Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.91


__ADS_3

Andika sudah selesai mandi. Dia melihat Adelia yang masih ada di kamarnya.


"Mas, nanti Adel tidur sama kita yah," pinta Anara.


"Yah, kita tidak bisa bikin adik dong untuk Adel," ucap Andika dengan sedikit lesu.


"Istrirahat dulu, Mas. Lagian aku cape mengimbangi kamu yang begitu kuat," ucapnya.


"Eva tidur disini juga, tidak?"


"Nara belum tanya nanti deh coba tanya."


Anara menatap anaknya yang sedang berguling-guling di atas kasur.


"Sayang, awas loh, nanti jatuh," ucap Anara.


Tok tok


Anara mendengar ketukan pintu dari luar kamar.


"Mas, jagain Adel bentar dong, Nara mau bukain pintu nih," ucap Anara.


"Iya, sayang." Andika mendekati ranjang, lalu dia duduk sambil memperhatikan anaknya yang sedang berguling-guling.


Cklek


Pintu kamar sudah terbuka. Anara melihat Ani datang dengan menggendong Eva. Kebetulan Eva sedang menangis.


"Eva kenapa, Kak?"


"Tadi merengek, katanya mau sama Ibunya," ucap Ani.


"Sini biar sama saya!"


Anara mengambil Eva yang ada di gendongan Ani.


"Kak Ani boleh pergi dulu, Eva mau saya bawa masuk ke kamar."


"Siap, Non." Ani segera pergi dari sana.


Anara kembali menutup pintu kamarnya. Dia membawa Eva ke dalam kamarnya. Lalu dia dudukan di dekat Adelia.


"Hallo Eva, anak Papah habis nangis yah?" Andika melihat wajah Eva yang terlihat sembab.


"Iya, Mas. Dia nangis nyariin aku," ucap Anara.


"Masa kalah sama Adel sih, dia anteng loh."


Eva menatap Adelia yang sedang di peluk oleh ayahnya. Tiba-tiba dia mencubit lengan Adelia dan akhirnya Adelia menangis.


"Mamah atit ... " Adelia menangis sambil memanggil Ibunya. Dia juga merentangkan tangannya seolah ingin di gendong oleh Ibunya.


"Sayang, cup cup jangan nangis, Nak." ucap Anara dan hendak menggedong Adelia. Namun Eva memeluknya erat, seolah melarang Ibunya untuk menggendong Adellia.


Eva juga ikut menangis saat Ibunya mau melepaskan pelukannya.


"Eva, kamu jangan nangis, Nak. Kamu yang nakal kok malah kamu yang menangis?"


"Sudahlah, sayang. Biar Adel sama aku. Lagian hanya di cubit, biasa namanya juga anak kecil."


"Lihat tuh tangan Adel lecet dua tempat. Tadi juga Eva mencubit Adel." ucap Anara.


Andika menatap lengan Adelia. Dan benar saja lengannya lecet. Andika merasa tak tega melihat anaknya yang masih menangis.

__ADS_1


"Sayang, ini Adel sama kamu saja. Kasihan ingin di gendong Ibunya."


"Tapi ini Eva melarangku, Mas?"


Andika menatap Eva yang sedang memeluk Ibunya, seolah tak mau lepas.


"Eva, kamu itu kecil-kecil tapi nakal sama Kakak sendiri," ucap Andika kepada Eva.


"Mungkin karena terlalu di manjakan, Mas."


"Aku mau bawa Adel keluar," Andika beranjak dari atas tempat tidur, lalu menggendong anaknya keluar dari kamar.


Andika mencari obat merah untuk mengobati lengan Adel yang sedikit lecet.


"Tuan, biar Adel sama saya," ucap Ani yang melihat Adelia masih menangis.


Akhirnya Andika menyerahkan Adelia kepada Ani. Ani mulai menenangkan Adelia sehingga tidak menangis lagi.


'Kasihan sekali kamu, Nak. Jarang di gendong sama Ibu sendiri,' batin Andika sambil menatap anaknya yang sudah terlihat tenang di gendongan Ani.


Dari umur satu tahun, Adelia memang sudah tidak tidur bersama Ibunya. Karena saat itu Eva baru lahir, dan lebih sering bersama Ibunya.


°°°°°°°°°°°°°°°°


Malam ini Andika ingin tidur bersama Adelia. Dia sudah membawa anaknya ke dalam kamar.


"Sayang, kamu senang tidak tidur bersama Mamah dan Papah?" Andika bertanya kepada anaknya.


"Tenang," ucapnya.


"Senang, Nak. Bukan tenang," Andika mengajari anaknya untuk berbicara yang benar.


"Tenang," Adelia masih tetap belum bisa berucap dengan benar.


"Kamu pintar sekali sih, Nak." Andika menciumi ke dua pipi anaknya.


Cklek


"Sayang, masih sakit tangannya?" Anara bertanya kepada anaknya.


Adelia hanya menggelengkan kepalanya.


"Sayang," Andika menatap istrinya yang sedang naik ke atas kasur.


"Iya, Mas. Ada apa?"


