Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode 46


__ADS_3

Alan mengantarkan Nela pulang dulu, setelah itu barulah dia pergi mencari Kiara.


Alan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia bermaksud akan menghubungi Bu Vanesa dan meminta foto Kiara. Karena tadi saat di pesta, dia hanya melihat sekilas wajah Kiara.


📞"Hallo, Tante." ucap Alan, saat Bu Vanesa sudah mengangkat panggilan teleponnya.


📞"Iya, ada apa?"


📞"Bolehkan aku meminta foto Kia? Aku tidak paham orangnya. Jika ada foto kan lebih jelas."


📞"Sebentar Tante kirimkan. Kamu cari loh sampai ketemu."


📞"Oke, Tan." ucap Alan.


Kini keduanya sudah selesai berteleponan.


Ting


Alan mendengar ada notif pesan masuk. Dia membuka pesan yang di kirimkan oleh Bu Vanesa. Kedua matanya terbelalak saat melihat foto Kiara culun.


Ternyata Bu Vanesa mengirimkan dua foto. Yaitu foto Kiara tanpa riasan dan foto Kiara yang sudah di rias sehingga terlihat lebih cantik.


'Bagaimana mungkin?' batin Alan.


Alan tidak menyangka jika yang tantenya sebut Kia itu ternyata Kiara yang dia kenal. Dan saat ini dia sedang hamil.


'Apa mungkin jika itu anakku? Ah culun katanya anak pintar di kampus, tapi kok bodoh sekali. Masa dia bisa kebobolan. Padahal baru sekali berhubungan,' batin Alan, lalu dia memukul stir kemudinya.


Alan kembali mengemudikan mobilnya. Malam ini juga dia harus menemukan keberadaan Kiara. Dia tidak boleh membiarkan orang lain menemukannya dulu. Jangan sampai Kiara berbicara kepada keluarganya, jika mereka pernah on night stand. Apalagi jika Kiara mengaku-ngaku jika anak yang di kandungnya itu anak Alan. Lagian Alan tidak akan percaya begitu saja jika itu anaknya. Bisa jadi Kiara juga bermain dengan lelaki lain setelah malam itu.


Setelah cukup lama mengelilingi keramaian ibukota, akhirnya Alan melihat seseorang yang mirip Kiara. Wanita itu sedang duduk sambil menikmati mie ayam di pinggir jalan.


Alan memarkirkan mobilnya, lalu dia pergi menghampiri Kiara.


"Ekhm," Alan berdehem saat sudah berdiri di depan Kiara.

__ADS_1


Kiara mendongkakkan kepalanya. Dia melihat Alan yang tiba-tiba ada di depannya.


"Maaf, ada apa ya?" Kiara berusaha bersikap biasa saja. Walaupun dalam hatinya dia merasa cemas karena ada Alan disana


"Selesaikan makanmu! Setelah itu ikutlah denganku," pinta Alan.


"Ini sudah selesai kok," ucapnya.


Kiara mengambil uang pas yang dia bawa, lalu membayar mie ayam yang tadi dia makan. Setelah membayar, dia kembali ke tempat duduknya.


"Ayo!" ajak Alan.


"Ke mana?"


"Tidak usah banyak tanya," Alan mengambil tas besar milik Kiara yang tergeletak, lalu dia melangkah pergi.


Terpaksa Kiara mengikuti Alan. Karena tas miliknya sudah Alan bawa.


Alan menyuruh Kiara untuk masuk ke mobil.


"Kita mau ke mana?" tanya Kiara yang saat ini sudah berada di dalam mobil.


Setelah cukup lama mengemudi, kini mereka sudah sampai di tempat tujuan. Mobil Alan sudah terparkir di parkiran apartemen mewah.


"Cepat turun!" pinta Alan.


"Ini dimana?"


"Nanti juga kamu tahu."


Kini keduanya sudah keluar dari dalam mobil. Kiara mengikuti Alan di belakang.


Saat ini keduanya sudah ada di depan apartemen. Alan memencet pasword apartemen itu, dan pintunya langsung terbuka.


Alan sudah masuk duluan, sedangkan Kiara masih berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Ngapain masih disitu? Cepat masuk!" pinta Alan.


Karena Kiara masih diam di tempat, jadi Alan menarik tangannya agar Kiara masuk ke dalam Apartemen.


"Ngapain kita disini?" tanya Kiara.


Alan tersenyum menatap Kiara.


"Apa motif kamu mendekati keluargaku?"


"Siapa yang mendekati keluargamu? Aku hanya tidak sengaja di tolong oleh Bu Anara, dan di minta tinggal di tempat Bu Vanesa."


"Ckck alasan klasik," gumam Alan namun masih terdengar oleh Kiara.


"Sungguh, aku tidak seperti itu. Terserah mau percaya atau tidak. Lebih baik sekarang aku pergi saja," Kiara hendak melangkah pergi, namun Alan mencekal tangannya.


"Duduk!" pinta Alan dengan tatapan tajam.


Kiara menghela napasnya, lalu dia kembali duduk.


"Ada apa lagi? Bukankah kita sudah tidak ada urusan?"


"Siapa ayah dari bayi itu?" tanya Alan sambil menatap perut buncit Kiara.


"Hanya orang yang tidak bertanggung jawab. Ah sudahlah, aku bisa membesarkannya sendiri kok."


"Aku yakin jika itu hasil kesalahan kita. Atau jangan-jangan kamu ini simpanan om-om?"


"Jangan asal bicara! Iya ini anakmu, puas."


"Bagaimana jika aku kasih penawaran yang bagus. Bagaimana jika kamu menjadi teman tidurku, aku akan bertanggung jawab kepada kamu dan anak itu. Tapi tanpa pernikahan."


"Aku tidak sudi, lebih baik aku jadi gelandangan di luar sana dari pada harga diriku yang di pertaruhkan."


"Ckck sombong sekali. Baiklah, silakan pergi!"

__ADS_1


"Tanpa di suruh pun aku mau," Kiara beranjak dari duduknya, lalu pergi keluar dari apartemen itu.


Kiara tidak menyangka jika Alan akan mengatakan hal itu. Dia sama sekali tidak akan menuruti penawaran Alan yang baginya sangat merugikan.


__ADS_2