Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.111


__ADS_3

Andika sudah mengunjungi beberapa hotel yang ada di daerah purbalingga, namun tidak ada yang cocok.


"Dika, sekarang kita mau kemana?" tanya Bu Sinta, yang duduk di jok belakang.


"Kita cari hotel di daerah purwokerto saja, Mah. Siapa tahu disana ada yang cocok," ucapnya, lalu dia kembali fokus mengemudi.


Anara hanya menatap ke luar mobil. Tidak terlalu banyak kendaraan berlalu lalang. Beda sekali dengan di ibukota.


Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, mereka sampai di purwokerto. Andika sejenak menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia browsing di internet untuk mencari hotel paling bagus yang ada di daerah itu.


Andika kembali mengemudikan mobilnya menuju ke hotel yang terbaik di daerah itu.


Kini mereka sudah sampai di depan hotel.


"Kita akan menginap disini?" Anara menatap suaminya yang duduk di sampingnya.


"Iya, sayang. Ayo turun!" ajak Andika.


Mereka semua segera turun dari mobil. Bu Sinta menggendong Adelia yang kebetulan sedang tidur.


"Dika, tolong bawa koper di belakang! Mamah susah nih gendong Adel yang sedang tidur," pinta Bu Sinta, sambil menutup pintu mobil.


"Baik, Mah." ucapnya.


Mereka melangkah memasuki hotel untuk cek in. Andika yang memesan kamar, sedangkan yang lainnya menunggu sambil duduk di kursi tunggu.


Andika memesan tiga kamar untuk mereka.


Anara mendekati suaminya yang sedang berdiri di depan resepsionis.


"Mas, sudah belum?" tanya Anara.


"Sudah, sayang. Ayo kita ke kamar!" Andika membalikan badannya, lalu menggandeng tangan istrinya. Kebetulan dia sudah mendapatkan kunci kamar untuk mereka.


Bu Sinta dan Ani mengikuti Anara dan Andika yang sudah melangkah lebih dulu.


Mereka memasuki lift menuju ke lantai atas.


Ting


Pintu lift sudah terbuka. Mereka keluar, lalu mencari kamar yang akan mereka tempati.

__ADS_1


Ternyata kamar mereka berdampingan. Andika memberikan kunci kamar kepada Bu Sinta dan Ani. Lalu dia mengajak istrinya untuk masuk ke kamar yang akan di tempatinya.


"Mas, ini kok kamarnya kecil?"


"Ini sudah yang paling luas, sayang."


"Tapi kamar ini kecil loh, beda sama kamar hotel di kota," ucap Anara.


"Mau kecil atau luas, yang penting ada aku disini. Kamu mau walaupun tidur di kamar yang luas tapi tidak ada aku?"


"Tidak mau," jawab Anara.


"Nah itu, maka dari itu lebih baik kamu menurut saja, sayang."


"Iya deh iya, asal sama Mas Dika, tidur di lantai juga aku mau."


"Ekhm, sepertinya ada yang bucin akut nih," Andika melirik istrinya dan sedikit meledek.


"Mas Dika apaan sih? Memangnya Mas Dika tidak cinta sama aku?"


"Cinta dong, Mas itu cinnttaaaaaa banget sama kamu," Andika mengecup singkat punggung tangan istrinya.


"Itu cintanya panjang sekali, berarti cintanya pakai baget dong. Terus jika cintanya pendek, cintanya sebesar apa?" tanya Anara.


"Mas Dika ada-ada saja."


"Oh iya, sayang. Kamu jadi beli mendoan?" Andika menatap istrinya yang saat ini duduk di pinggiran ranjang.


"Nanti malam saja kita cari mendoan."


"Baiklah, berarti sekarang kita langsung istirahat saja," Andika merebahkan dirinya di atas kasur.


°°°°°°°°°


Sesuai niatnya, malam ini Anara dan yang lainnya keluar untuk mencari penjual mendoan yang terkenal di tempat itu.


"Mas, stop!" Anara meminta suaminya untuk menghentikan mobilnya.


"Ada apa?" tanya Andika, sambil menatap istrinya.


"Aku ingin itu!" Anara menunjuk penjual mendoan yang ada di pinggir jalan, namun terlihat rame.

__ADS_1


"Itu penjual pinggir jalan loh, apa itu higienis?" Andika sedikit merasa ragu.


"Kalau tidak higienis, mana mungkin tempatnya rame," ucap Anara.


"Turuti saja, Dik! Mamah sudah lapar nih, nanti setelah ini kita cari restoran," sahut Bu Sinta.


"Baiklah, mau beli berapa ribu?" Andika bertanya kepada istrinya.


"Terserah Mas Dika," jawabnya.


Andika dan Anara keluar dari mobil. Sedangkan Bu Sinta, Ani, dan ke dua cucunya tetap berada di dalam mobil.


Anara dan Andika sudah kembali ke mobil. Anara memegang kresek putih berisi mendoan yang tadi dia beli.


"Mamah sama Kak Ani mau?" ucap Anara menawarkan.


"Nanti saja, kita cari restoran saja," kata Bu Sinta.


Andika kembali mengemudikan mobilnya menuju ke restoran terkenal di daerah sana. Kini mereka sampai di salah satu restoran yang menjual menu masakan khas jawa tengah dengan penyajian secara tradisional. Mereka turun dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam restoran.


Bu Sinta dan yang lainnya segera memesan makanan yang mereka inginkan. Andika menatap istrinya yang asyik memakan mendoan.


"Sayang, kamu mau pesan apa?"


"Tidak mau," ucap Anara tanpa menatap suaminya.


"Memangnya tidak lapar?"


"Tidak," jawabnya.


"Baiklah," Andika langsung menyudahi pesanannya. Seorang waiters yang tadi mencatat pesananan mereka, kini pergi dari hadapan mereka.


Tak lama, pesanan mereka sudah datang. Anara menatap suaminya yang sedang makan. Lalu dia menggeser piring yang ada di depan suaminya. Anara memakan makanan milik suaminya.


"Sayang, katanya kamu tidak lapar?"


"Aku lapar, tapi maunya makan ini," ucapnya, sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Kamu pesan lagi saja, Dika," pinta Bu Sinta.


Andika memanggil waiters, lalu memesan makanan lagi.

__ADS_1


°°°°°


__ADS_2