Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.54


__ADS_3

Nela malu karena semua teman kuliahnya tahu jika pernikahan dia dan Alan batal. Dia memutuskan untuk home schooling untuk beberapa waktu ke depan. Sedangkan Alan berangkat kuliah seperti biasanya. Walaupun beberapa temannya ada yang mengejek, tapi dia bersikap acuh. Lagian tidak penting baginya jika dia meladeni sesuatu yang tidak penting itu.


Saat ini Alan baru pulang kuliah. Dia keluar dari mobilnya, lalu melangkah memasuki rumah. Alan mengernyitkan keningnya saat melihat ada koper besar di ruang keluarga. Ibunya dan Kakaknya sedang duduk disana sambil mengobrol.


"Mah, ini koper milik siapa?" tanya Alan yang baru memasuki rumah.


"Koper milik kamu, Nak. Nanti sore kamu pindah ke apartemen milik Adel, bersama Eva dan Kiara."


"Untuk apa, Mah? Ah malas sekali," gerutu Alan.


Terlihat Eva dan Kiara yang baru keluar dari kamar. Mereka pergi ke ruang keluarga untuk bergabung dengan yang lainnya.


"Hai semua," ucap Eva sambil menatap keluarganya.


Mereka menatap ke arah Eva, namun tatapan mereka fokus menatap Kiara yang terlihat begitu cantik. Penampilannya sudah tidak culun lagi. Perut buncitnya sama sekali tidak mengurangi kecantikannya.


"Wah kamu cantik sekali, Kia." puji Bu Anara.


"Sudah cocok nih jadi istri Alan," sahut Adelia yang duduk di sebelahnya.


Sedangkan Alan masih menatap Kiara tak berkedip.


"Ekhem," Eva berdehem sambil menatap Alan.


Alan buru-buru mengalihkan arah pandangnya.


"Biasa saja," gumam Alan. Lalu dia pergi dari hadapan mereka.


Eva dan Kiara ikut duduk bersama Bu Anara dan Adelia.

__ADS_1


"Kia, kamu jangan lemah jika berhadapan dengan Alan. Dia memang seperti itu orangnya. Kamu tidak boleh kalah darinya. Jangan biarkan dia injak-injak harga dirimu," ucap Bu Anara.


"Benar, Kia. Jangan jadi wanita yang lemah. Lihatlah aku, walaupun sebelumnya aku bisa mandiri hidup di luar negeri saat hamil, tapi Rian tetap saja tuh mencariku dan ingin menikahiku. Kamu harus buat Alan sadar akan kesalahannya," sahut Adelia.


"Iya Bu, Iya Kak Adel, Kia akan berusaha menjadi perempuan kuat."


"Sekarang kamu ke kamar Alan. Ajak dia makan siang. Karena kita semua akan makan siang," ucap Bu Anara.


"Kenapa saya?"


"Ayolah, menurut saja! Biar kamu dan Alan semakin dekat," sahut Eva.


"Baiklah," Kiara pergi dari sana. Dia akan memanggil Alan di kamarnya.


Saat ini Kiara sudah berdiri di depan kamar Alan. Dia mengetuk pintu kamar itu.


Tok tok


Kiara menutupi wajahnya dengan tangan saat melihat Alan bertelanjang dada.


"Ngapain kamu disini?" tanya Alan.


"Aku mau memanggil kamu untuk makan siang bersama," ucapnya tanpa membuka tangannya dari wajahnya.


"Oh, pergilah! Nanti saja aku makan siangnya. Lagian malas kalau di meja makan ada kamu juga," Alan langsung menutup pintu kamarnya begitu saja.


Kiara kembali menghampiri Bu Anara dan yang lainnya.


"Loh, dimana Alan? Kok kamu datang sendiri?" tanya Bu Anara.

__ADS_1


"Katanya nanti saja makan siangnya," jawab Kiara.


"Oh seperti itu, ya sudah ayo kita duluan saja!" ajak Bu Anara.


Mereka semua segera pergi ke ruang makan.


Setelah selesai makan siang, mereka kembali bersantai.


Adelia menatap ibunya yang duduk di depannya.


"Mah, sepertinya aku dan Rian akan pindah besok," ucapnya.


"Yah nanti kalau semua anak Mamah pergi, Mamah kesepian dong," Bu Anara sedikit mengerucutkan bibirnya.


"Demi misi untuk mendekatkan Alan dan Kia, Mah. Lagian nanti Eva juga kembali tinggal disini kok," sahut Eva.


"Iya sih, ya sudah deh tidak apa-apa Mamah kesepian asal anak-anak Mamah bahagia semua," ucap Bu Anara sambil menatap anak-anaknya.


"Mah, Eva juga mau siap-siapin baju dulu ya. Nanti kan mau pindahan."


"Iya, Nak."


Bu Anara menatap Kiara yang sedang duduk di dekatnya.


"Kia, kamu ambilkan makan siang untuk Alan," pinta Bu Anara.


"Tapi, Bu. Nanti kalau tidak di makan bagaimana?"


"Kamu paksa saja."

__ADS_1


Sebenarnya Kiara enggan pergi lagi ke kamar Alan, namun dia harus tetap pergi karena tidak enak dengan Bu Anara yang sudah baik sekali kepadanya.


"Baik, Bu." Kinara segera pergi dari sana.


__ADS_2