
"Nara ... Nara ... "Terdengar teriakan Vanesa dari luar rumah.
Kebetulan Anara dan Bi Inem sedang berada di dapur. Ani yag sedang berada di ruang depan, segera pergi menghampiri Anara.
"Non, itu ada yang datang tapi sepertinya marah-marah. Saya mau bukain tapi takut," ucap Ani.
"Iya saya juga dengar, biar saya saja yang bukain," kata Anara.
"Biar Bibi temani, Non." ucap Bi Inem.
"Iya, Bi." ucapnya.
Anara dan Bi Inem pergi ke depan, sedangkan Ani membawa Baby Adel menuju ke kamar.
Cklek
Anara membuka pintu rumah. Dia melihat Vanesa sedang berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Ada apa, Kak? Kok datang marah-marah sih?" tanya Anara.
Vanesa melepaskan tangannya dari dadanya. Lalu dia menampar pipi Anara dengan tangan kanannya.
"Aduh," Anara memegangi pipinya yang sakit. "Kakak apa-apaan sih?"
"Itu pantas untuk ja*lang seperti kamu," ucap Vanesa.
"Maksud Kak Nesa apaan? Kenapa ngatain aku seperti itu?"
"Tidak usah berpura-pura, aku tahu kok kalau Adel itu anaknya Mas Andika," ucap Anara.
"Kakak sudah tahu? Tapi ini tidak seperti yang Kak Nesa pikirkan. Hari itu hanya kecelakaan hingga membuatku hamil. Jika Kakak mau menyalahkan, lebih baik salahkan saja suami Kak Nesa sendiri. Karena dia yang bersalah. Nara disini hanyalah korban," kata Anara.
"Tidak usah banyak alasan! Sekali ja*lang ya tetap ja*lang. Awas saja yah kalau kamu berani merebut Mas Andika dariku!"
"Itu tidak akan pernah, karena aku sudah menikah dengan Kak Aldi. Dan juga, aku tidak menyukai Kak Dika," ucap Anara.
"Bagus deh kalau kamu tahu diri," setelah mengatakan itu, Vanesa langsung melangkah pergi.
Anara masih menatap kepergian Kakaknya. Hal yang dia takutkan, akhirnya terjadi juga. Anara harap, setelah ini ke depannya tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
"Non, ayo masuk!" ajak Bi Inem.
"Iya, Bi." Anara melangkah masuk ke rumah.
Sedangkan Bi Inem menutup pintu rumah terlebih dahulu.
°°°
__ADS_1
Sore ini Anara sedang duduk bersantai bersama Ani dan Adel. Mereka mendengar ketukan pintu dari luar rumah. Anara beranjak dari duduknya lalu membukakan pintu itu.
"Kak Aldi sudah pulang?" Anara mengambil tas kerja suaminya.
"Iya nih, sayang." ucapnya.
Anara menjabat tangan suaminya lalu mencium punggung tangannya. Lalu keduanya masuk ke rumah. Anara mengantar suaminya ke kamar.
Anara menatap suaminya yang sedang membuka satu persatu kancing kemejanya.
"Kak, tadi pagi Kak Nesa datang ke sini loh," kata Anara memberitahu.
Aldi menatap istrinya yang sedang duduk di pinggiran ranjang.
"Ngapain?"
"Kak Nesa datang marah-marah, dia sudah tahu kalau Kak Dika itu ayah dari anakku," ucap Anara.
"Tapi dia tidak ngapa-ngapain kamu kan?" tanya Aldi.
"Hanya menampar pipiku saja, tapi aku tidak apa-apa kok."
"Astaga, berani sekali menampar pipi bidadariku," gumam Aldi, lalu dia melangkah mendekati istrinya. Dia melihat kedua pipi istrinya.
"Sudah tidak apa-apa, Kak. Sudah aku kompres juga."
"Tidak kok," ucapnya.
