
Bu Sinta melihat anak dan menantunya yang sedang menuruni tangga. Padahal saat ini sudah pukul delapan pagi, tapi mereka baru keluar dari kamar.
"Wah pengantin baru terlihat segar sekali nih," ucap Bu Sinta, sambil menatap keduanya.
"Iya dong, Mah. Kan habis dapat asupan," ucap Aldi.
"Oh iya, Mamah niatnya mau pergi hari ini," ucap Bu Sinta.
Spontan Aldi menatap Bu Sinta. Dia melangkah mendekati Ibunya.
"Kenapa cepat sekali perginya? Memangnya Mamah sudah tidak kangen sama anak dan cucunya?" Aldi mendudukan dirinya di depan Ibunya. Begitu juga dengan Anara yang duduk di sebelah suaminya.
"Mamah sih inginnya berlama-lama di sini. Tapi pekerjaan Mamah sudah menunggu. Mamah harus ke luar kota mengurus pekerjaan," ucapnya.
"Yah terus nanti yang bantuin urus Adel, siapa dong?"
"Kamu tenang saja, Al. Mamah sudah mencarikan Baby Sister untuk menjaga Adel. Mungkin nanti siang juga akan datang."
"Bagus deh, itu berarti aku bisa sering berduaan sama Nara."
"Mah, tapi Baby Sisternya bisa di percaya tidak yah? Nara takut kalau Adel kenapa-napa," ucap Anara.
"Kamu tenang saja, Nak. Mamah merekrut langsung dari yayasan Baby Sister."
"Syukurlah, kalau memang sudah berpengalaman," Anara sedikit bernafas lega.
"Kalian sarapan dulu sanah! Pasti sudah kelaparan karena olahraga semalam," Bu Sinta menatap anak dan menantunya secara bergantian.
Anara menunduk malu saat mendengar perkataan Bu Sinta.
"Iya, Mah. Kebetulan Aldi juga lapar," kata Aldi.
Aldi mengajak istrinya ke ruang makan untuk sarapan bersama.
Setelah selesai sarapan, Anara dan Aldi melihat Baby Adel di kamarnya. Kebetulan Baby Adel baru di mandikan oleh Bi Inem. Hanya sebentar Aldi berada di kamar itu, dia kembali menghampiri Ibunya yang sedang duduk sendirian di ruang keluarga.
"Bi, biar Nara yang pakaikan baju," ucap Anara sambil membawa pakaian yang baru dia siapkan untuk anaknya.
"Iya, Non." ucap Bi Inem
Anara mulai mengoleskan minyak telon dan bedak ke tubuh anaknya. Lalu dia segera memakaikan pakaian ke tubuh anaknya.
Cup cup
"Anak Mamah jangan nangis, sayang." Anara menenangkan anaknya yang menangis.
Setelah selesai memakaikan baju kepada anaknya, Anara segera me*nyusuinya.
Sekarang Baby Adel terlihat lebih tenang.
Anara begitu menyayangi anaknya, walaupun dia sedikit membenci ayah dari anaknya. Baginya, Baby Adel adalah harta terindah yang dia miliki. Dia akan menyayangi dan melindungi Baby Adel dengan sepenuh hati.
"Cantik sekali, sayang. Mata kamu indah," Anara tersenyum menatap anaknya.
__ADS_1
Kenapa harus mirip Ayahmu, Nak. Kenapa matamu tidak mirip Mamah saja," batin Anara, sambil menatap mata biru anaknya.
°°°
Siang harinya, Anara sedang duduk santai karena kebetulan Baby Adel sudah tidur. Anara mendengar ketukan pintu dari luar rumah. Lalu dia pergi untuk membuka pintu itu. Anara melihat seorang wanita yang sepertinya seusia Kakaknya, sedang berdiri di depan rumah. Wanita itu membawa tas besar.
"Maaf, cari siapa yah?" tanya Anara.
"Saya cari Bu Sinta," ucapnya.
"Oh, Kakak ini yang mau jadi Baby Sister baru yah?" tanya Anara.
"Iya, nama saya Ani," ucapnya sambil tersenyum menatap Anara.
"Silahkan masuk, Kak Ani!"
"Terima kasih," ucapnya.
"Sama-sama," jawab Anara.
Ani melangkah masuk mengikuti Anara. Lalu Anara menyuruhnya untuk duduk. Anara memanggil suaminya dan Bu Sinta. Saat ini semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Selamat datang, Ani. Kita ketemu lagi," ucap Bu Sinta, sambil tersenyum menatap Ani.
