
Adelia mengerjapkan matanya. Dia menatap kamar yang begitu asing. Lalu dia menoleh ke sampingnya. Ternyata ada seseorang yang tidur di sebelahnya.
"Aaaaa .... " Adelia berteriak sehingga membangunkan lelaki tampan yang tidur di sebelahnya.
"Ada apa sih? Pagi-pagi bikin berisik," ucapnya, lalu mendudukan diri di atas tempat tidur.
Adelia merasa kedinginan. Lalu dia menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Ternyata dia tidak berbusana lengkap. Hanya dalaman saja yang dia kenakan.
"Apa yang sudah kamu lakukan kepadaku? Kenapa pakaianku sudah tidak lengkap?"
"Pikir saja sendiri, apa yang terjadi semalam," ucapnya, lalu beranjak dari atas tempat tidur.
"Kamu menodaiku?"
Spontan lelaki itu menoleh menatap Adelia.
"Lihat sendiri, ada bekasnya tidak?"
Adelia menutupi tubuhnya dengan selimut. Lalu dia bangkit dari atas tempat tidur. Ternyata dia tidak melihat noda darah di sprei, dan juga pangkal pahanya tidak sakit. Itu berarti lelaki yang saat ini bersamanya, tidak berbuat macam-macam.
"Ternyata aku masih suci," ucap Adelia.
Mendengar kata suci, lelaki itu megeryitkan keningnya.
'Jadi wanita ini masih suci,' batinnya sambil menatap Adelia.
"Ngapain lihat-lihat?"
"Ah tidak, cepat kamu ganti pakaian. Kebetulan aku sudah memberikan pakaian baru untukmu. Tuh ada di sofa," ucapnya.
"Baiklah, terima kasih." Adelia melangkah mendekati sofa, lalu mengambil paper bag berisi pakaian yang akan dia kenakan.
Adelia pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Setelah kepergian Adelia, Reno mendapat telfon penting.
'Aiishhh, belum juga berkenalan dengan wanita itu, sekarang malah harus pergi,' Reno menaruh kartu nama di atas meja. Lalu dia segera pergi keluar dari kamar itu.
Adelia sudah selesai berganti pakaian. Dia tidak mandi, karena niatnya akan langsung pulang. Adelia melihat tas miliknya tergeletak di atas meja. Lalu dia menatap kartu nama yang ada di dekat tas miliknya. Dia membaca nama pemilik kartu itu Reno Wijaya.
"Oh, jadi dia Reno Wijaya. Kok akhir nama ada kata Wijaya? Apa mungkin dia anaknya Dirga Wijaya? Tapi, semalam yang di kenalkan di publik hanya Rian," Adelia tampak bergelut dengan pikirannya.
Adelia keluar dari kamar itu. Dia akan segera pulang. Entah alasan apa yang akan dia katakan nanti kepada orang tuanya. Selama ini dia tidak pernah menginap di luar.
__ADS_1
°°°°°°°°°°°°
Adelia sudah sampai di depan rumahnya. Baru juga akan mengetuk pintu, namun ternyata pintu itu sudah terbuka duluan.
Terlihat Bu Anara yang sedang menatap anaknya dengan intens.
"Dari mana saja kamu semalam? Kenapa pakaian kamu berbeda?" tanya Bu Anara penuh selidik.
"Maaf, Mah. Semalam aku menginap di Apartemenku," ucap Adelia.
Adelia memang punya Apartemen yang baru dia beli beberapa minggu yang lalu, tapi belum dia tinggali. Namun itu bisa menjadi alasan agar ibunya tidak curiga.
"Oh, Mamah senang dengarnya. Akhirnya anak Mamah mau menginap di luaran sana," Bu Anara terlihat senang.
"Mamah tidak marah?"
"Ngapain marah? Lagian cuma menginap di Apartemen. Siapa tahu sebelah Apartemenmu yang menghuni itu seorang lelaki lajang, bagus tuh kalau cinlok."
"Mamah masih memikirkan itu saja," gumam Adelia namun masih terdengar oleh ibunya.
"Harus dong, sayang. Mamah masih berharap agar kamu di pertemukan dengan jodohmu."
"Nanti juga datang sendiri, Mah."
Kebetulan mereka berpapasan dengan Eva yang sudah terlihat rapih.
"Eva, kamu mau kemana?" tanya Bu Anara.
"Eva mau pergi, Mah."
"Pasti mau ketemuan sama lelaki itu," ucapnya menebak.
"Nah, pintar. Aku memang mau ketemu dia, Mah."
"Hati-hati, Nak. Jaga diri kamu loh," Bu Anara masih was-was jika menyangkut Eva. Karena Eva mudah sekali bergaul dengan lelaki. Bu Anara takut jika anaknya melakukan hal-hal yang tidak di inginkan.
"Siap, Mah. Aku pasti akan jaga diri," Eva bersalaman dengan ibu dan Kakaknya. Lalu dia segera pergi.
"Lihat tuh adikmu, dia bersemangat sekali kalau ketemu kekasih barunya," kata Bu Anara, sambil menatap kepergian anaknya.
Adelia hanya tersenyum tanpa menanggapi perkataan ibunya.
__ADS_1
°°°°°°°°
Eva sudah sampai di sebuah cafe. Dia langsung duduk di salah satu kursi untuk menunggu kekasih barunya.
"Hai, sudah lama?"
Eva menoleh ke belakang saat mendengar suara seseorang menyapanya.
"Baru sampai kok," jawab Eva sambil tersenyum manis.
Rian duduk di kursi depan Eva.
"Kamu mirip sekali seseorang, jika tersenyum seperti itu."
"Masa sih?"
"Iya, terlihat sangat cantik."
Sebenarnya Rian menyukai Eva karena sedikit mirip dengan mantannya. Eva terlihat seperti wanita indo asli, namun sangatlah cantik. Itu yang membuat Rian tertarik.
"Memangnya siapa orang itu?" tanya Eva.
"Mantanku," jawabnya.
'Tidak apa-apa deh jika aku di mirip-miripkan dengan mantannya. Yang penting Kak Rian tertarik kepadaku,' batin Eva.
Bagi Eva, Rian adalah sosok lelaki paling tampan yang pernah hadir di kehidupannya. Dan itu alasan dia begitu mencintainya.
"Ayo kita menikah!" ajak Rian.
Dengan menikah, Rian akan mengakhiri gelarnya menjadi seorang player. Karena dia sudah berjanji tidak akan mempermainkan hati seorang wanita, jika dia sudah menikah.
"Secepat inikah?" Eva terlihat berbunga-bunga.
"Iya, kalau tidak mau ya sudah.
"Mau, aku mau," ucap Eva sambil memegang tangan Rian.
"Baiklah, nanti malam aku akan datang ke rumah orang tuamu. Aku akan melamarmu untuk menjadi istriku."
Jodoh memang datang tidak di sangka-sangka. Eva yang statusnya masih mahasiswi, namun begitu saja dia menerima pinangan seorang lelaki. Dia tahu jika orang tuanya pasti tidak setuju jika dia mendahului kakaknya. Namun dia akan tetap memohon agar dia di ijinkan menikah dengan Rian. Walaupun baru kenal, namun dia sudah yakin jika Rian adalah jodoh terbaiknya.
__ADS_1
°°°°°°°°°°°°°