
Suasana sedikit hening saat Pak Indra datang. Bu Sinta yang biasanya banyak bicara, saat ini juga mendadak diam.
"Kalian pacaran?" tanya Pak Indra sambil menatap Andika dan Anara secara bergantian.
"Tidak kok, tadi itu tidak seperti yang Papah lihat," Anara takut jika ayahnya itu memarahinya.
"Maaf, Pah. Tapi saya mencintai Anara, saya harap Papah mengerti," ucap Andika.
Pak Indra sedikit berpikir, mungkin ada baiknya juga jika Anara dan Andika bersatu. Namun jika Vanesa tahu, pasti dia akan semakin membenci Anara.
Pak Indra tersenyum menatap mereka.
"Saya setuju kok, lagian Nak Dika ini ayah kandung Adel.Sudah pasti akan mencintai Anara dan anak-anaknya dengan tulus," ucap Pak Indra.
Bu Sinta merasa senang saat mendengar perkataan Pak Indra.
"Syukurlah, saya juga setuju jika mereka bersatu," ucap Bu Sinta sambil menatap Pak Indra.
Andika juga merasa senang karena sudah mendapat restu. Sedangkan Anara masih ragu untuk mengambil keputusan.
"Aku ke kamar dulu," Anara tersenyum menatap mereka secara bergantian, lalu dia beranjak dari duduknya.
"Mungkin Nara malu kalau bahas ini," ucap Bu Sinta saat melihat Pak Indra yang sedang menatap kepergian Anara.
"Saya harap secepatnya ada kabar baik, mudah-mudahan mereka benar-benar bersatu."
"Amin, saya juga mengharapkan seperti itu," ucap Bu Sinta.
Andika juga berpamitan pergi ke kamar. Karena dia akan membereskan barang bawaannya.
Andika mengambil koper miliknya yang masih tergeletak di dekat pintu masuk, lalu dia membawanya ke kamar.
Bu Sinta dan Pak Indra masih saling mengobrol.
__ADS_1
Setelah menaruh koper di kamar, Andika menyelinap masuk ke kamar Anara. Dia tidak melihat keberadaan Anara disana. Namun dia mendengar gemercik air dari kamar mandi.
Andika duduk di sofa sambil menunggu Anara.
Cklek
Pintu kamar mandi terbuka. Anara keluar hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya. Dia belum menyadari Andika ada disana.
Dengan santainya Anara melepaskan handuknya, lalu dia membuka lemari untuk mencari pakaian yang akan dia kenakan.
Andika menatap Anara yang terlihat sangat sexy. Dia beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Anara dengan berjalan perlahan, agar Anara tidak menyadari kehadirannya.
"Aduh," pekik Anara, saat merasakan tangan melingkar di pinggangnya. Lalu dia menatap ke belakang, dan melihat Andika yang sedang senyum-senyum sambil menatapnya. "Aaaa ..... " Anara berteriak begitu kencang.
"Kamu makin cantik, sayang." bisik Andika di telinga Anara.
"Lepasin! Aku mau ambil handuk," Anata mencoba melepaskan diri dari Andika. Namun pelukannya malah semakin erat.
Anara menatap lengan Andika, lalu dia sedikit membungkukan badannya dan menggigit lengan itu.
Anara mengambil handuk yang tergeletak di lantai. Lalu dia memakainya kembali.
"Kamu bar-bar sekali sih," ucap Andika sambil memegang pantat Anara.
Plak
"Jangan macam-macam atau ... " ucapan Anara terhenti saat Andika menutup mulutnya dengan tangannya.
"Stt, jangan berisik! Itu ada yang ketuk-ketuk pintu," ucap Andika dengan suara lirih.
Tok Tok
"Nara, kamu kenapa Nak? Kok teriak?" terdengar suara Bu Sinta dari luar.
__ADS_1
Sejenak Anara diam, dia mengatur napasnya.
"Nara tidak apa-apa, Mah. Hanya terpeleset saja," ucapnya sedikit berteriak agar terdengar dari luar.
"Bisa buka pintunya? Biar Mamah cek kamu," ucap Bu Sinta.
"Tidak, Mah.Nara tidak apa-apa kok. Lagian Nara habis mandi belum pakai baju."
"Ya sudah, kalau begitu Mamah pergi dulu."
Anara merasa lega karena Bu Sinta sudah pergi. Anara menatap tajam Andika yang sedang berdiri di depannya.
"Ngapain lihatin aku seperti itu? Apa mau ngajak ber*cinta?"
"Enak saja," ucap Anara, lalu dia mengambil pakaian yang tadi belum sempat dia ambil.
"Memang enak, kata siapa ber*cinta tidak enak?"
Anara melangkah pergi ke kamar mandi. Dia malas untuk meladeni ocehan Andika.
Andika tersenyum kecil sambil menatap kepergian Anara. Lalu dia mencoba membuka pintu karena akan keluar. Terlebih dahulu dia menatap kanan kirinya, karena takut jika ada yang melihatnya.
"Ah, aman," Andika mengusap dadanya.
"Dika, ngapain kamu dari kamar Anara?" tanya Bu Sinta dari arah belakang.
'Duh, bagaimana ini,' batin Andika, lalu dia menoleh ke belakang sambil tersenyum menatap Bu Sinta yang juga sedang menatapnya penuh serius.
"Dika tidak ngapa-ngapain kok," ucapnya.
"Mamah tidak percaya, jangan- jangan kamu sudah berbuat macam-macam sama Anara," Bu Sinta menatap anaknya penuh selidik.
"Ada apa ini?" tanya Pak Indra yang kini sedang melangkah mendekati mereka. "Kenapa tadi saya mendengar kalian menyebut nama Anara?"
__ADS_1
Andika dan Bu Sinta saling tatap. Bu Sinta takut jika Pak Indra mendengar semua perkataannya. Bagitu juga dengan Andika yang merasa sedikit takut, jika Pak Indra melihatnya keluar dari kamar Anara.