
Hari sudah malam, namun Andika tidak melihat istrinya masuk ke kamar. Dia memilih keluar dari kamar untuk mencari keberadaan istrinya.
Andika melihat Pak Indra yang sedang duduk sendirian di ruang keluarga.
"Pah, Nara dimana? Kok dia tidak ke kamar juga sejak tadi?" tanya Andika.
"Mungkin Nara ketiduran di kamar anak-anak. Kasihan dia sejak pagi kecapean mengurus anak-anaknya," ucap Pak Indra.
"Memangnya Ani kemana?" Andika mendudukan diri di depan Pak Indra.
"Dia sudah di pindah tugas untuk mengurus rumah Papah. Katanya Anara mau mengurus anak-anaknya sendiri."
"Kok Nara tidak bilang dulu sama aku?"
"Masa sih tidak bilang apa-apa?
Mungkin dia ingin menunjukan diri sebagai istri yang baik. Jadi dia memilih untuk mengurus anaknya sendiri.
Andika sempat berpikir, mungkin ada benarnya juga yang di katakan oleh Pak Indra.
"Dika mau ke kamar anak-anak dulu, Pah." Andika beranjak dari duduknya.
Saat ini Andika sudah berada di kamar anak-anaknya. Dia melihat istrinya sedang tidur di tengah ke dua anaknya. Andika duduk di pinggiran ranjang sambil memperhatikan mereka. Andika mencium kening Adelia, lalu kening Eva, dan yang terakhir kening istrinya.
'Terima kasih karena sudah menjadi ibu yang baik untuk anak-anak,' batin Andika. Lalu dia kembali keluar dari kamar itu.
Anara tersenyum dalam tidurnya. Dia bermimpi mendapat ciuman dari suaminya. Bahkan suaminya memperlakukan dia sangat baik.
••••••••••••
Pagi ini Anara sibuk mengurus ke dua anaknya. Anara menghampiri Bu Sinta yang sedang duduk bersantai dengan Pak Indra.
"Mah, Nara nitip anak-anak dulu ya, kebetulan Nara mau masak untuk mereka," Anara menuntun ke dua anaknya mendekati Bu Sinta.
"Wah cucu Nenek sudah bangun yah," Bu Sinta memegang tangan Eva dan Adelia, lalu di arahkan untuk duduk di karpet tempat mereka biasa bermain.
Anara segera pergi ke dapur. Kebetulan dia melihat Bi Inem yang sedang menghidangkan masakannya di atas meja.
"Bi, masaknya sudah matang?"
"Sudah nih, Non Nara mau sarapan?" tanya Bi Inem.
"Tidak, Bi. Nanti saja. Aku mau buatkan makan untuk anak-anak," ucapnya.
Anara membuka kulkas dan melihat isi di dalamnya. Dia mengambil beberapa bahan makanan.
Bu Sinta masih berlanjut mengobrol dengan Pak Indra. Sesekali mengawasi ke dua cucunya yang sedang bermain.
"Sebenarnya kasihan juga kalau Nara mengurus anaknya sendirian. Terlihat sekali dia kecapean," ucap Bu Sinta.
"Saya juga kasihan melihatnya, tapi itu sudah keputusannya."
"Hanya bisa membantu sedikit, saya juga tidak bisa sih kalau di rumah ini terus. Karena rumah saya nanti kosong kalau tidak di tempati."
"Saya juga begitu, paling bantu mengawasi anak-anak. Saya tidak boleh terlalu kelelahan agar penyakit saya tidak kambuh," ucap Pak Indra.
Andika sudah siap dengan pakaian kerjanya. Dia melihat Ibunya sedang mengobrol bersama Pak Indra. Disana juga ada anak-anaknya yang sedang bermain.
"Mah, Nara dimana?" Andika meletakan tas kerjanya di sofa.
__ADS_1
"Sedang memasak untuk anak-anak. Kamu kalau mau sarapan duluan saja, Mamah sedang mengawasi anak-anak."
Andika mengajak Pak Indra untuk sarapan bersama. Karena akan terasa hambar jika sarapan sendirian.
Andika menghampiri istrinya di dapur. Dia mengajaknya untuk sarapan bersama.
"Sayang, kita sarapan bareng yuk!" ajak Andika.
"Duluan saja, Mas. Nara masih belum selesai."
"Ya sudah, Mas duluan yah," Andika pergi dari sana.
Andika sudah berasa di ruang makan. Dia menarik kursi untuk dia duduki.
Anara merasa sikap suaminya sudah kembali menghangat seperti sebelumnya.
'Apa ini arti dari mimpiku,' batin Anara sambil mengingat lagi mimpinya semalam. Dia bermimpi jika hubungannya dan suaminya sudah kembali membaik.
