Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.81


__ADS_3

Anara merasa tenang karena beberapa hari ini Andika tidak lagi mengganggunya.


Bu Sinta melihat Anara yang baru keluar dari kamar.


"Nara, kamu mau berangkat kerja?"


"Iya nih, Mah." ucapnya.


"Sendirian?"


"Iya, sudah terbiasa sendiri." jawabnya.


"Padahal biasanya sama Dika loh, Entah itu anak kenapa kok jarang main kesini lagi. Katanya mau tinggal disini, tapi baru sehari menginap disini langsung pergi lagi." ucap Bu Sinta, yang merasa aneh. Karena sebelumnya Andika lebih seeing menghabiskan waktunya disana dari pada di luar.


"Mungkin Kak Dika bosan, Mah."


"Masa sih? Tapi sepertinya ada yang aneh," Bu Sinta mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan anaknya.


"Tidak usah di pikirkan, Mah. Nanti juga Kak Dika pasti kesini," ucap Anara.


"Iya, Nak."


Anara berpamitan kepada Bu Sinta, lalu dia juga berpamitan kepada anak-anaknya. Setelah itu dia langsung pergi ke cafe.


Anara pergi di antar oleh supir pribadinya. Karena kebetulan dia sudah mempekerjakan supir untuk mengantarnya bepergian.


Tak terasa sudah cukup lama melewati keramaian Ibu Kota, kini Anara sudah sampai di cafe. Anara segera turun dan menyuruh supirnya untuk pulang.


Sesampainya di dalam cafe, dia merasa heran karena melihat karyawannya sedang berkerumun.


"Ada apa ini?" tanya Anara dari belakang mereka.


Semua karyawan yang sedang berkerumun bergeser. Sehingga Anara bisa melihat salah satu meja yang sudah di hias sedemikian rupa. Terlihat spesial, karena di atas meja ada lilin-lilin yang menyala. Bahkan Anara melihat ada buket bunga mawar merah yang di letakan di pinggir meja.


"Ada apa ini?" tanya Anara.


Anara mendengar seseorang yang sedang menyanyi dari belakangnya. Dia menoleh dan melihat Rian yang sedang berjalan ke arahnya dengan memakai pakaian formal.


Sejenak Anara terhipnotis dengan suara Rian yang begitu indah. Namun dia buru-buru menepiskan apa pun itu yang membuat dia berpikiran yang tidak-tidak.


Rian memegang tangan Anara saat melihatnya akan pergi dari sana.


Rian bejongkok dengan satu tangan yang masih memegang tangan Anara.


"Anara Putri, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?" Rian membuka kotak cincin dan memperlihatkannya kepada Anara.


Semua karyawan bertepuk tangan karena merasa ikut bahagia. Walupun di antara mereka ada yang berbisik-bisik di belakang.


"Maaf, aku tidak bisa. Kecuali kamu bisa akrab dengan anak-anakku," ucap Anara.


Rian kembali berdiri, lalu dia memakaikan cincin di jari manis Anara.

__ADS_1


"Pakai dulu cincin ini, setelah ini aku akan berusaha menuruti keinginanmu," ucap Rian.


Prok prok


Semua karyawan bertepuk tangan sangat meriah.


Dari depan pintu masuk cafe, Andika sedang berdiri. Dia tidak percaya melihat pemandangan itu, saat orang yang dia cintai menerima cinta dari lelaki lain.


Andika berbalik arah, lalu segera kembali ke mobilnya. Dia mengemudikan mobilnya menuju ke kantor.


Sebenarnya tadi dia di hubungi oleh Bu Sinta, untuk datang ke rumah Anara. Bu Sinta memintanya untuk membawakan ponsel Anara yang tertinggal. Karena kebetulan belum berangkat ke kantor, jadi sekalian dia mampir untuk mengambil ponsel milik Anara.


'Mungkin memang sudah tidak ada harapan lagi,' batin Andika.


°°°°


Anara terus memandangi cincin yang melingkar di jarinya. Dia sebenarnya bingung jika menolak Rian di depan semua karyawannya, Rian pasti sangat malu. Jadi dia memberikan kesempatan dengan syarat Rian harus dekat dengan anak-anaknya.


