Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode 45


__ADS_3

Bu Vanesa berhasil menghentikan langkah Kiara. Saat ini keduanya sedang duduk di bangku taman. Kebetulan tadi Bu Vanesa mengajaknya untuk duduk disana.


"Kia, kenapa kamu tadi pergi begitu saja?" tanya Bu Vanesa.


"Aku tidak apa-apa kok, maaf jika aku tidak sopan," ucapnya.


Bu Vanesa melihat jika Kiara sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Kamu yakin?"


"Iya, aku tidak apa-apa. Oh iya tadi yang di pelaminan siapa saja, Tan?" tanya Kiara.


"Tadi ada Adel dan suaminya yang bernama Rian. Ada Bu Anara dan Pak Andika suaminya. Ada Eva, anak Bu Anara nomor dua. Dan Alan anak terakhir. Tadi juga ada kekasihnya yang bernama Nela," jelas Bu Vanesa.


'Jadi Alan itu anaknya Bu Anara, tanpa sepengetahuanku, aku sudah masuk ke keluarganya. Bagaimana ini?' Kiara tampak bergelut dengan pikirannya.


"Kia, jangan melamun, Nak."


"Tidak kok. Maaf Tan, kalau aku pulang, apakah boleh?"


"Kamu yakin? Kita belum memberikan selamat loh sama pengantin."


"Maaf, Tan. Tapi aku tiba-tiba mengantuk," ucap Kiara beralasan.


Bu Vanesa menatap Kiara dengan penuh keanehan. Kiara bukan wanita yang seperti itu. Dia sangat sopan dan polos. Pasti ada sesuatu yang membuatnya ingin pergi dari sana.


"Baiklah, tapi kamu pulang sama supir ya. Tante juga tidak bisa ikut sama kamu."


"Tidak apa-apa, lebih baik Tante kembali ke dalam saja. Kasihan keluarga Tante sudah menunggu."


"Tante antar kamu ke parkiran dulu," Bu Vanesa beranjak dari duduknya. Begitu juga dengan Kiara.


Mereka berjalan beriringan menuju ke parkiran.


Setelah mengantar Kiara ke parkiran, kini Bu Vanesa kembali menghampiri keluarganya.


"Kak, dimana Kia?" Bu Anara bertanya kepada Bu Vanesa.


"Dia pulang dulu, biasa ibu hamil moodnya gampang berubah-ubah."


"Mah, tadi siapa sih?" tanya Alan.


"Tadi itu Kia, dia tinggal di rumah Tantemu," jawab Bu Anara.


"Kenapa tinggal disana? Dia itu bukan keluarga kita loh."


"Ceritanya panjang, nanti saja Mamah ceritakan," ucap Bu Anara.


Alan kembali diam.


Nela membisikan sesuatu di telinga Alan.


"Sayang, wanita tadi kok mirip Kiara," bisik Nela.


"Si culun itu?"

__ADS_1


"Benar, dia mirip sekali sama si culun. Hanya saja wajahnya lebih cantik karena riasan."


"Masa sih? Tidak ah, cantikan yang tadi."


"Iisshh kalau tidak percaya ya sudah."


"Semuanya, ayo kembali berfoto!" ucap Bu Anara, sehingga Alan dan Kiara menghentikan obrolan mereka.


Tak terasa sudah cukup lama acara itu berlangsung. Menjelang sore, semua tamu undangan terlihat banyak yang sudah meninggalkan ballroom hotel.


Bu Vanesa berpamitan kepada keluarganya untuk segera pulang.


"Semuanya, Tante pulang dulu ya. Kasihan Kia di rumah sendirian," pamit Bu Vanesa, sambil menatap keluarganya.


"Hati-hati, Tan. Titip salam untuk Kia," ucap Adelia.


"Iya, Nak. Nanti kapan-kapan kamu dan Rian berkunjung ya. Mungkin tadi Kia malu menemui kalian disini."


"Siap, Tan."


Setelah berpamitan, Bu Vanesa segera pergi.


"Mah, Pah, Rian sama Adel mau ke kamar dulu ya," ucap Rian.


