Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode 17


__ADS_3

Perlahan Eva berjalan mendekati suaminya. Tidak mungkin jika dia salah dengar, karena pendengarannya masih normal.


"Sekali lagi aku bertanya, siapa yang hamil anakmu?" kedua mata Eva terlihat berkaca-kaca.


"Maaf," ucap Rian yang kini sedang menundukan pandangannya.


Rian tidak kuat menatap Eva. Dia merasa bersalah karena telah menutupi kesalahannya. Jika sejak awal dia bercerita, mungkin Eva tidak akan terlalu lama menunggu kepastiannya yang memang tak jelas.


"Katakan jika semua ini tidak benar! Katakan jika ini hanya mimpi," Eva menampar pipinya untuk menyadarkan dirinya.


"Ini bukan mimpi, maafkan aku," Rian memegang kedua tangan Eva. Dia menatap mata Eva yang terlihat berkaca-kaca.


"Apa salahku? Kenapa Mas Rian membuat hatiku hancur?" Eva memerosotkan tubuhnya, sehingga dia berjongkok.


Rian ikut berjongkok, dia berniat untuk memeluk Eva. Namun Eva mendorong tubuh Rian. Dia tidak sudi di sentuh olehnya.


Rian kembali berdiri, dia menatap punggung Eva yang terlihat bergetar. Eva sedang menangis dalam diam.


"Kamu tidak salah apa pun, disini akulah yang bersalah, maafkan aku," Rian tak tega melihat Eva yang terlihat begitu hancur.


"Katakan, siapa wanita itu!" Eva bertanya sambil mendongkakan kepalanya menatap Rian.


Rian menghirup napasnya dalam-dalam, lalu dia hembuskan perlahan.


"Aku akan menceritakan semuanya di depan orang tuamu," kata Rian.


"Ayo kita pergi! Aku ingin semua masalah ini cepat selesai," Eva kembali berdiri. Dia mengambil tas slempang miliknya yang tergeletak di atas sofa.


Eva berlalu pergi keluar dari kamar di ikuti oleh suaminya.


Saat ini keduanya sudah ada di depan rumah.


Rian menatap Eva yang sedang membuka pintu mobilnya.


"Ikut denganku saja! Jika suasana hatimu sedang tidak baik, jangan mengemudi sendiri," ucap Rian menasehati.


"Baiklah," terpaksa Eva menurut dengan suaminya. Padahal sebenarnya dia sedang malas untuk pergi dengannya. Apalagi saat mengingat penghianatan yang baru dia ketahui.


Saat sudah masuk ke dalam mobil, Rian segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah mertuanya.


Sepanjang jalan, Eva hanya menatap kendaraan yang berlalu lalang dari balik kaca mobil.


Setelah cukup lama mengemudi, kini mobil yang di kendarai oleh Rian sudah memasuki halaman rumah Pak Andika.


Rian dan Eva segera turun dari mobil. Mereka berjalan mendekati pintu masuk rumah.


Tok tok


Eva mengetuk pintu rumah orang tuanya.

__ADS_1


Kebetulan Bu Anara sedang duduk bersantai di ruang keluarga. Saat mendengar ketukan pintu, Bu Anara beranjak dari duduknya, lalu pergi untuk membukakan pintu.


Bu Anara melihat anak dan menantunya sedang berdiri di depan rumah.


"Eva, Rian, ayo masuk!" ajak Bu Anara.


"Terima kasih, Mah." Rian mengikuti langkah Bu Anara dan Eva.


Kini ketiganya duduk di ruang keluarga. Bu Anara menatap wajah anaknya yang terlihat sembab.


"Eva, kamu habis menangis?" tanya Bu Anara.


"Iya, Mah. Eva sangat kecewa kepada Mas Rian," ucapnya sambil menatap Rian.


"Kalian ada masalah apa?" Bu Anara kembali bertanya.


"Disini Rian yang bersalah. Eva tidak salah apapun," jawab Rian.


Terlihat Pak Andika menghampiri mereka ke ruang keluarga. Kebetulan tadi Pak Andika mendengar suara orang mengobrol dari dalam ruang keluarga.


"Wah, ternyata ada tamu," Pak Andika mendekati istrinya, lalu duduk di sebelahnya.


"Biar Mamah buatkan minum dulu," Bu Anara hendak beranjak dari duduknya. Namun Eva melarangnya pergi.


"Tidak usah, Mah. Kita langsung bicara saja. Aku juga ingin mendengar penjelasan Mas Rian. Aku penasaran siapa wanita yang telah dia hamili," kata Eva.


Spontan Bu Anara dan Pak Andika menatap Rian.


"Sebelumnya saya mau minta maaf karena saya telah menyakiti Eva. Memberinya harapan namun harapan itu tak pernah terwujud," ujar Rian.


"Langsung saja pada intinya! Saya ingin mendengar semua kesalahan yang selama ini kamu tutupi dari kami," pinta Pak Andika.