Kruyuk


Anara merasa sangat lapar. Dia memutuskan untuk makan siang di luar. Baru juga akan bersiap, dia mendengar pintu ruangannya di ketuk dari luar.


Anara mendekati pintu masuk, lalu membukanya. Ternyata salah satu karyawannya yang datang.


"Maaf, Bu. Di depan ada Pak Rian yang menunggu Ibu. Katanya mau mengajak makan siang," ucapnya.


"Baiklah, saya mau bersiap dulu sebentar," kata Anara.


Anara sudah bersiap, dia juga sudah merapihkan penampilannya.


Anara berjalan keluar dari ruangannya. Dari kejauhan, Rian menatapnya sambil tersenyum kecil.


"Ayo kak!" kata Anara, yang kini sudah ada di dekat Rian.


"Siap, cantik." Rian beranjak dari duduknya, dia menggandeng tangan Anara, lalu mereka keluar dari cafe.


Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil. Rian mengemudikan mobilnya menuju ke restoran yang biasa dia kunjungi. Sepanjang jalan, Rian mengajak Anara mengobrol. Namun Anara hanya menjawab seperlunya saja.


"Nara, kita sudah sampai," ucap Rian sambil menatap Anara yang seperti sedang melamun.


"Eh iya ... " ucap Anara.


"Kamu melamun?"


"Tidak kok, hanya sedang mengingat-ingat sesuatu."


"Ayo turun!" ajak Rian.


"Iya, Kak." ucapnya.


Mereka berdua segera turun dari mobil. Saat memasuki restoran, tak sengaja Anara melihat Andika bersama seorang wanita yang terakhir kali dia lihat. Anara berusaha mengabaikan keberadaan Andika dan wanita itu.

__ADS_1


Baru juga duduk, Anara berpamitan kepada Rian, jika dia akan ke toilet.


Andika melihat Anara pergi ke toilet, lalu dia mengajak wanita yang bersamanya untuk pergi.


"Ayo ikut!" ucap Andika sambil menggandeng tangan Stela.


"Kemana?"


"Ikut saja," ucapnya.


Akhirnya mereka berdua pergi ke toilet. Andika menyuruh Stela berhenti saat dia melihat wanita yang baru saja keluar dari toilet.


"Coba sekarang kamu cek di dalam ada berapa orang," pinta Andika.


Stela merasa jika permintaan Andika sangat aneh.


"Untuk apa di cek segala?"


"Menurutlah! Nanti aku kasih tas branded yang lagi trend."


Mendengar tas branded, ke dua mata Stela berbinar. Stela masuk ke toilet dan melihat sekitar toilet itu. Ternyata hanya ada satu orang. Karena yang dia lihat hanya satu toilet yang tertutup.


"Hanya ada satu orang," ucapnya.


"Bagus, ayo kita masuk!" ajak Andika.


"Mau ngapain?"


"Menurut saja, katanya mau tas branded."


Akhirnya Stela menurut dengan perintah Andika.


Andika melihat jika pintu toilet terbuka. Dia langsung memojokan Stela dan mencium bibirnya. Awalnya Stela kaget, namun akhirnya dia menurut.


Anara masih mematung di tempatnya berdiri. dia menutup mulutnya rapat-rapat. Dadanya sesak seolah kehabisan pasokan udara. Anara segera pergi dari sana dengan berlinang air mata.


Anara tidak tahu kenapa perasaannya begini. Dia terlihat cemburu saat melihat Andika bercium*an dengan wanita lain.


"Terima kasih, jangan pakai hati, karena saya tidak suka bermain hati," ucap Andika lalu melangkah duluan pergi dari toilet.


Stela tersenyum senang karena bisa merasakan ciuman dari lelaki setampan Andika.


Rian melihat Anara yang sudah kembali. Namun anehnya, saat ini Anara sedang menangis.


"Kamu kenapa?" tanya Rian, yang kini sudah berdiri, lalu mendekati Anara.


"Aku tidak apa-apa, ayo kita pulang! Aku butuh ketenangan," ucapnya.


"Iya," Rian memapah Anara keluar dari restoran. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Anara di toilet tadi, tapi yang pasti Anara terlihat sangat sedih.


°°°°°

__ADS_1


__ADS_2