"Ah pengantin baru tidak sabaran banget sih," sindir Alan.


"Aku mau menyu*sui Raffa dulu, Mah." Adelia mengambil Raffa yang ada di gendongan ibunya.


"Kamu bawa Raffa dulu saja. Nanti Mamah samperin kalian kalau disini sudah beres," ucap Bu Anara.


"Baik, Mah."


°°°°°°


Bu Anara dan Pak Andika meninggalkan ballroom hotel saat semua tamu sudah pulang semua. Kini keduanya hendak mengambil Raffa yang sedang bersama Adelia dan Rian. Malam ini Raffa akan tidur bersama mereka.


Langkah Bu Anara terhenti saat mendengar ponselnya berdering. Bu Anara mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Ternyata yang meneleponnya itu Bu Vanesa.


"Mah, siapa yang menelepon?" tanya Pak Andika.


"Ini Kak Nesa, Pah." ucapnya, lalu segera mengangkat panggilan telepon itu.


📞"Hallo, Kak." ucap Bu Anara.


📞"Kia pergi dari rumah, aku mau minta tolong agar Alan mau bantu cari. Sekalian nanti ajak Reno juga."


📞"Baik, Kak. Aku akan bicara sama mereka," ucapnya.


Kini keduanya sudah selesai berteleponan. Bu Anara segera menghubungi Reno dan Alan. Karena tadi mereka sudah pulang. Paling sekarang masih di perjalanan.


Pak Andika menatap istrinya yang sudah selesai


"Mah, apa lebih baik jika Papah ikut mencari saja?"


"Tidak usah, Pah. Mamah tadi sudah menyuruh Alan dan Reno."

__ADS_1


"Baiklah, semoga saja Kia cepat di temukan."


"Amin, Pah."


Kini keduanya melanjutkan langkah mereka.


Bu Anara dan Pak Andika berhenti di depan kamar hotel yang di tempati oleh Adelia. Bu Anara mengetuk pintu kamar itu.


Tok tok


Tak lama, Adelia membuka pintu kamar itu. Kebetulan dia juga menggendong anaknya.


"Del, biar Raffa sama Mamah dulu."


"Iya, Mah. Makasih ya," Adelia menyerahkan Raffa kepada ibunya.


"Sama-sama, Nak. Kita menginap di kamar sebelah, nanti kalau kangen anakmu, kamu bisa kesana saja."


"Baik, Mah."


Adelia kembali menutup pintu kamar itu setelah orang tuanya pergi dari hadapannya.


Adelia merasakan seseorang memeluknya dari belakang.


"Ngapain peluk segala?"


Rian membalikan badan istrinya, sehingga kini keduanya saling berhadapan. Dengan posisi itu, Rian terus melangkah maju, sedangkan Adelia mundur.


"Nanti aku jatuh loh," ucap Adelia.


"Tidak akan, kan aku pegangin."


Rian mengarahkan istrinya untuk duduk di pinggiran ranjang. Lalu dia mendorongnya sehingga istrinya terlentang di atas kasur.


"Bolehkah aku melakukannya?"


"Aku takut," kata Adelia.


Cup


Rian menge*cup singkat bibir istrinya.


"Tidak akan sakit, sayang. Percayalah," ucap Rian sambil membelai wajah cantik itu.


"Baiklah," ucap Adelia.


Rian mulai melancarkan aksinya. Dia memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat istrinya bergairah.


Adelia menutupi mulutnya yang sejak tadi mengeluarkan suara-suara sexy.


"Tidak usah di tahan, keluarkan saja suara indahmu," ucap Rian dengan nafas tak beraturan.


Kini desa*han keduanya terdengar nyaring di ruangan itu. Adelia mulai menikmati apa yang di lakukan oleh suaminya. Ternyata yang sekarang tidak sesakit saat pertama kali.


"Terima kasih, sayang." Rian menge*cup sekilas bibir istrinya setelah selesai ber*cinta.

__ADS_1


"Sama-sama, Mas." ucap Adelia dengan suara lirih, karena dia sangat lelah.


Rian menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.


__ADS_2