"Iya Bu," Ani membalas senyuman Bu Sinta.
"Kenalin Kak, saya Anara, panggilnya Nara saja." lalu Anara menatap suaminya yang duduk di sampingnya. "Dan ini suami saya namanya Aldi," ucap Anara memperkenalkan dirinya dan suaminya.
"Jadi tugas Kak Ani itu hanya mengurus Adel, kebetulan Adel sedang tidur. Kalau begitu Nara antar Kak Ani ke kamar Kakak dulu yuk! Nanti kita ke kamar Adel," Anara mengajak Ani pergi ke kamar yang akan dia tempati.
"Baik, Nona." Ani beranjak dari duduknya. Lalu dia pergi mengikuti Anara.
Anara mengajak Ani menuju ke kamar belakang. Kebetulan kamar itu bersebelahan dengan kamar Bi Inem.
"Ini kamar Kakak yah, mungkin untuk menaruh barang-barang saja. Kalau untuk tidur, nanti Kak Ani akan lebih sering tidur di kamar Adel."
"Oke, Nona." ucapnya.
"Sekarang kita ke kamar Adel, yuk!" ajaknya.
Ani menaruh tasnya di lantai, lalu dia mengikuti Anara pergi ke kamar anaknya.
Kini keduanya sudah ada di kamar Baby Adel. Anara mengenalkan Baby Adel kepada Ani. Setelah itu dia mengatakan semua pekerjaan apa saja yang harus di lakukan olehnya.
"Kak Ani kalau mau istirahat bisa di sini kok. Sambil nungguin Adel yang sedang tidur. Pasti cape baru sampai kesini." ucap Anara.
"Iya, Nona. Saya akan istirahat di sini, sekalian mengerjakan pekerjaan pertama saya," ucapnya.
"Mau makan dulu tidak? Mungkin saja Kak Ani lapar?"
"Tidak usah, saya sudah makan kok tadi sebelum berangkat."
"Baiklah, kalau begitu Nara titip Adel yah. Nara mau keluar dulu."
__ADS_1
"Iya, Nona."
Anara segera pergi keluar kamar setelah dia menitipkan anaknya kepada Ani.
Aldi melihat istrinya yang kini sudah kembali ke ruang keluarga.
"Sayang, Adel masih tidur?" tanya Aldi.
"Iya, Mas." Anara mendudukan dirinya di sebelah suaminya. " Mas Aldi tidak ke cafe?"
"Tidak, sayang. Mas mau di rumah saja, lagian kita masih pengantin baru loh. Kamu malah nyuruh kerja."
"Bukan seperti itu juga sih, Nara hanya bertanya."
"Iya iya, Mas hanya bercanda kok," Aldi menarik hidung mancung istrinya.
"Ekhm ekhm, kalau mau bermesraan jangan di depan Mamah dong," Bu Sinta menatap anak dan menantunya.
"Tidak kok, Mah." ucap Anara.
"Sebelum pergi, Mamah mau memasak masakan spesial untuk kalian. Kalau begitu Mamah ke dapur dulu," Bu Sinta beranjak dari duduknya, lalu pergi ke dapur.
"Sayang, kamu tidak usah memasak tuh, bagaimana kalau sekarang kita ke kamar atas," Aldi membelai rambut istrinya.
"Baru juga tadi pagi kita melakukan itu. Mas Aldi kok minta lagi?"
"Mas ketagihan, sayang."
"Jangan sekarang, Mas. Nanti kalau tiba-tiba Adel bangun terus nangis, bagaimana?"
"Kan ada Ani yang menjaganya," ucap Aldi.
"Tapi Adel pasti kehausan, Mas. Pasti butuh ASI loh."
"Iya deh, Mas tidak akan memaksamu.
Tring tring
Ponsel milik Aldi berbunyi. dia mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Ternyata yang menghubunginya itu salah satu keryawannya. Aldi langsung mengangkat panggilan telfonnya. Ternyata karyawannya mengatakan jika ada yang mencari Aldi ke cafe.
"Siapa yang menelfon?" tanya Anara.
"Ini tadi karyawanku, dia mengatakan jika ada urusan penting di cafe."
"Kalau memang penting, lebih baik Kak Aldi pergi saja."
"Iya, sayang. Maaf yah, aku harus pergi," Aldi mengecup singkat kening istrinya.
"Tidak apa-apa kok, Kak." Anara tersenyum menatap suaminya.
Aldi segera pergi setelah berpamitan. Namun dia ke kamar dulu untuk mengambil kunci mobil.
°°°°°
__ADS_1