
Hari ini Aldi mengajak istrinya untuk pergi ke butik. Mereka akan mencari baju pengantin untuk di kenakan di acara resepsi nanti. Karena kebetulan acaranya satu bulan lagi. Namun keduanya belum ada persiapan apa pun.
"Sayang, kamu sudah siap belum?" Aldi bertanya kepada istrinya yang sedang sibuk bercermin.
"Sudah nih," Anara beranjak dari duduknya. Lalu dia mengambil tas slempang miliknya yang tergeletak di atas ranjang.
Aldi dan Anara keluar dari kamar mereka. Kebetulan Ani sudah menunggu mereka bersama Baby Adel.
Kini mereka bertiga melangkah keluar dari rumah. Sesampainya di mobil, Ani duduk bersama Baby Adel di jok belakang. Sedangkan Anara duduk di sebelah suaminya.
Aldi langsung mengemudikan mobilnya menuju ke butik langganan Bu Sinta.
Saat ini mobil yang di kendarainya sudah sampai di tempat tujuan. Mereka langsung turun dan masuk ke butik. Saat mereka masuk, ternyata pihak WO yang juga di sewa oleh Aldi sudah ada disana. Jadi mereka bisa sekalian membahas semua persiapan perniakahan disana saja. Termasuk pembuatan undangan yang masih belum jadi.
Anara dan Aldi memilih untuk menyewa lima gaun pengantin yang akan mereka kenakan nanti. Setelah urusan mereka sudah selesai, mereka langsung pulang. Namun ketiganya singgah dulu di sebuah restoran. Karena Aldi mengajak mereka untuk makan siang. Kebetulan Aldi sudah memesan ruangan VIP lewat online. Dia tidak ingin jika anaknya yang masih bayi berbaur di keramaian.
"Kak, ini kok tidak ada pelayan yang datang?" tanya Anara, yang sejak tadi duduk di sebelah suaminya.
"Nanti juga datang, sayang. Aku sudah pesan lewat online," kata Aldi.
"Iya deh," Anara kembali diam.
Tak lama datang beberapa waiters dengan membawa pesanan mereka.
Anara dan Ani bergantian saat makan, karena Baby Adel yang aktif sekali, tidak bisa di ajak duduk diam sebentar.
°°°
Kini ketiganya sudah pulang ke rumah. Ternyata Bu Sinta sudah berada disana untuk menunggu mereka.
"Kalian dari mana saja?" tanya Bu Sinta.
"Kami dari butik, Mah. Tapi tadi mampir juga ke restoran," ucap Aldi.
"Pantas lama," ucapnya.
"Kok Mamah sudah disini saja?" tanya Aldi.
"Iya nih, tadi Mamah habis jenguk Vanesa, dan langsung pergi kesini," ucap Bu Sinta.
"Memangnya Kak Nesa kenapa?" tanya Anara.
__ADS_1
"Tadi pagi dia ke serempet motor, dan Andika mengira jika itu kesengajaan."
"Siapa kira-kira orang itu?" tanya Anara.
"Tebakan Andika sih itu Doni," ucap Bu Sinta.
"Mungkin Doni masih dendam atas kematian istrinya," ucap Aldi.
"Iya, sepertinya begitu," ucap Bu Sinta.
Anara menatap suaminya yang sedang duduk di sebelahnya.
"Kak, nanti kita jenguk Kak Nesa yuk!" ajak Anara.
"Baiklah, tapi sore saja ya. Kalau sekarang kita baru pulang loh masih cape."
"Oke," ucap Anara.
Setelah selesai mengobrol, Anara pergi ke kamar untuk menyusul Baby Adel. Karena tadi rewel, sepertinya ingin tidur.
Bu Sinta dan Aldi masih saling mengobrol.
"Bagaimana pernikahan kalian?" tanya Bu Sinta.
"Syukurlah, Mamah senang mendengarnya."
"Mah, dari pada Mamah tinggal sendiri, lebih baik tinggal disini saja sama kita," ucap Aldi.
"Tidak bisa, Nak. Biar bagaimana pun rumah itu peninggalan Ayahmu, jadi Mamah tidak mungkin pindah dari sana. Terlalu banyak kenangan di rumah itu."
"Baiklah kalau itu maunya Mamah. Tapi nanti sering-sering main kesini yah."
"Iya, Nak. Lagian hampir setiap hari Mamah main ke sini loh."
Keduanya masih asyik mengobrol hingga menjelang sore.
°°°
Pukul empat sore, Aldi dan Anara sedang bersiap untuk pergi. Mereka akan pergi ke kediaman Pak Andika untuk menengok Vanesa.
Saat ini mereka sudah ada di perjalanan. Anara menatap suaminya yang sedang fokus mengendarai mobil.
__ADS_1
"Kak, nanti mampir yah beli buah atau kue."
"Siap, sayang." ucap Aldi.
Aldi melihat toko kue di pinggir jalan. Dia menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Sayang, biar aku saja yah yang turun. Kamu di mobil saja sama Adel," kata Aldi.
"Iya, Mas." ucap Anara.
Anara menatap suaminya dari balik kaca mobil.
Aldi sudah kembali ke mobil. Dia segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Pak Indra.
Setelah cukup lama mengemudi, kini mobil itu sudah sampai di depan rumah Pak Indra. Keduanya segera turun. Aldi membawa kue yang tadi dia beli. Sedangkan Anara menggendong anaknya.
Saat Aldi hendak mengetuk pintu, ternyata pintunya terbuka duluan. Pak Indra menatap anak dan menantunya yang sedang berdiri di depan rumah.
"Silahkan masuk!" ucap Pak Indra.
Keduanya masuk ke dalam rumah. Pak Indra menatap Anara yang terlihat bingung. Anara masih saja berdiri di dekat sofa.
"Duduk saja!" ucap Pak Indra.
"Terima kasih," Anara segera mendudukan dirinya di sofa.
Pak Indra melihat cucunya yang sedang menatapnya sambil tersenyum. Sepertinya Baby Adel ingin bersama dengan kakeknya.
"Sinih biar Adel sama saya," pinta Pak Indra.
"Beneran?" Anara merasa senang karena tiba-tiba ayahnya menginginkan Adel bersamanya.
Anara memberikan Baby Adel kepada Pak Indra.
Kebetulan Vanesa baru keluar dari kamar. Dia melihat ada Anara dan suaminya yang datang.
'Sepertinya Papah mulai menerima Adel. Ini tidak bisa di biarkan, lama-lama Mas Andika pasti juga simpati sama Anara dan anaknya,' batin Vanesa.
"Eh Nesa, ini ada Anara dan Aldi. Sinih ikut duduk!" ucap Pak Indra.
Anara menatap ke belakang, dia melihat Kakaknya sedang berdiri tak jauh dari tempat dia duduk.
__ADS_1
"Hm, baiklah," Vanesa berjalan dengan pelan, karena kakinya masih sakit. Dia duduk di sebelah Ayahnya.
°°°°