"Lain kali kalau Vanesa datang, kamu jangan mau kalah sama dia. Dia nampar kamu balik nampar, dia marah-marah kamu balik marah sama dia," Aldi menyuruh istrinya agar sedikit lebih tegas kepada Vanesa.
"Tidak mau, Kak. Kalau aku bersikap kasar, nanti masalah kita malah tidak akan selesai karena tidak ada yang mau mengalah."
"Aku salut sama kamu, tidak salah aku menikahimu," Aldi memeluk Anara, lalu beberapa kali mencium keningnya.
"Terima kasih," Anara mempererat pelukan suaminya.
"Untuk apa, sayang?"
"Karena Kak Aldi mau menerimaku," kata Anara.
"Kita bersatu karena sudah di takdirkan, dan aku senang karena bisa menjadi suamimu," Aldi merengganggkan sedikit pelukannya. Lalu dia menatap wajah istrinya.
'Aku senang karena Kak Aldi terlihat begitu mencintaiku,' batin Anara.
°°°
Andika baru pulang dari kantor. Dia melihat Vanesa dan Pak Indra sedang duduk di ruang keluarga. Pak Indra menatap ke datanganya, lalu menyuruhnya bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Nak Andika, kemarilah!"pinta Pak Indra.
Andika melangkah mendekati mereka. Lalu dia duduk di sebelah istrinya.
"Ada apa, Pah?" tanya Andika.
"Papah sudah tahu semuanya menyangkut kamu dan Adel. Tadi Vanesa sudah mengatakan semuanya kepada Papah. Jujur saja Papah sangat kecewa sama kamu. Tapi Papah berharap jika kamu tidak akan mengganggu Anara dan Aldi. Apalagi jika kamu ingin merebutnya dari Aldi. Papah tidak mau jika pernikahanmu dan Vanesa ini jadi tidak harmonis karena masalah ini." ujar Pak Indra.
"Aku tidak akan meninggalkan Vanesa. Karena sebelumnya juga sudah berjanji kepada Papah."
"Syukurlah, saya senang mendengarnya."
Setelah selesai berbicara, Pak Indra menyuruh Vanesa untuk mengantar Andika ke kamar.
"Mas, kamu mau mandi yah? Sebentar yah! Aku kebelet nih," kata Vanesa.
"Iya, sayang." ucapnya.
Vanesa masuk ke kamar mandi, sedangkan Andika duduk di pinggiran ranjang.
Tring
Andika mendengar suara ponsel istrinya berdering. Lalu dia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja kecil dekat ranjang.
'Ini K nelfon lagi? Ngapain sih dia masih gangguin Vanesa?' gumam Andika.
Andika menggeser tombol hijau lalu mendekatkan ponselnya di telinga. Dia tidak bicara, namun hanya mendengarkan orang di seberang sana yang berbicara.
📞"Hallo, sayang. Kapan kamu datang lagi? Satu hari kamu tidak datang juga aku sudah tidak tahan nih. Aku rindu ber*cinta sama kamu," ucap Kenzo dari balik telfon.
Andika membelalakan matanya mendengar perkataan Kenzo.
📞"Kamu siapa? Kenapa menghubungi istri saya?" tanya Andika.
📞"Uppss ... Saya kira ini Vanesa, maaf saya matikan saja telfonnya," ucap Kenzo lalu dia mematikan panggilan telfon itu.
'Stt, rupa-rupanya Vanesa masih berhubungan dengan lelaki itu. Ini sudah tidak bisa di maafkan lagi,' batin Andika.
Andika menaruh kembali ponsel itu ke atas meja.
Cklek
Pintu kamar mandi terbuka. Andika menatap Vanesa yang sedang berjalan ke arahnya.
Vanesa melihat tatapan suaminya yang terlihat berbeda. Terlihat sekali jika suaminya itu seperti sedang menahan amarah.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Vanesa, yang saat ini sudah berdiri di depan suaminya. Dia sedikit takut melihat tatapan tajam suaminya.
__ADS_1
°°°°°