"Mulai lusa kamu tidak usah datang lagi ke cafe. Karena aku sudah menemukan calon manager yang cocok mengelola cafe itu. Kamu tinggal terima laporan saja, tidak perlu berangkat ke cafe." ucapnya.


"Syukurlah, itu berarti Nara hanya menghabiskan waktu bersama anak-anak," ucap Anara.


"Sayang, kamu perhatiin Adel yah, kasihan loh dia seperti kurang kasih sayangmu."


"Iya, Mas. Nara akan berlaku adil sama mereka berdua."


"Kamu jangan terlalu memanjakan Eva," ucap Andika.


"Tidak kok, memang mereka berdua itu berbeda. Nara sering bersama Eva, karena Ani terkadang kewalahan karena Eva terlalu cengeng. Kalau Adel kan anaknya menurut."


"Iya, sih. Tapi jangan sampai jika mereka besar juga seperti itu. Aku tidak mau jika salah satu anak kita ada yang kekurangan kasih sayang," ucap Andika.


"Nara akan usahakan," ucap Anara.


Anara menatap anaknya yang sedang bermain mainannya.

__ADS_1


'Maaf ya, Nak. Mamah sering meminta kamu mengalah sama adikmu. Tapi Mamah yakin jika kamu nantinya jadi anak yang baik dan penurut sama orang tua,' batin Anara.


°°°°°°°


Pagi ini Anara bangun tidur sedikit telat. Dia menatap ke sampingnya, ternyata suami dan anaknya sudah tidak ada disana.


Anara beranjak dari atas tempat tidur, lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu dia keluar kamar untuk mencari keberadaan anak dan suaminya.


Ternyata suaminya sedang menemani anaknya bermain.


"Wah, kalian lagi main yah? Kok tidak ajak-ajak Mamah sih?" Anara menghampiri mereka, lalu dia duduk di sebelah anaknya.


"Kamu masih tidur tadi," ucap Andika.


"Mamah ain ... " Adelia memberikan boneka barbie kepada Ibunya. Dia ingin mengajak Ibunya untuk bermain.


Anara hendak mengambil bonek barbie dari tangan anaknya, namun tak jadi saat dia mendengar Eva menangis.


Anara menatap Ani yang sedang menggendong Eva.


"Non Nara, ini Eva menangis, baru bangun tidur."


"Biar sama saya, Kak." Anara beranjak dari duduknya lalu mendekati Ani. Dia mengambil Eva yang ada di gendongan Ani.


Andika mengambil boneka barbie yang sedang di pegang oleh anaknya.


"Sayang, mainnya sama Papah saja ya, kasihan itu adik kamu nangis, mau sama Mamah," Andika mencoba memberi pengertian kepada anaknya.


Adelia hanya menganggukan kepalanya. Dia juga tersenyum menatap Andika.


"Anak Papah pintar sekali, tos dulu dong," Andika merasa senang karena anaknya begitu pengertian.


Hanya sebentar Andika bermain bersama Adelia. Dia menyerahkan Adelia kepada Ani dan memintanya untuk membantunya mandi. Andika juga meminta agar Adelia di pakaikan pakaian yang bagus. Setelah menyerahkan Adelia ke Ani, Andika juga pergi ke kamarnya. Dia akan mandi lalu bersiap untuk pergi ke kantor.


Andika sudah terlihat rapih, dia keluar dari kamar dengan membawa tas kerjanya. Dia menauh tas kerja itu di atas sofa yang ada di ruang keluarga. Andika melihat Ani yang sedang menuntun Adelia dengan membawa mangkuk kecil.


"Ani, anak saya baru mau makan yah?"


"Iya, Tuan." jawabnya.


"Sekarang kamu suapin dia, setelah itu kamu siapin keperluan Adel. Karena saya mau mengajaknya pergi ke kantor."


"Baik, Tuan." ucapnya.


Andika pergi ke ruang makan karena akan sarapan. Dia sarapan sendiri, karena istrinya sedang membawa Eva jalan-jalan sekitar rumah.


Saat ini Andika sudah selesai sarapan. Dia menghampiri anaknya yang sedang duduk sendirian di lantai.


"Tuan, ini semua keperluan Adel sudah saya siapkan," Ani berjalan mendekati Andika, lalu menyerahkan tas kecil berwarna pink kepadanya.


"Terima kasih, saya akan pergi sekarang," Andika menggendong Adel. Dia meminta Ani untuk membawakan tas kerja miliknya dan tas milik Adelia.


Anara yang akan masuk ke rumah, berpapasan dengan suaminya yang hendak keluar dengan menggendong Adelia.


"Mas, kamu mau ajak Adel kemana?"


"Ke kantor, aku pergi dulu," Andika menjabat tangan istrinya.


"Biar sama aku saja, tidak usah di ajak," ucap Anara.


"Tidak apa-apa, aku akan tetap mengajaknya."


Andika berlalu pergi menuju ke mobilnya.

__ADS_1


'Apa Mas Dika takut jika Adel tidak di perhatikan olehku,' batin Anara sambil menatap kepergian suaminya.


••••••


__ADS_2