Rian menghirup napasnya dalam-dalam sebelum dia kembali berucap.


"Saat malam pengantin saya menghilang. Sebenarnya bukan karena saya tidak mau menyentuh Eva. Tapi karena saya di jebak. Saya mendapat pesan misterius dari nomor asing, yang mengatakan jika dia mantan kekasih saya. Saya berniat menemuinya. Namun saya ingat saat itu ada seorang pelayan yang memberi saya minum. Karena saya haus, tanpa pikir panjang, saya langsung saja meminumnya," sejenak Rian menghentikan perkataannya.


"Lanjut!" pinta Pak Andika yang saat ini sedang menunggu kelanjutan dari cerita Rian.


"Saya masuk ke sebuah kamar hotel. Saya melihat wanita yang terlihat seperti mantan kekasih saya. Mungkin karena efek minuman membuat penglihatan saya salah melihat orang. Saya menodai wanita itu. Saya belum sadar jika wanita itu orang lain, bukanlah mantan kekasih saya."


Pak Andika mendekati Rian lalu menampar pipinya.


Plak


"Keterlaluan," Pak Andika merasa tak terima saat tahu jika menantunya malah melakukan malam pertama dengan wanita lain.


Terlihat Bu Anara yang kini sedang memeluk Eva sambil mengusap punggungnya. Bu Anara merasa kasihan melihat anaknya sedih dan kecewa.


Rian memegangi pipinya yang sedikit sakit karena di tampar.

__ADS_1


"Siapa wanita itu?" tanya Eva dengan menahan isak tangisnya.


"Saya tahu siapa wanita itu saat saya terbangun dari tidur. Mungkin karena kelelahan, jadi saat itu saya ketiduran."


"Tidak usah muter-muter jika bicara, siapa wanita itu?" tanya Pak Andika yang juga merasa penasaran.


"Adelia," ucap Rian dengan bibirnya yang sedikit bergetar.


Spontan Bu Anara dan Eva juga menatap Rian.


"Adelia siapa yang kamu maksud?" tanya Bu Anara.


"Adelia anak kalian, Mah, Pah." ucap Rian yang sedikit merasa takut.


Pak Andika kembali beranjak dari duduknya. Lalu memukuli Rian sekuat tenaga.


Bugh bugh bugh


"Dasar lelaki tidak tahu diri! Kamu jahat, kamu tidak punya perasaan, kamu sudah menghancurkan kedua putri saya," ucapnya sambil memukuli Rian.


Bu Anara juga menangis, dia hancur saat tahu jika anaknya telah ternoda. Adelia tidak pernah bercerita apa pun kepadanya.


"Apa ini alasan Adel pergi dan memilih melanjutkan kuliah?" tanya Bu Anara sambil menatap suaminya.


"Mungkin, Mah. Jadi, anak itu memendam semuanya sendiri," Pak Andika mengusap rambutnya dengan kasar. Kejadian yang menimpa istrinya, kini juga menimpa anaknya.


"Kenapa semua orang jahat? Kenapa harus Kak Adel? Kenapa sejak dulu semua orang lebih sayang sama Kak Adel?" Eva melepaskan pelukannya dari ibunya. Dia menangis meraung-raung.


"Eva, jangan salahkan Kakakmu! Disini dia juga korban," ucap Bu Anara.


"Dan sekarangpun Mamah masih membela Kak Adel?" Eva pergi dari sana, dia melangkah menuju ke kamarnya yang beberapa bulan ini tidak dia tempati.


"Eva," teriak Rian. Rian hendak mengejar Eva, namun Pak Andika melarangnya.


"Tidak usah di kejar!" pinta Pak Andika.


Rian kembali duduk di sofa. Dia menatap wajah kedua mertuanya yang terlihat begitu kecewa.


"Kamu sama Eva, apa kalian sudah melakukan itu?" tanya Pak Andika.


"Belum, saya tidak pernah menyentuh Eva sedikitpun. Saya tidak mau menyentuh dua bersaudara sekaligus," jawab Rian.


"Biar bagaimana pun semuanya sudah terjadi. Saya minta kamu untuk segera menceraikan Eva, lalu menikahi Adel," pinta Pak Andika.


"Tapi, Pah. Bagaimana dengan perasaan Eva? Dia pasti tidak rela melepas suaminya begitu saja," ucap Bu Anara.


"Perasaannya akan membaik seiring berjalannya waktu, tapi Adel, bagaimana dengan kandungannya? Jika dia benar hamil, apa dia mampu membesarkan anak seorang diri?"


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan Papah. Mamah hanya tidak ingin jika nantinya ada perang saudara."

__ADS_1


"Semoga saja tidak, Mah." ucap Pak Andika.


Rian sedikit merasa lega, namun dia juga merasa bersalah karena sudah membuat banyak hati terluka.


__ADS_2