
Bu Anara sejak tadi berusaha menghubungi nomor Alan. Namun tidak di angkat juga. Bu Anara cemas, karena biasanya setelah selesai kuliah anaknya langsung pulang. Kalau mau pulang sore juga biasanya dia berpamitan dulu.
"Mah, Mamah kenapa?" Pak Andika mendekati istrinya yang sedang mondar-mandir di dekat pintu masuk rumah.
"Ini loh, Mah. Alan kok belum pulang juga. Sekarang sudah pukul tujuh malam loh," ucap Bu Anara.
"Apa dia tidak kasih kabar dulu?"
"Tidak, Pah. Alan tidak bicara apa pun sama Mamah."
"Mamah sudah menghubungi Nela belum?"
"Belum, Pah. Oh iya, Mamah mau tanya Nela deh."
Bu Anara mencari kontak Nela, lalu menghubunginya.
Nela berkata jika memang tadi Alan habis pergi main bersamanya. Namun itu tiga jam yang lalu. Nela malah menyangka jika Alan sudah pulang ke rumah.
"Bagaimana, Mah?" Pak Andika bertanya kepada istrinya.
"Nela juga tidak tahu, Pah. Katanya sudah pulang dari jam empat."
"Kemana itu anak?" Pak Andika juga ikut memikirkan Alan yang tidak kunjung pulang. Alan itu anak lelaki, Pak Andika takut jika Alan ikut balap liar atau semacamnya.
"Kita berdoa saja untuk anak kita, Pah."
"Iya, Mah. Semoga Alan baik-baik saja."
__ADS_1
Setelah selesai bicara dengan suaminya, Bu Anara memanggil anak-anaknya dan mengajaknya untuk makan malam bersama.
Saat ini semuanya sudah berada di ruang makan. Hanya Alan saja yang tidak ada disana.
Adelia merasa senang karena dia bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.
Terlihat Bu Anara yang memasukan nasi dan lauk ke piring yang ada di depan Adelia.
"Ini, sayang. Kamu makan yang banyak ya biar anakmu sehat terus."
"Iya, Mah. Terima kasih," Adelia merasa senang karena ibunya begitu perhatian.
"Aku tidak di ambilin nih," Eva berekspresi cemburu kepada Kakaknya.
"Sinih deh biar Mamah ambilkan juga. Kasihan nanti nangis," Bu Anara segera mengambilkan nasi dan lauk untuk Eva.
Semuanya mulai meyantap makan malam mereka. Terlihat Bu Anara yang sedang mengambil air minum. Namun tiba-tiba gelas yang dia pegang terjatuh ke atas lantai.
Tangan Bu Anata gemetar, seolah takut.
"Mah, kenapa bisa jatuh?" tanya Pak Andika.
"Mamah tidak tahu, Pah. Padahal gelasnya tidak licin. Kok perasaan Mamah jadi tidak enak yah."
"Mungkin itu hanya perasaan Mamah saja. Sekarang lanjut makan yuk, biar Bibi yang membereskan pecahan gelas itu," ucap Pak Andika sambil menunjuk ke bawah.
Pembantu di rumah itu menghampiri mereka, dan mulai membereskan pecahan gelas.
__ADS_1
°°°°°°°
Alan bangun dari tidurnya sambil memegangi kepalanya yang merasa pusing. Dia menatap kamar yang asing baginya. Lalu tatapannya beralih ke samping. Alan melihat seorang wanita yang masih terlelap, namun membelakanginya.
Alan menyingkap selimut yang dia pakai. Dia membulatkan matanya saat melihat jika saat ini dia tidak berbusana. Ternyata wanita di sampingnya juga tidak berbusana.
Perlahan-lahan, Alan membalikan tubuh wanita itu agar dia melihat wajahnya. Dia terperanjak kaget saat melihat jika wanita itu si culun yang ada di kampusnya. Namun kaca matanya yang sudah terlepas, menampakan wajahnya terlihat lebih cantik.
"Sttt, bagaimana ini bisa terjadi," Alan mengusap kasar wajahnya.
Alan mulai mengingat lagi kejadian beberapa jam yang lalu. Teman-temannya mengajaknya bertemu. Kebetulan Alan juga baru pulang dari rumah Nela, jadi sekalian saja pergi ke lokasi dimana teman-temannya berada. Dia mengingat saat mereka semua bermain game online sambil menikmati minuman dingin.
Alan tidak tahu jika ada yang sengaja memasukan sesuatu ke dalam minumannya sehingga dia mabuk berat. Alan ingat jika salah satu temannya ada yang menyuruhnya masuk ke kamar. Namun setelah itu dia tidak mengingat apa-apa lagi.
Mungkin beberapa mahasiswa di kampus, iri sekaligus tidak menyukai Alan. Karena sikapnya yang selalu semaunya sendiri, bahkan sombong karena dia merasa paling tampan.
Terlihat wanita di samping Alan membuka kedua matanya. Dia langsung menangis histeris.
"Hiks hiks aku ternoda," Ingatan beberapa jam yang lalu masih berputar di otaknya. Yaitu ketika Alan mengambil kesuciannya dengan paksa.
"Jangan bilang sama siapa pun, termasuk orang tuamu, apalagi anak-anak kampus. Jika itu terjadi, aku akan bikin beasiswa kamu di cabut oleh pihak kampus."
"Jangan, Kak."
Wanita yang bernama Kiara itu sangat takut jika beasiswanya di cabut. Karena dia sudah berusaha mati-matian pergi ke kota demi meneruskan kuliah. Walaupun hanya bermodal uang lima ratus ribu yang di berikan oleh orang tuanya, namun dia senang karena bisa kuliah.
Sebenarnya Kiara selalu bekerja setelah kuliah. Dia sengaja bekerja agar semua kebutuhan sehari-harinya terpenuhi.
__ADS_1
Alan memakai kembali pakaiannya, lalu dia pergi dari kamar itu.
Kiara yang di tinggal begitu saja, dia merasa sakit. Dia merasa hina dan kotor. Dia juga sudah mengecewakan kedua orang tuanya. Dia kuliah karena ingin jika suatu saat bisa merubah nasib. Jujur saja dia merasa kasihan karena orang tuanya hanya petani serabutan yang pendapatannya tidak menentu. Lima ratus ribu satu bulan itu sudah pendapatan paling banyak.