Anara segera memasukan makanan yang dia masak ke dalam mangkuk kecil.
Anara membawa dua mangkuk kecil. Dia melewati suami dan ayahnya yang sedang sarapan di ruang makan. Sesekali Anara menatap suaminya. Ternyata suaminya juga sedang menatapnya, bahkan dia tersenyum. Anara juga membalas senyuman suaminya.
Anara menghampiri anaknya yang sedang bermain.
"Anak-anak Mamah, makan dulu yuk!" Anara duduk di dekat ke dua anaknya.
"Nara, biar Mamah bantuin," Bu Sinta mengambil satu mangkuk kecil yang sedang di pegang oleh Anara.
"Terima kasih, Mah."
"Sama-sama, Nak. Ini juga sudah menjadi kewajiban Mamah untuk membantumu selagi Mamah ada disini."
•••••••••••••
Terdengar ketukan pintu dari luar rumah. Pak Indra segera membuka pintu itu. Ternyata yang datang Andika.
"Nak Dika, kok sudah pulang?"
"Iya, Pah. Hari ini aku kerja setengah hari saja. Oh iya, anak-anak dimana? Kok sepi sekali?" Andika menatap ke dalam rumah, namun terlihat sepi.
"Anak-anak sedang tidur siang di kamar," ucapnya.
"Ya sudah, Dika mau ke kamar dulu ya, Pah."
"Iya, Nak." Pak Indra kembali menutup pintu itu.
Andika pergi ke kamar untuk menaruh tas kerjanya dan berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, dia pergi ke kamar anaknya.
Cklek
Pintu kamar terbuka, Andika menatap
ke dua anaknya sedang tidur. Namun istrinya tidak ada disana. Andika mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi. Dia yakin jika itu istrinya. Andika duduk di pinggiran ranjang.
Pintu kamar mandi terbuka. Anara keluar hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya. Kebetulan dia habis mandi karena merasa gerah.
Anara melihat suaminya sedang duduk di pinggiran ranjang sambil menatapnya.
"Mas Dika sudah pulang?"
__ADS_1
"Iya nih, niatnya mau menghabiskan setengah hari di rumah dengan anak-anak. Tapi mereka malah tidur. Kamu kok siang-siang mandi?"
"Iya, Mas. Gerah sekali," ucap Anara, lalu dia melangkah mendekati lemari pakaian.
"Aku keluar dulu, nanti kalau sudah ganti pakaian, kamu temui aku di luar," pinta Andika.
"Baik, Mas." kata Anara.
Andika beranjak dari duduknya, lalu pergi keluar.
Anara sudah selesai berganti pakaian. Dia keluar dari kamar untuk menemui suaminya. Anara melihat Pak Indra yang sedang duduk sendirian di ruang keluarga.
"Pah, lihat Mas Dika tidak?" tanya Anara.
"Ada di taman belakang," ucapnya.
"Nara mau menemui Mas Dika, nanti kalau anak-anak bangun, Papah panggil Nara saja."
"Siap, Nak." ucapnya.
Anara segera pergi ke taman belakang untuk menemui suaminya.
"Mas, ada apa?" Anara duduk di sebelah suaminya.
"Aku mau bicara sama kamu," ucapnya.
"Bicara apa?"
"Maaf karena aku sudah mengira jika kamu membedakan ke dua anak kita. Aku lihat kamu itu sudah memperlakukan mereka dengan baik. Aku tahu jika mengurus dua orang anak balita itu pasti susah. Kamu mau maafin aku?" Andika menatap lekat wajah istrinya saat dia bicara.
"Tidak," ucap Anara.
"Apa kesalahanku begitu besar sehingga kamu sulit untuk memaafkan?"
"Iya," ucapnya.
"Lalu kamu maunya apa?" tanya Andika
"Tidak mau apa-apa," ucapnya.
"Coba jelasin apa yang membuatmu masih marah."
"Ada hubungan apa dengan wanita itu?" tanya Anara.
"Wanita yang mana?"
Anara mulai menceritakan saat dirinya pergi ke kantor suaminya. Dia melihat suaminya sedang berjongkok bersama seorang wanita. Dia juga bercerita bahwa dia mendengar obrolan mereka.
Andika tertawa setelah mendengar perkataan istrinya.
"Kok Mas Dika tertawa?"
"Kamu tuh salah paham, sayang."
"Salah paham kenapa?" tanya Anara yang merasa penasaran.
Andika mulai menceritakan semuanya.
Anara merasa lega karena ternyata suaminya tidak seperti yang dia pikirkan.
__ADS_1
°°°°°°°°°