Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.127


__ADS_3

Setiap hari Anara selalu mengunjungi Kakaknya di rumah sakit jiwa. Walaupun Vanesa jahat, tapi Anara tetap perhatian. Biar bagaimanapun, Vanesa adalah Kakaknya. Jadi dia harus tetap menjalin hubungan yang baik. Dia yakin jika suatu saat Vanesa akan berubah.


Pagi ini Anara sedang sibuk melayani suami dan anak-anaknya di meja makan. Dia terlihat sangat bahagia karena memiliki keluarga yang sempurna.


“Mamah, nanti anterin Adel ya ke sekolah,” pinta Adelia, sambil menikmati sarapan paginya.


“Siap, sayang.” Jawab Anara, sambil tersenyum.


Setelah selesai sarapan, Anara langsung bersiap untuk mengantar anak-anaknya. Dia akan pergi di antar oleh supir.


Anara dan anak-anaknya berpamitan kepada Andika. Lalu mereka masuk ke mobil. Begitu juga dengan Andika yang masuk ke dalam mobilnya sendiri. Dua mobil itu keluar dari halaman rumah. Andika memilih untuk mengemudi di belakang mobil yang di naiki oleh istri dan anak-anaknya.


Saat ini Anara sudah sampai di sekolah. Kebetulan sekolah anak-anaknya saling bersebelahan. Setelah melihat anak-anaknya masuk ke dalam, dia meminta supir untuk mengantarnya ke rumah sakit jiwa. Dia akan menemui Vanesa untuk memberikan buah-buahsn segar yang sudah dia siapkan dari rumah.


“Pak, tunggu sebentar ya!” pinta Anara, yang hendak turun dari mobil.


“Baik, Nyonya.” ucapnya.


Seperti biasa, Anara menemui perawat yang secara khusus merawat Vanesa. Lalu dia meminta untuk di pertemukan dengan Vanesa. Karena di rumah sakit itu, tidak sembarang menemui pasien tanpa ijin terlebih dahulu.


Saat ini Anara sudah bersama Kakaknya.


“Kak, Nara bawakan buah potong loh,” Anara membuka wadah berisi buah potong yang sudah dia siapkan.


Vanesa menatap wadah buah potong yang sedang di pegang oleh adiknya, lalu dia merebutnya. Vanesa langsung memakan buah itu. Namun dia makan menggunakan tangan. Dan juga sekali makan langsung dua potong.


“Pelan-pelan, Kak. Tidak ada yang akan merebutnya kok,” Anara gemas melihat tingkah Kakaknya.


Sambil menunggu Vanesa selesai makan, Anara memilih untuk mengobrol dengan perawat yang di sewa khusus untuk memantau perkembangan Vanesa.


°°°°°°°°°°°°


Siang ini, ke tiga anak Anara di jemput oleh Ani. Karena kebetulan Bu Sinta sedang tidak enak badan, dan meminta Anara untuk menemaninya.

__ADS_1


“Mah ... Mamah ... “ terdengar teriakan anak kecil dari luar rumah.


Anara yang sedang bersama Bu Sinta, memilih untuk pergi ke depan rumah. Sepertinya anak-anaknya sudah pulang sekolah.


“Adel, kok teriak-teriak sih?” Anara mendekati Adelia yang sedang memanggil-manggil namanya.


“Mamah lihat nih, Adel juara satu,” Adelia memperlihatkan rapor yang sedang dia pegang.


Anara mengambil rapor yang ada di tangan anaknya. Ternyata benar, anaknya juara satu. Bahkan dengan nilai sempurna.


“Wah, kamu pintar sekali, sayang. Mamah bangga deh sama kamu,” Anara memeluk anaknya, lalu menciumi pipinya.


“Mah,” terlihat Eva memanggil Mamahnya dengan sedikit lesu.


“Ada apa, sayang?” Anara melepaskan pelukannya dari Adelia, lalu dia menatap Eva.


“Eva cuma juara dua, apa Mamah marah sama Eva?” tanya Eva dengan lesu.


“Tidak kok, untuk apa Mamah marah? Lagian juara dua juga sudah bagus, Nak.” Anara mencubit gemas pipi anaknya.


Eva langsung memperlihatkan senyum manisnya.


“Nah, seperti itu terlihat cantik,” Anara juga mencium pipi Eva.


“Banyak drama,” ucap Alan, yang sejak tadi menatap interaksi ibu dan kakaknya.


“Alan, kamu peringkat berapa, Nak?” Anara beralih menatap anak bungsunya.


“Sudah jelas juara satu, tidak ada yang menandingi kepintaranku,” ucapnya, sambil melipat ke dua tangannya di dadanya.


Alan terlihat arrogan walaupun masih kecil. Namun di balik sifatnya itu, dia sangat menyayangi kakak-kakaknya.


“Wah anak Mamah pintar-pintar semua, Mamah bangga sama kalian," Anara memeluk ke tiga anaknya.

__ADS_1


Anara menyuruh anak-anaknya ke kamar, sedangkan dia menyiapkan makan siang untuk mereka.


°°°°°°°


Anara sudah memberitahukan kepada suaminya jika ke tiga anaknya menjadi juara kelas. Tentu Andika sangat bangga. Itu berarti, dia tidak sia-sia mendidik anaknya selama ini. Andika akan pulang lebih cepat. Dia berniat untuk mengajak istri dan anak-anaknya untuk pergi keluar.


Tin tin


Anara mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah. Dia bisa mengira jika yang datang itu suaminya. Anara langsung meyambut kedatangan suaminya.


"Mas, kamu pulang cepat?" Anara yang baru membuka pintu, melihat suaminya sedang melangkah mendekati pintu masuk.


"Iya nih, sayang. Mas ingin mengajak kalian keluar," ucap Andika sambil memberikan tas kerjanya kepada istrinya.


"Mas Dika masih cape loh, masa langsung pergi lagi. Bagaimana jika nanti malam saja kita pergi," Anara memberikan sarannya.


"Baiklah, Mas setuju."


Anara mengantar suaminya hingga ke kamar. Tak lupa, dia menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


"Mas, aku keluar dulu ya," pamit Anara kepada suaminya yang sedang membuka kancing kemejanya.


"Iya, sayang."


Anara keluar kamar untuk menemani anak-anaknya yang sedang bermain.


"Sayang, kok mainannya di beresin? Kalian sudah mainnya?" Anara bertanya kepada Adelia dan Eva.


"Sudah, Mah. Adel sama Eva mau mewarnai saja. Bosan main boneka terus sejak tadi," jawab Adelia.


"Anak pintar, kalian mau mewarnai apa?"


"Ada tuh, buku bergambar yang masih baru. Mau Adel kasih warna biar indah," kata Adelia.

__ADS_1


"Kalian memang pintar, Nak." Anara kagum dengan anak-anaknya.


°°°°°°°


__ADS_2