Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.90


__ADS_3

"Bagaimana, Sayang? Kamu suka?" tanya Andika yang kini duduk di depan Anara.


"Suka, Mas. Terima kasih," Anara memperlihatkan senyum manisnya.


"Aku sengaja loh kasih kejutan ini, karena selama kita menikah, aku belum pernah memberikan kejutan apa pun," Andika memegang ke dua tangan istrinya, lalu mengecup singkat punggung tangannya. "Aku juga mau minta maaf, karena sebelumnya sudah melakukan hal itu, sehingga kamu hamil Adel. Maaf aku tidak ada di samping kalian. Jika saat itu aku tahu kamu hamil, dan aku belum menikah, aku pasti akan menikahimu." ujar Andika.


"Aku sudah memaafkanmu kok, Mas. Lagian aku hamil saat Mas Dika sudah menikah dengan Kak Nesa. Tidak mungkin jika saat itu aku merebut Kak Dika dari kakakku sendiri."


"Kamu mulia sekali, sayang. Aku jadi semakin beruntung memiliki istri sepertimu," Andika kembali mencium punggung tangan istrinya.


"Mas," ucap Anara.


"Iya, sayang? Ada apa?"


"Jangan tinggalin aku," ucapnya.


"Tidak akan, Mas tidak akan pernah meninggalkanmu, sayang." Andika beranjak dari duduknya, lalu dia mendekati istrinya. "Jika Mas meninggalkanmu, itu sama saja jika Mas ini bodoh. Karena sudah melepaskan wanita berhati mulia seperti kamu," ucap Andika, sambil memeluk istrinya yang sedang duduk.


"Terima kasih," Anara mengecup singkat bibir suaminya.


"Kamu menggodaku, sayang?"


"Tidak kok," Anara mengalihkan arah pandangnya.


"Sayang, itu apa?"


Anara kembali mengalihkan arah pandangnya sehingga kini dia menatap suaminya.


Cup


Andika mendaratkam ciuman*nya di bibir istrinya. Dia juga menahan tengkuk istrinya agar ciuman*nya berlangsung lama.


Anara menepuk-nepuk dada suaminya, spontan Andika melepaskan ciuman*nya.


"Mas, aku malu, ini di tempat umum," ucap Anara.


"Coba saja kamu lihat, disini tidak ada siapa pun selain kita berdua loh."


Anara menatap ke segala arah. Ternyata benar disana tidak ada siapa pun. Lalu dimana wanita tadi, pikirnya.


"Jika kita melakukan lebih dari yang tadi juga tidak mungkin ada yang lihat. Karena semua karyawan ada di belakang," ucapnya.


"Mas apaan sih," Anara terlihat malu-malu.


"Becanda kali," Andika mencolek dagu istrinya. "Sekarang kita makan saja ya! Sebentar, Mas mau menghubungi manager restoran ini dulu," Andika mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celana. Lalu dia menghubungi manager restoran itu.


"Antar makanannya sekarang!" ucap Andika dari balik telfon.


Setelah selesai menelfon, Andika kembali memasukan ponsel miliknya ke dalam saku celana.


Terlihat beberapa waiters yang datang dengan membawa pesanan mereka.


"Permisi, Tuan, Nona," ucapnya, lalu menghidangkan makanan yang di bawanya ke atas meja.


"Terima kasih," ucap Anara.


"Sama-sama," jawabnya, sambil tersenyum menatap Anara.


Anara menatap beberapa menu yang terhidang di atas meja.

__ADS_1


"Mas, ini kok banyak sekali?"


"Tidak kok, sayang. Porsinya sedikit cuma memang ada beberapa macam menu. Tapi menurut Mas, ini tidak banyak kok," ucap Andika.


Andika mengambil piring kosong yang ada di depan istrinya. Lalu dia memasukan nasi dan lauk ke piring itu.


"Ini untuk kamu," Andika meletakan piring yang sudah terisi nasi dan lauk di depan meja istrinya.


"Terima kasih, Mas." ucap Anara, lalu dia juga mengambil piring kosong yang ada di depan suaminya.


"Tidak usah di ambilkan, biar Mas saja," Andika mengambil piring yang sedang di pegang oleh istrinya.


"Gantian loh, Mas. Tadi Mas Dika yang sudah mengambilkan makanan ini untuk Nara, jadi gantian dong."


"Tidak usah, istriku." Andika menatap wajah istrinya yang duduk di depannya, lalu dia tersenyum.


'Kenapa perhatian kamu yang seperti ini malah membuatku takut,' batin Anara sambil menatap suaminya.


