Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.125


__ADS_3

Pagi ini jenazah Pak Indra akan di antar ke kediamannya. Karena memang niatnya di kebumikan hari ini. Jika di kebumikan kemarin, takutnya kemalaman.


Beruntung di kediaman Pak Indra sudah di persiapkan semuanya. Tinggal menunggu kepulangan jenazah saja dari rumah sakit. Kebetulan Anara yang mengurus semua persiapannya.


Terlihat mobil ambulance memasuki halaman rumah Pak Indra.


Beberapa pelayat yang di tugaskan khusus untuk mengurus jenazah, mendekati mobil ambulance dan membantu mengangkat jenazah.


Jenazah akan langsung di sholatkan. Kebetulan sudah di bungkus rapih oleh pihak rumah sakit. Karena sudah di mandikan juga. Kondisi jenazah yang banyak bekas luka dan ada cidera di kepala, membuatnya tidak bisa di mandikan oleh keluarga seperti pada umumnya.


Andika melihat istrinya yang sedang berdiri di depan rumah. Lalu dia mendekatinya.


“Sayang, kamu tidak apa-apa?” tanya Andika.


“Tidak apa-apa kok, Mas.”


“Syukurlah, Mas takut jika kamu pingsan lagi.”


“Tidak kok, aku tidak boleh lemah, Mas. Kalau aku lemah, siapa yang akan mengurus anak-anak? Aku tidak mau jika anakku di urus oleh wanita lain,” ucapnya.


“Hus, jangan bicara yang aneh-aneh. Lebih baik sekarang kita masuk.” Andika mengajak istrinya masuk ke rumah.


“Iya, Mas.” Anara berjalan berdampingan dengan suaminya.


Terlihat Vanesa keluar dari kamarnya. Dia mendekati jenazah ayahnya yang di baringkan di tempat yang sudah di persiapkan.


“Pah, kenapa Papah tinggalin Nesa? Sekarang Nesa sendirian, Pah. Tidak ada yang sayang sama Nesa lagi,” Vanesa terisak sambil mengguncang tubuh ayahnya yang sudah di bungkus dengan kain putih.


“Kak Nesa, Kakak yang sabar ya,” Anara mendekati Vanesa lalu memeluknya. Namun Vanesa mendorongnya sehingga Anara jatuh ke lantai.


“Sayang, kamu tidak apa-apa?” Andika membantu istrinya untuk berdiri.


“Aku tidak apa-apa, Mas.” Ucapnya.


“Bisa-bisanya Vanesa mendorong kamu seperti itu. Mas akan kasih dia pelajaran,” Andika hendak mendekati Vanesa, namun Anara menahan tangannya.


Setelah jenazah Pak Indra di sholatkan, sekarang tinggal di antar ke tempat peristirahatan terakhir.


Karena jaraknya cukup jauh, mereka menggunakan mobil.


Anara kembali bersedih saat ayahnya sudah tak terlihat oleh timbunan tanah. Dia hanya bisa berdoa agar semua dosa ayahnya di ampuni.


Tring tring


Andika mendengar ponsel miliknya yang ada di saku celana berdering. Dia sedikit menjauh dari makam Pak Indra, karena akan mengangkat telfon.

__ADS_1


‘Nomor asing, siapa ini?’ batin Andika, namun dia langsung mengangkat panggilan telfon itu.


📞”Hallo, ini siapa ya?” tanya Andika.


📞”Saya dari kepolisian mau memberitahukan jika tersangka yang melakukan tabrak lari sudah di temukan. Sekarang kami akan ke alamat rumahnya untuk menangkap tersangka,” ucap Pak Polisi.


📞”Saya senang mendengarnya, bisakah saya minta alamat itu? Kebetulan saya juga ingin menemuinya langsung.” Pinta Andika.


📞”Nanti Pak Andika datang ke kantor polisi saja,” ucapnya.


📞”Baiklah, nanti setelah pulang dari makam, saya akan langsung pergi ke kantor polisi,” ucap Andika.


Kini ke duanya sudah selesai melakukan panggilan telfon itu.


Anara melihat suaminya yang sudah kembali berdiri di sampingnya.


“Mas, kamu dari mana saja?” tanya Anara.


“Tadi habis angkat telfon dari polisi, katanya pelaku tabrak lari sudah di temukan. Sekarang polisi sedang menuju ke rumah pelaku.”


“Syukurlah, aku senang mendengarnya.”


Vanesa yang tak sengaja mendengar obrolan Anara dan Andika, dia langsung pergi dari sana.


