
Terlihat Bu Sinta dan Bi Inem yang sedang membereskan meja makan. Kebetulan Pak Indra dan yang lainnya sudah pulang.
"Bi, lanjutkan ya! Saya mau istirahat dulu," ucap Bu Sinta.
"Siap Nyonya," ucap Bi Inem.
Bu Sinta pergi ke ruang keluarga untuk bergabung dengan Anara dan Andika.
"Kalian lagi ngobrolin apa?" Bu Sinta mendudukan dirinya di sofa depan anak dan menantunya.
"Lagi ngobrolin keluarga kita, Mah. Nara senang deh karena Nara bisa dekat sama Papah dan Kak Nesa juga."
Bu Sinta menatap raut kebahagiaan di wajah menantunya. Selama ini Anara sangat ingin hidup rukun bersama ayah dan Kakaknya.
"Mamah juga senang, Nak. Semoga mereka bisa menerimamu sepenuhnya ya," ucap Bu Sinta.
"Amin, Mah."
Mereka masih asyik mengobrol hingga satu jam ke depan. Anara merasakan jika suaminya sejak tadi menepuk-nepuk pahanya.
"Ada apa sih, Mas?" tanya Anara.
"Sayang, kita tidur yuk di kamar!" ajak Aldi, sambil berbisik di telinga istrinya.
"Tapi Nara masih ngobrol loh sama Mamah," ucap Anara.
Bu Sinta menatap anak dan menantunya yang saling berbisik.
"Kalian bisik-bisik apa?" tanya Bu Sinta.
"Eh, tidak kok, Mah." ucap Anara sambil tersenyum menatap Bu Sinta.
"Ini loh, Mah. Aku ngajakin Anara untuk tidur," ucap Aldi.
"Baiklah, silahkan kalau mau tidur! Tapi ingat loh, kalian jangan melakukan itu dulu."
"Tapi kalau melakukan yang lain boleh kan, Mah." ucap Aldi sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Astaga, mau kamu apakan istrimu?"
__ADS_1
"Mamah tidak perlu tahu," kata Aldi, lalu dia sedikit meringis karena di cubit oleh istrinya. "Aduh ... sakit ," ringis Aldi.
"Kak Aldi kalau bicara ih, tidak bisa di jaga sama sekali sih."
"Maaf, sayang. Tapi memang suamimu ini mau ngapa-ngapain kamu kok," ucap Aldi.
Anara yang tidak mau mendengar lagi ocehan suaminya, dia langsung saja beranjak dari duduknya. Lalu dia pergi ke kamar.
"Sayang, tungguin!" ucap Aldi dengan sedikit berteriak. Lalu dia menyusul istrinya yang sudah pergi duluan.
Bu Sinta hanya menggeleng- gelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan menantunya.
°°°°
Andika dan Vanesa sedang beristirahat di kamar. Terlihat Andika yang sedang tiduran sambil menatap langit-langit. Andika menatap istrinya yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Sayang, bagaimana jika kita adopsi anak?" Andika mengutarakan keinginannya.
Vanesa menatap suaminya yang kini juga sedang menatapnya dengan serius.
"Anak pungut dong, tidak tidak, aku tidak mau punya anak pungut," ucap Vanesa sambil menggeleng- gelengkan kepalanya.
"Tapi aku tidak mau mengadopsi anak pungut, aku hanya ingin anak kandung kamu. Cobalah kamu ambil Adel untuk kita adopsi atau mungkin melakukan program bayi tabung."
"Siapa coba yang mau meminjamkan rahimnya?"
"Banyak kok, perempuan di luar sana yang butuh uang dan pastinya sangat terdesak."
"Nanti aku pikirkan lagi," ucap Andika. Lalu dia kembali menatap langit-langit kamarnya.
'Ada benarnya juga yang di katakan Nesa, Adel itu kan anakku, pasti aku punya hak juga untuk merawatnya,' batin Andika.
Andika mengajak istrinya untuk tidur disana. Vanesa beranjak dari sofa, lalu dia menghampiri suminya dan ikut berbaring di sebelahnya.
•••
Pagi ini Andika pergi ke rumah Anara. Dia datang sendirian. Dia sengaja tidak mengajak istrinya.
Saat ini Andika sudah sampai di depan rumah Aldi. Kebetulan ada Bi Inem yang sedang menyapu halaman depan rumah. Bi Inem mempersilahkan Andika untuk masuk.
__ADS_1
Anara dan Aldi menghampiri Andika yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Ada apa, Kak? Tumben sekali datang pagi-pagi?" tanya Aldi.
"Aku hanya ingin berbicara dengan Anara," ucapnya.
"Bicara saja!" kata Anara.
"Jadi begini," sejenak Andika menarik napasnya dalam-dalam sebelum dia melanjutkan perkataannya. "Bagaimana jika Adel di adopsi oleh aku dan Vanesa? Lagian dia itu anakku juga," ucapnya lagi.
Anara membelalakan kedua matanya saat mendengar perkataan Andika. Jujur saja dia sangat kaget.
"Jangan! Aku ibunya, dan aku yang melahirkannya dengan bersusah payah." Anara menolak perkataan Andika.
"Aku juga tidak setuju, biar bagaimana pun, aku sudah menganggap Adel seperti anakku sendiri. Dan aku sangat menyayanginya," ucap Aldi.
"Baiklah, tapi jika sesekali bertemu, apakah boleh?"
"Boleh, kalau memang cuma mau bertemu. Tapi kalau mau ambil dia, aku melarangnya," kata Anara.
Andika merasa senang karena di perbolehkan untuk menemui anaknya. Andika langsung berpamitan untuk pulang.
Sejak tadi Anara memegang erat lengan suaminya.
"Sayang, kamu kenapa?" Aldi merasa jika saat ini Anara sedikit merasa khawatir.
"Aku takut jika Kak Dika mengambil Adel dariku," ucap Anara.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi."
Anara tersenyum menatap suaminya, lalu dia memeluknya.
°°°
🍀🍀🍀🍀
Untuk pendukungnya Anara dan Andika, atau pun Anara dan Aldi, mohon bersabar. Jika saat ini Anara dan Aldi bersatu, bisa saja Andika itu jodoh masa tua Anara. Jadi nyimak saja dulu, karena novel ini akan lanjut season 2 juga. Nanti season 2 akan di gabung disini😊
Tentu season 2 ini kisah Adel gadis bermata biru.
__ADS_1