"Sayang, kok melamun? Ayo makan!" Andika melihat istrinya yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


"Eh iya, Mas."


°°°°°°°°


Anara dan Andika sudah pulang dari restoran. Ke duanya terlihat sangat bahagia.


Pak Indra menatap anak dan menantunya yang sedang memasuki rumah dengan bergandengan tangan.


"Wah anak-anak Papah sepertinya sedang bahagia," ucap Pak Indra.


"Iya nih, Pah. Anara sangat bahagia," ucap Anara.


Pak Indra merasa bersyukur, karena sekarang Andika menjadi sumber kabahagiaan anaknya. Pak Indra belum pernah melihat anaknya terlihat sangat bahagia seperti itu.


"Nara mau ke kamar dulu ya, Pah." ucapnya.


"Iya, Nak."


Pak Indra menatap anak dan menantunya yang sedang berjalan melewatinya.


Anara dan Andika sudah ada di kamar. Namun Anara mendengar ketukan pintu dari luar kamar, tapi ketukan tidak keras.


"Itu siapa sih yang ketuk pintu? Kok pelan seperti itu?"


"Coba saja kamu buka, sayang." ucap Andika, yang sedang melepaskan kancing kemejanya.


Anara mendekati pintu, lalu membukanya. Dia melihat Adel yang terjatuh di depan pintu. Mungkin saat dia membuka pintu, Adel memeganginya. Sehingga dia terjatuh ke lantai.


"Astaga, Adel. Kamu yang ketuk-ketuk pintu, Nak?" Anara segera menggendong Adelia.


"Mamah ... " ucap Adelia sambil tersenyum menatap ibunya.


"Kamu kangen sama Mamah?" Anara mengecup singkat pipi anaknya. "Ikut masuk yuk!" Anara kembali menutup pintu kamarnya.


Andika melihat istrinya yang sedang menggendong anaknya.


"Sayang, tadi siapa yang ketuk-ketuk pintu?"


"Adel, Mas. Tadi dia berdiri sendirian di depan pintu kamar.

__ADS_1


"Wah anak Papah pintar sekali sih," Andika mendekati istrinya, lalu dia mencium ke dua pipi anaknya secara bergantian.


Anara mendudukan Adelia di atas kasur.


"Sayang, kamu kok bisa ada di depan kamar Mamah?"


"Angen Mamah," ucap Adelia dengan suara yang masih tidak terlalu jelas.


"Wah, ternyata kamu kangen sama Mamah," Anara merasa senang karena anaknya begitu pintar.


"Sama Papah kangen tidak?" Andika bertanya kepada anaknya.


Adelia menggelengkan kepalanya.


"Masa sama Mamah kangen, tapi sama Papah tidak? Nanti Mamahnya di culik Papah loh biar Adel tidak bisa ketemu Mamah," Andika meledek anaknya.


"Huwa ... Mamah ... " Andelia menangis sambil menatap ibunya.


"Mas, jangan di ledekin!" ucap Anara.


"Gemas sekali loh, masa sama Papahnya sendiri tidak kangen."


"Namanya juga anak kecil, kamu saja yang beperan."


"Siapa yang baper?"


"Mas Dika," ucapnya.


"Papah mau mandi dulu loh, sayang. Nanti kalau Papah sudah kembali, kamu harus sudah kangen sama Papah. Awas saja kalau tidak kangen," Andika melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.


"Sayang, adikmu mana? Kok tidak di ajak kesini?"


"Akal ... " ucap Adelia.


"Nakal? Eva nakal?" tanya Anara.


Adelia hanya menganggukan kepalanya.


"Adel di apain sama Eva?"


Adelia memperlihatkan lengannya yang merah.


"Astaga, ini kenapa sayang?"


Adelia memperaktikan saat tadi Eva mencubitnya.


"Adel nangis tidak?"


Adelia hanya menggelengkan kepalanya.


"Anak Mamah memang pintar. Kamu harus mengalah sama adikmu ya, Nak. Jangan berebut mainan," ucap Anara.


Adelia menganggukan kepalanya.


"Kamu mengerti apa kata Mamah?"


Adelia masih menganggukan kepalanya.


"Astaga, kamu pintar sekali, Nak." Anara merasa gemas dengan anaknya.

__ADS_1


Adelia dan Eva memang sedikit berbeda. Adelia selalu mengerti jika Ibunya pergi, dia jarang merengek. Selalu menurut sama pengasuhnya. Sedangkan Eva sedikit tidak mudah menurut.


__ADS_2