tubuh istrinya. Mereka berdua sudah berada di bawah selimut. Andika mulai memposisikan diri melakukan penyatuan. Namun tiba-tiba dia menghentikannya saat mendengar ketukan pintu dari luar.
"Sttt ... Siapa sih yang datang? Tidak tahu waktu sama sekali," Andika segera beranjak dari atas tempat tidur untuk membukakan pintu.
__ADS_1
Anara hanya menahan tawanya saat melihat raut wajah suaminya yang terlihat sudah bergairah.
°°°°°