
Terlihat Adelia yang sedang fokus menatap layar laptopnya. Dia mendengar ketukan pintu dari luar ruangannya.
“Masuk!” ucapnya, tanpa menghentikan aktivitasnya.
Terlihat Eva memasuki ruangan itu dengan menenteng paper bag di tangannya. Terlihat senyum mengembang di sudut bibirnya.
“Kak Adel, nih aku bawa sesuatu,” Eva duduk di kursi depan meja kerja Adelia.
“Bawa apa, Eva?”
Eva mengeluarkan beberapa sampel undangan pernikahan, lalu menaruhnya di atas meja.
“Menurut Kakak bagus yang mana?” Eva meminta Adelia untuk memilihkan undangan pernikahan untuknya.
Adelia menatap beberapa macam undangan pernikahan yang ada di atas meja. Lalu pilihannya jatuh pada undangan berwarna coklat.
“Ini bagus,” ucapnya.
“Sebenarnya sih aku kurang suka warna itu, tapi kalau menurut Kakak bagus, ya sudah deh aku pilih warna itu, “Eva kembali memasukan undangan pernikahan itu ke dalam paper bag.
“Kamu datang sendiri?” Adelia bertanya kepada adiknya.
“Iya,Kak. Kebetulan Kak Rian sedang sibuk di kantornya.”
“Mau makan siang bersama tidak?” tawar Adelia.
“Boleh, Kak.”
Adelia mengajak Eva untuk makan siang bersama di restoran langganannya yang tak terlalu jauh dari kantornya.
Selama makan siang, Eva terus mengoceh. Dia bercerita tentang pertemuan pertamanya dengan Rian. Bahkan hingga keduanya memilih untuk berkomitmen.
Adelia merasa senang mendengar cerita adiknya. Jika adiknya bahagia, dia juga ikut bahagia.
‘Semoga saja Rian tidak mengecewakan Eva,’ batin Adelia.
°°°°°°°°
Beberapa hari kemudian.
Eva sedang bersiap-siap di kamarnya. Dia akan pergi ke butik untuk mencari gaun pengantin bersama Rian.
Tok tok
Terdengar ketukan pintu dari luar kamar. Eva beranjak dari duduknya, lalu membuka pintu. Ternyata Bu Anara yang berdiri disana.
__ADS_1
“Ada apa, Mah?” tanya Eva.
“Itu di depan ada Nak Rian,” ucapnya.
“Baiklah, kebetulan aku juga sudah siap,”
Eva kembali masuk ke kamar untuk mengambil tas slempang miliknya. Lalu dia segera pergi untuk menemui Rian.
Eva berniat mencari gaun pengantin yang sudah jadi. Karena jarak pernikahannya juga satu bulan lagi, dan waktu satu bulan itu tidak cukup untuk merancang dan membuat gaun pengantin yang Eva inginkan.
Saat ini mereka berdua ada di perjalanan menuju ke butik. Beberapa kali Eva menatap ke samping. Dia begitu beruntung memiliki lelaki tampan dan baik hati seperti Rian.
“Kenapa lihatin aku?” Rian menatap ke samping. Dia melihat kekasihnya yang sedang memperhatikannya.
“Kamu tampan,” Eva memuji kekasihnya.
“Kamu juga cantik,” ucap Rian.
Lalu Rian kembali berucap di dalam hati,
‘Cantik seperti cinta pertamaku.’
Eva tersipu malu saat mendapat pujian itu dari Rian. Namun, bagaimana jadinya kalau Eva tahu jika Rian memberi pujian hanya karena Eva mirip dengan mantan kekasihnya. Pasti Eva akan merasa kecewa.
°°°°°°°°
Adelia sedang bersantai bersama Bu Anara. Dia mendengar ponselnya berbunyi. Ternyata itu panggilan masuk dari Reno.
📞”Hallo, Kak Reno.” Ucap Adelia, yang kini sudah mengangkat panggilan itu.
📞”Kamu ada di rumah tidak?”
📞”Ada, memangnya kenapa?” tanya Adelia.
📞”Aku ada di depan rumahmu.”
Adelia sedikit terkejut karena Reno sudah ada di depan rumah tanpa membuat janji dulu dengannya.
📞”Sebentar! Aku mau bukain pintu dulu,” Adelia beranjak dari duduknya, lalu pergi ke depan untuk membuka pintu.
Ternyata benar, Reno sudah berdiri disana dengan gaya kerennya.
“Ayo masuk!” ajak Adelia.
Reno mengikuti Adelia masuk ke rumah.
__ADS_1
Bu Anara juga menyambut hangat kedatangan Reno.
“Selamat datang, Nak Reno,” ucap Bu Anara ramah.
“Siang, Tante. Maaf saya datang tiba-tiba seperti ini.”
“Siang juga, Nak. Tidak apa-apa kok, kamu datang kapan saja, pintu rumah ini selalu terbuka untukmu,” ucap Bu Anara.
“Terima kasih, Tan.”
“Sama-sama, Nak. Sebentar ya, saya buatkan minum dulu.”
“Tidak usah repot-repot, Tan.”
“Saya tidak merasa di repotkan kok,” ucap Bu Anara, lalu segera pergi ke dapur.
Tak lama, Bu Anara sudah kembali dengan membawa es teh manis dan satu toples makanan ringan untuk Reno.
“Silahkan di nikmati, Nak.” Ucap Bu Anara.
“Terima kasih, Tante.”
“Sama-sama.”ucap Reno, lalu tatapannya beralih ke Adelia. “Maaf, Del. Sebenarnya kedatangan saya kesini hanya ingin berpamitan. Besok saya mau berangkat ke luar negeri,” ujar Reno.
“Secepat itukah?”
“Ya begitulah, tapi nanti saya pulang kok, saat pernikahan adik saya Rian.”
“Hati-hati, Kak. Semoga Kak Reno selamat sampai tujuan.”
“Amin, semoga saja. Oh iya, saya juga mau menitipkan ini,” Reno mengambil kotak cincin dari dalam tas kecil yang sedang dia pakai. Lalu memberikannya kepada Adelia.
“Untuk apa cincin ini?”
“Itu bukti keseriusanku kepadamu. Simpanlah cincin itu, sekarang belum saatnya aku memakaikan cincin itu di jari manismu. Namun setelah pernikahan Rian, aku akan memakaikan cincin itu di depan semua orang,” jelas Reno.
“Lalu, kenapa di kasihnya sekarang?” tanya Adelia.
“Biar tidak di dahului oleh orang lain. Kamu harus menjadi milikku.”
“Ada-ada saja, baiklah aku akan simpan cincin ini sampai kak Reno pulang.”
Reno merasa senang karena Adelia tidak menolak cincin pemberian darinya.
Hanya sebentar Reno mengobrol dengan Adelia atau pun Bu Anara. Dia memilih untuk pulang, karena masih ada kepentingan yang harus dia urus sebelum pergi besok.
__ADS_1