
Kiara sudah sampai di apartemen. Dia langsung saja masuk ke kamarnya. Kiara mengambil semua pakaian miliknya dari dalam lemari, lalu dia masukan ke dalam tas besar miliknya.
Suasana apartemen terlihat sepi, karena hanya dia sendiri yang ada disana. Kiara mencari alat tulis yang bisa dia pakai untuk menulis. Kiara ingat jika di dapur ada buku catatan belanja yang di taruh di atas kulkas. Kiara mengambil buku itu, lalu mulai menuliskan sesuatu disana. Kiara menyobek kertas itu lalu dia taruh di kamar Eva. Lebih tepatnya di atas meja dan di atasnya ditaruh vas bunga agar kertas itu tidak jatuh ke lantai.
Setelah menaruh kertas itu, kini Kiara kembali ke kamarnya. Dia mengambil tas besarnya, lalu dia keluar dari kamarnya. Sejenak dia memandang ke setiap sudut ruangan itu. Sebenarnya dia merasa enggan untuk pergi dari sana. Namun untuk apa juga dia tetap disana jika Alan saja terlihat jelas tidak mau dengannya.
Sebelum pergi, Kiara mengecek uang di dompetnya. Ternyata masih ada uang beberapa ratus ribu, pemberian dari Bu Anara.
"Kita cari rumah baru, Nak. Karena Papah kamu tidak menerima kita," gumam Kiara sambil mengusap perutnya.
Kiara segera keluar dari apartemen itu dengan membawa tas miliknya.
Saat ini dia sudah ada di parkiran. Kiara terus saja berjalan hingga keluar dari halaman apartemen. Dia menengok kanan kirinya mencari kendaraan yang lewat.
Kiara menghentikan angkot yang lewat di depannya. Dia langsung saja naik ke angkot itu. Untung saja angkot sepi, sehingga dia tidak berdesak-desakan.
"Mau kemana, Neng?" tanya sopir taxi.
"Jalan dulu saja, Pak. Saya belum tahu tujuan saya kemana," ucapnya.
"Neng habis kabur dari rumah?"
"Ya begitulah," jawabnya.
Sopir angkot itu langsung saja mengemudikan angkotnya melewati keramaian ibukota.
__ADS_1
Hampir satu jam perjalanan, kini Kiara menghentikan angkot itu.
"Stop, Pak. Saya turun disini saja," ucap Kiara.
"Baik, Neng." sopir angkot itu langsung menghentikan angkotnya di pinggir jalan.
Kiara turun dari angkot setelah dia membayar. Dia menatap kanan kirinya, bingung entah mau melangkahkan kakinya kemana. Jujur saja dia belum punya tempat tujuan.
Kiara memutuskan untuk berjalan kaki di pinggir jalan, sambil mencari kontrakan yang murah. Dia juga bertanya kepada pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan. Setelah bertanya, ternyata salah satu dari mereka ada yang memberitahu dimana letak kontrakan yang murah. Setelah di tunjukan arah jalannya dan alamatnya, Kiara langsung saja pergi mencari kontrakan itu.
Saat ini Kiara sudah sampai di depan deretan kontrakan yang terlihat sangat sederhana.
"Permisi," ucap Kiara saat melihat seseorang yang keluar dari salah satu kontrakan.
"Cari siapa ya?" tanya orang itu yang kini berjalan mendekati Kiara.
"Ada, tapi apakah Ibu datang sendiri?"
"Benar, saya kabur dari ayah bayi ini," ucapnya sambil mengusap perutnya.
"Lagi hamil besar kok berantem sama suami? Tapi saya tidak terlalu penasaran dengan urusan orang lain sih. Biar saya antar Ibu ke pemilik kontrakan ini. Biar ibu yang bicara sendiri jika akan mengontrak."
"Terima kasih, maaf merepotkan."
"Tidak sama sekali, mari ikut!" ajaknya.
__ADS_1
"Baik," Kiara mengikuti wanita muda itu yang terlihat seusianya.
°°°°°°
Eva sudah pulang ke apartemen. Namun dia tidak melihat keberadaan Kiara di ruang depan. Apartemen itu terlihat sangat sepi, tidak seperti biasanya.
Eva memutuskan pergi ke kamarnya, karena dia ingin membersihkan dirinya. Jujur saja saat ini badannya sudah sangat lengket, dan membuatnya tidak nyaman.
Hanya lima belas menit Eva membersihkan diri. Kini dia sudah keluar dari kamar mandi. Eva mengambil pakaian ganti yang dia taruh di sofa, lalu mulai memakainya.
Tak sengaja dia melihat ada sesuatu di bawah vas bunga. Setelah selesai dia mengecek vas bunga itu. Ternyata di bawahnya ada selembar kertas.
“Apa ini?” Eva mengambil kertas itu, lalu membaca tulisan yang ada disana.
Betapa terkejutnya dia saat membaca surat yang ternyata di tulis oleh Kiara. Kiara berpamitan kepadanya dan memintanya untuk tidak usah mencarinya.
“Ada apa ini? Kenapa Kiara tiba-tiba pergi?” gumam Eva.
Untuk memastikan apakah Kiara benar pergi atau tidak, Eva memutuskan untuk mengeceknya di kamarnya.
Saat ini Eva sudah berdiri di depan kamar Kiara. Dia langsung membuka pintu kamar itu. Karena kebetulan pintunya tidak terkunci.
Kamar Kiara terlihat sangat rapi. Lalu tatapan Eva beralih ke lemari yang terlihat sedikit terbuka. Dia mendekati lemari itu lalu membukanya. Ternyata lemari itu sudah kosong. Itu menandakan Kiara sudah benar-benar pergi dari sana.
Eva memutuskan untuk menelepon Alan, dan bertanya kemana perginya Kiara. Ternyata Alan juga tidak tahu kemana perginya Kiara. Eva sangat marah, dan meminta Alan untuk mencarinya. Jika tidak ketemu, Eva akan membicarakan kepada keluarganya, jika saat ini Kiara pergi.
__ADS_1
Eva mempunyai insting jika kepergian Kiara yang tiba-tiba itu karena Alan. Entah apa itu alasannya, dia akan bertanya nanti saja. Yang terpenting saat ini Alan harus pergi dulu mencari keberadaan Kiara.