
Kiara yang sedang berganti pakaian merasa kaget saat mendengar ada yang membuka pintu kamarnya. Buru-buru dia menurunkan dresnya yang tersingkap.
"Astaga, kalau masuk kamar itu ketuk pintu dulu," Kiara menatap Alan dengan tatapan tajam.
"Maaf, sayang." Alan mendekati anaknya yang sedang tidur.
"Wah anak siapa nih cakep seperti aku," ucap Alan dengan pedenya.
"Anakku itu, aku yang ngeluarin," Kiara mendekati Alan yang sedang duduk di pinggir ranjang.
"Tapi aku yang buat. Berkat benih premiumku nih jadilah anak tampan sepertiku. Oh iya namanya siapa?"
"Keandra," jawabnya.
Alan masih menatap anaknya dengan gemas. Dia tidak menyangka jika di usianya yang masih muda, dia mempunyai anak. Alan beralih menatap Kiara yang duduk di dekatnya.
"Kia, ayo menikah!" ucap Alan tanpa berbasa-basi.
"Aku baru juga masuk kuliah. Aku belum memikirkan itu."
"Memangnya kamu sanggup mengurus anak kita sendirian?"
Kiara merasa ragu, dia tidak menimpali perkataan Alan.
Alan melihat Kiara yang tampak diam dan terlihat masih ragu.
"Baiklah, aku kasih waktu untuk kamu memberikan jawaban," Alan mendekatkan wajahnya dengan wajah Kiara. Dengan cepat dia menyambar bibir tipisnya.
"Ih kebiasaan deh," Kiara menatap Alan yang kini melangkah cepat pergi dari kamar itu.
Eva melihat adiknya yang baru keluar dari kamar Kiara. Namun dari gerak-geriknya tampak mencurigakan.
__ADS_1
"Alan, habis ngapain kamu?"
Alan menengok ke sumber suara.
"Alan habis melihat Keandra, Kak."
"Lihat Keandra atau lihat Kiara?" Eva menatap adiknya penuh curiga.
"Hehe dua-duanya, Kak."
"Jangan macam-macam kamu!"
"Tidak macam-macam kok, Kak. Aku kan anak baik."
"Kakak tidak percaya sama kamu. Oh iya, kamu tidur di kamar itu ya," Eva menujuk kamar yang ada di sebelah kamar Kiara.
"Siap, Kak. Aku mau langsung istirahat dulu deh. Sudah cape sekali nih," Alan pergi dari hadapan kakaknya.
°°°°°°
"Kak, Kak Eva yang masak sendiri?"
"Iya, Kia. Hari ini aku ingin masak untuk sarapan kita," jawabnya.
"Maaf ya karena aku tidak bantuin."
"Tidak apa-apa, Kia. Oh iya, Kakak boleh minta tolong tidak?" tanya Eva.
"Minta tolong apa, Kak?"
"Tolong panggilkan Alan di kamarnya. Ajak dia sarapan bareng," pinta Eva.
__ADS_1
"Baik, Kak." Kiara menuruti perintah dari Eva. Dia berlalu pergi ke kamar Alan.
Beberapa kali dia mengetuk pintu itu, namun tidak ada sahutan dari dalam. Kiara memutuskan untuk membuka pintu kamar itu. Ternyata Alan masih tertidur pulas di atas kasur. Kiara mendekat, dia mencoba membangunkannya.
"Alan, bangun! Ayo sarapan!" Kiara menggoyang-goyangkan tubuh Alan, namun Alan masih juga menutup kedua matanya.
Saat Kiara memegang pipinya, dan hendak menepuknya pelan, dia kaget saat Alan memegang tangannya dan menariknya.
"Aaaa .... " Kiara terjatuh ke atas tubuh Alan.
Alan tersenyum, lalu dia membenarkan posisi tubuh Kiara. Alan memeluk tubuh itu layaknya guling.
"Alan, lepaskan!" Kiara mencoba memberontak, namun Alan memeluknya erat. Sehingga dia tidak bisa melepaskan diri.
"Aku masih mengantuk," Alan kembali memejamkan matanya.
"Kalau mengantuk ya tidur saja sendiri, ngapain pakai peluk aku segala?"
"Harum," Alan menciumi tengkuk Kiara.
"Ah geli Alan," Kiara memukul Alan dengan tangannya.
"Awww tega sekali KDRT sama calon suami," Alan langsung mengungkung tubuh Kiara.
Cklek
Pintu kamar terbuka, terlihat Eva berdiri disana sambil menatap mereka berdua yang saat ini di posisi intim.
"Alan, Kia, apa yang kalian lakukan? Di tunggu di meja makan, malah asyik bikin adik," Eva mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Kak Eva salah paham. Kita tidak berbuat itu," ucap Kiara.
__ADS_1
"Ah Kak Eva mengganggu saja. Baru juga mau mulai," ucap Alan, lalu dia beranjak dari atas tubuh Kiara.
"Ih ngeselin," dengan cepat, Kiara segera turun dari atas tempat tidur. Dia pergi keluar meninggalkan Alan yang sedang senyum-senyum sendiri.