Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.46


__ADS_3

"Sayang, kamu kenapa?" tanya Vanesa, yang saat ini sudah berdiri di depan suaminya. Dia sedikit takut melihat tatapan tajam suaminya.


"Jadi kamu masih berhubungan dengan lelaki itu?"


"Siapa?" tanya Vanesa.


"Jangan pura-pura tidak tahu! Tadi ada panggilan masuk dari teman lelakimu yang berinisial K. Aku tidak tahu itu siapa? Yang jelas itu pasti kekasih gelap kamu," ucap Andika.


"Mas, kenapa kamu jadi curigaan seperti ini?" Vanesa memegang lengan suaminya, namun Andika menepis tangan istrinya.


"Jangan sentuh aku!" Andika mengambil koper miliknya, lalu dia membuka lemari dan mengambil beberapa pakaiannya.


"Mas, kenapa kamu masuk-masukin pakaian kamu ke koper?" Vanesa berdiri di belakang suaminya.


"Coba pikir sendiri!"


Vanesa langsung berlutut sambil memegang kaki suaminya.


"Maafin aku ya, kamu jangan seperti ini," Vanesa mendongkakan kepalanya sambil menatap suaminya.


'Maaf Pah, sepertinya aku ragu dengan putrimu ini. Sudah dua kali ini aku tahu jika dia masih berhubungan dengan lelaki lain. Entah itu lelaki yang sama atau berbeda,' batin Andika.


Andika melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Vanesa mengejar suaminya untuk menghentikannya agar tidak pergi.


Pak Indra melihat Andika melewati ruang keluarga dengan membawa koper besar.


"Nak Andika, kamu mau kemana?" tanya Pak Indra.


"Maaf, Pah. Sepertinya saya tidak sanggup lagi jika harus mempertahankan Vanesa," ucap Andika.

__ADS_1


"Kalian ada masalah apa?" tanya Pak Indra.


"Tanya sendiri sama dia," ucap Andika sambil menatap Vanesa.


"Mas, kita berdua ini tidak ada yang suci. Coba kamu pikirkan itu dulu. Kamu juga berselingkuh dengan sekretarismu. Jika ingin di salahkan, harusnya kita berdua. Bukan hanya aku saja yang kamu salahkan," ujar Vanesa.


"Jadi kalian berdua ... "Pak Indra memegangi dadanya yang sakit.


"Pah, Papah kenapa?" Vanesa memegangi ayahnya, lalu memapahnya menuju ke sofa.


"Biar aku ambil minum," Andika menaruh kopernya, lalu dia pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


Kini Andika sudah kembali dengan membawa gelas berisi air putih, lalu dia letakan di atas meja. Vanesa mengambil gelas itu. Dia membantu ayahnya untuk minum.


"Papah baik-baik saja?" tanya Vanesa, setelah melihat jika ayahnya selesai minum.


"Saya akan pikirkan, Pah. Tapi untuk saat ini saya akan pergi dulu ke rumah Mamah Sinta untuk menenangkan diri," ucap Andika.


"Baiklah, Papah beri kamu waktu untuk memikirkan ini semua. Semoga kamu mengambil keputusan yang tepat, dan juga tidak mengecewakan kami," ucap Pak Indra.


Setelah melihat Pak Indra lebih tenang, Andika berpamitan untuk pergi.


Andika pergi dengan mengendarai mobilnya sendiri. Cukup lama mengemudi, kini mobil itu sudah sampai di depan rumah Bu Sinta. Andika turun dari mobil, lalu mengambil koper miliknya yang ada di bagasi mobil. Dia melangkah mendekati pintu masuk.


Andika mengetuk pintu dan kebetulan Bu Sinta yang membukakan pintunya. Bu Sinta mengeryitkan keningnya saat melihat anaknya datang dengan membawa koper besar.


"Ngapain kamu pulang dengan membawa koper sebesar itu?" tanya Bu Sinta.


"Aku mau tinggal disini untuk sementara waktu," ucapnya.

__ADS_1


"Kamu ada masalah sama istrimu?" tanya Bu Sinta.


"Banyak," ucapnya.


"Masuklah! Ceritakan semua masalahmu. Biar Mamah kasih solusi yang terbaik untuk kalian."


Andika masuk ke rumah mengikuti Ibunya yang sudah melangkah terlebih dahulu.


Bu Sinta mempersilahkan anaknya untuk duduk dan langsung bercerita. Andika mulai menceritakan mengenai perselingkuhan istrinya. Dia juga bercerita jika istrinya sudah tahu bahwa dia ayah dari Baby Adel. Bahkan sekarang dia menghamili wanita lain yang merupakan mantan sekretarisnya.


Bu Sinta memijat pelipisnya setelah mendengar apa yang di ceritakan oleh anaknya. Namun apa pun masalahnya, dia ingin jika anaknya tidak bercerai dengan istrinya.


"Kalian ini pasangan yang cocok, sama-sama selingkuh," ucap Bu Sinta dengan sedikit tersenyum.


"Kok Mamah senyum seperti itu? Mamah senang?"


"Tidak, hanya heran saja," ucapnya. "Sebaiknya kamu perbaiki hubunganmu dengan istrimu. Minta istrimu untuk meninggalkan selingkuhannya. Dan untuk Melisa, lakukan tes DNA saat anak itu lahir. Biar selama dia hamil, Mamah yang mengurusnya. Kamu jangan pernah temui dia lagi!" pinta Bu Sinta.


"Baik, Mah."


"Jika itu memang anakmu, kamu tidak perlu menikahi melisa. Bukankah dia sudah bersuami? Kamu bisa mengadopsinya jika Melisa tidak menginginkan anak itu. Namun jika dia mau mengurusnya, kamu cukup kasih nafkah saja."


"Iya, Mah. Terima kasih karena sudah memberikan solusi untukku," ucap Andika.


"Maka dari itu kamu jangan suka selingkuh, sekarang di selingkuhi beneran sama istri," Bu Sinta tertawa geli sambil menatap anaknya.


Andika pura-pura merajuk di depan Ibunya.


°°°

__ADS_1


__ADS_2