“Loh, dimana Vanesa?” Andika sudah tidak melihat Vanesa yang tadi berdiri di hadapannya.


“Ayo,” ucap Andika.


Anara pergi meninggalkan makam ayahnya dengan menggandeng Alan. Sedangkan Adelia dan Eva bersama Bu Sinta.


••••••••


“Kita langsung ke kantor polisi saja ya,” kata Andika, yang sedang fokus mengemudi.


“Iya, Dik. Kebetulan Mamah juga penasaran dengan orang yang sudah menabrak mertuamu,” sahut Bu Sinta.


Andika segera mengemudikan mobilnya menuju ke kantor polisi


Setelah menempuh perjalanan yang tak terlalu lama, kini mereka sudah sampai di depan kantor polisi. Mereka segera turun dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam.


“Permisi, Pak. Saya Andika yang melaporkan khasus tabrak lari itu,” ucap Andika yang saat ini sudah menghadap polisi yang tadi menghubungi Andika.


“Jadi begini, Pak Andika. Ternyata mobil yang di kendarai pelaku tabrak lari itu tenggelam ke danau. Saya rasa itu atas unsur kesengajaan,” jelas Pak Polisi.


“Lalu siapa pemilik mobil itu?”

__ADS_1


“Setelah kami lacak, ternyata pemilik mobil itu Vanesa yang tak lain anak kandung korban. Tadi kami sudah berhasil menangkapnya, hanya saja tersangka berhasil meloloskan diri. Tapi tenang saja, saya sudah mengerahkan beberapa bawahan saya untuk kembali menangkapnya,” jelasnya lagi.


Anara tak bisa berkata-kata lagi saat tahu jika pelaku tabrak lari itu Vanesa. Dia kira Vanesa sudah memperbaiki diri setelah keluar dari penjara. Tapi ternyata tingkahnya semakin menjadi-jadi.


“Dasar Vanesa, tidak ada jeranya sama sekali,” gumam Bu Sinta sambil mengepalkan tangannya.


Jika saja kekerasan tidak melanggar hukum, Bu Sinta ingin sekali memberikan pelajaran untuk Vanesa dengan tangannya sendiri.


“Aku tidak menyangka, Mas. Ternyata Kak Nesa pelakunya,” Anara menggenggan erat tangan suaminya.


“Aku sudah menduganya, sayang. Semoga saja Vanesa di berikan hukuman yang setimpal.”


“Iya, Mas. Tapi aku takut jika Kak Nesa menyakiti keluarga kita lagi. Sudah cukup aku kehilangan dua orang yang aku sayang.”


“Itu tidak akan terjadi lagi, sayang. Mas akan jamin semuanya.”


Obrolan mereka terhenti saat mendengar teriakan seseorang yang sangat Familiar dari arah belakang mereka.


“Lepaskan saya! Saya tidak bersalah,” terlihat Vanesa yang sedang memberontak meminta untuk di lepaskan oleh ke dua polisi yang sedang memegangi ke dua tangannya.


Anara dan yang lainnya menoleh ke sumber suara. Anara mendekati Vanesa dan menatapnya dengan tatapan penuh arti.


“Kenapa Kak Nesa lakukan itu? Kakak jahat,” Anara mengepalkan ke dua tangannya, menahan amarah.


“Jahat? Bukankah kamu yang jahat, kamu merebut semua kebahagiaanku,” ucap Vanesa sedikit berteriak.


Andika beranjak dari duduknya, lalu menghampiri istrinya.


“Jangan meneriaki istri saya!” Andika menatap tajam Vanesa.


"Pak, bawa saya saja. Saya malas melihat wajah mereka," ucap Vanesa kepada polisi yang sedang memegang tangannya.


Setelah kepergian Vanesa, kini Andika dan Anara kembali duduk di hadapan polisi.


"Pak, apa bisa jika Vanesa di penjara seumur hidup saja," ucap Andika.


Anara berbisik kepada suaminya, setelah mendengar suaminya berbicara seperti itu.


"Mas, kamu apa-apaan sih?"


"Sudahlah, sayang. Mas hanya tidak suka jika Vanesa kembali berkeliaran di sekitar kita."


"Maaf, Pak, Bu. Tapi sesuai hukum, Bu Vanesa akan di penjara selama enam tahun." ucap Pak Polisi.


Setelah urusan di kantor polisi selesai, kini Anara dan Andika segera pulang.

__ADS_1


°°°°°°°°°°


__ADS_2