Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.59


__ADS_3

Saat ini Anara masih tidak sadarkan diri. Bu Sinta dan yang lainnya menunggu Anara sambil duduk bersantai.


Tok tok


Pintu ruangan itu terbuka, ternyata yang datang seorang perawat.


"Maaf dengan Bu Sinta?" ucapnya sambil menatap semua yang ada di ruangan itu.


"Saya, ada apa yah?"


"Pasien atas nama Aldi sudah di pindahkan ke ruang perawatan, namun kondisinya ... " perawat itu hendak melanjutkan perkataannya namun Bu Sinta memotong pembicaraannya.


"Kita lanjut bicara di luar saja," ucap Bu Sinta.


"Baik, Bu."


Kini keduanya keluar dari ruang inap Anara. Andika dan Pak Indra juga ikut keluar.


"Maaf yah, saya hanya tidak ingin jika menantu saya mendengarnya. Dia baru melahirkan, jadi kasihan jika mendengar semua pembicaraan kita," ucap Bu Sinta.


"Iya saya mengerti," perawat itu tersenyum menatap Bu Sinta.


"Pak Aldi sudah melewati kondisi keritisnya. Namun saat ini Pak Aldi koma," ucapnya lagi.


"Apa? Koma?" Bu Sinta terkejut mendengar berita duka ini.


"Iya, kalau begitu saya permisi dulu," ucapnya.


Setelah perawat itu pergi, Bu Sinta dan yang lainnya segera pergi ke ruang inap Aldi. Hanya Ani yang tidak ikut, karena Bu Sinta menyuruhnya untuk menemani Anara.


Bu Sinta membuka ruang inap anaknya. Dia melihat Aldi terbaring lemah, dengan alat bantu pernapasan dan yang lainnya menempel di tubuhnya.


"Sayang, bagaimana kamu bisa seperti ini?" Bu Sinta tak bisa lagi menahan isak tangisnya.


"Mah, kita harus tenang. Kita doakan saja semoga Aldi cepat sadar," Andika mengusap-usap punggung Bu Sinta.


"Tapi ini hari bahagianya loh, anaknya baru saja lahir," ucapnya, sambil menatap Aldi. Bu Sinta mengambil kursi lalu mendekatkannya di dekat ranjang pasien yang sedang di tempati oleh Aldi. Bu Sinta duduk, lalu memegang tangan anaknya. "Kamu harus sadar, Nak. Anara dan anakmu menunggumu."


"Anak kamu perempuan loh, Al. Nanti bisa main bareng sama Adel," ucap Andika.


Bu Sinta menatap Andika yang sedang berdiri di dekatnya.

__ADS_1


"Dika, apa kamu sudah tahu siapa yang menabrak Aldi?" tanya Bu Sinta.


"Belum, Mah."


"Coba deh kamu pergi ke lokasi kejadian, siapa tahu ada CCTV atau saksi mata yang bisa menjadi bukti. Mamah tidak mau loh orang itu pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab," ucap Bu Sinta.


"Iya, Mah. Besok pagi Dika langsung pergi ke lokasi kejadian, kalau sekarang sudah menjelang malam."


"Mamah takutnya jika penabrak itu sudah berhasil pergi jauh," ucap Bu Sinta.


"Mamah tenang saja, Dika akan kejar kemana pun orang itu pergi, dan akan menangkapnya."


🍀🍀🍀


Anara mengerjapkan kedua matanya. Dia hanya melihat Ani yang sedang duduk di sofa.


"Kak," ucap Anara dengan suara lirih.


Ani menatap ke sumber suara, lalu mendekati Anara yang ternyata sudah sadar.


"Non Nara sudah bangun, syukurlah." ucap Ani, yang merasa senang.


"Anakku dimana?" Anara menatap kanan kirinya namun tidak ada siapa-siapa lagi di ruangan itu.


"Syukurlah, aku ingin cepat-cepat bertemu anakku," ucapnya.


"Nanti yah, Non. Saya mau memanggil Dokter dulu untuk mengecek keadaan Non Nara."


"Iya, Kak." ucap Anara.


Ani yang akan memanggil Dokter, berpapasan dengan Bu Sinta.


"An, kamu mau kemana?" tanya Bu Sinta.


"Mau memanggil Dokter, itu Non Nara sudah siuman," ucapnya.


"Benarkah? Biar saya yang memanggil Dokter. Nih kamu ajak Adel saja."


"Baik, Bu." Ani menggendong Adel, lalu kembali ke kamar inap Anara.


Tak lama, Bu Sinta datang dengan Dokter kandungan yang menangani Anara.

__ADS_1


"Dok, kapan yah saya boleh pulang?" tanya Anara.


"Nunggu dua atau tiga hari dulu, Bu." ucapnya.


Dokter itu mulai memeriksa Anara dan menyuruh Anara jangan banyak gerak dulu. Karena takut bekas operasinya kenapa-napa.


Setelah kepergian Dokter, Anara menatap Bu Sinta yang sedang duduk bersama Ani dan Baby Adel.


"Mah, Nara mau ketemu Kak Aldi," ucap Anara.


"Jangan sekarang yah, sayang. Ingat loh kata Dokter kamu jangan banyak gerak dulu," ucap Bu Sinta.


"Tapi Nara khawatir sama Kak Aldi. Nara ingin melihat keadaannya," ucapnya.


"Besok saja yah, lagian tadi Aldinya sudah tidur."


"Baiklah," akhirnya Anara menurut saja dengan Bu Sinta.


🍀🍀🍀


Andika sedang ada di dalam perjalanan menuju ke lokasi kejadian kecelakaan yang di alami oleh Aldi. Kebetulan Ani sudah meberitahu alamat lengkapnya.


Setelah menempuh perjalanan yang tak terlalu lama, Andika sudah sampai di lokasi kejadian. Dia menghentikan mobilnya persis di depan pedagang batagor. Andika turun dari mobil, lalu mendekati pedagang batagor itu.


"Maaf, Pak. Saya mau sedikit bertanya," ucap Andika.


"Silahkan!" ucapnya.


"Saya ini Kakak dari korban tabrak lari kemarin sore. Saya mau tanya apa di sekitar sini ada CCTV yang bisa menjadi barang bukti atau mungkin ada saksi mata yang melihat. Saya ingin menangkap orang itu, karena kondisi adik saya parah setelah kecelakaan itu."


"Kalau saksi mata sih kebetulan saya juga melihat kejadian itu. Tapi saya tidak melihat jelas plat mobil pengendara itu. Karena pengendara mobil itu sangat cepat. Dan penglihatan saya juga tidak begitu jelas," ucapnya.


"Kalau begitu saya mau cek rekaman CCTV sekitar sini jika ada," kata Andika.


"Kebetulan di seberang jalan itu bank, dan sepertinya ada CCTV yang mengarah ke arah sini. Coba saja bertanya ke satpamnya."


"Baik, Pak. Saya titip mobil dulu yah sebentar," ucap Andika.


"Siap," ucapnya.


Andika menyeberang ke seberang jalan dengan berjalan kaki. Saat ini dia sudah sampai di depan post satpam. Lalu dia meminta untuk melihat rekaman CCTV yang mengarah ke jalan.

__ADS_1


Andika beberapa kai mengulang rekaman CCTV itu. Dia masih tidak percaya dengan yang dia lihat.


Andika langsung menghubungi Bu Sinta dan memberitahukan semuanya.


__ADS_2