Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.90


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Alan menginap di rumah kakaknya. Dia selalu menggoda Kiara. Namun Kiara mencoba untuk mengabaikannya. Dia takut jika Alan hanya berpura-pura saja. Dia tidak mau kembali menjadi pihak yang tersakiti.


Pagi ini Alan sedang bersiap untuk pergi. Kebetulan dia akan kembali ke ibukota karena masih banyak pekerjaan yang harus di kerjakan. Dia tidak bisa meninggalkan perusahaan dengan waktu yang terlalu lama.


Alan melirik Kiara yang sedang duduk di sebelah Eva.


"Kia, kamu tidak mau mengantar calon suamimu?" tanya Alan.


"Tidak, aku mau disini saja jagain Keandra. Lagian dia masih kecil, aku tidak mungkin mengajaknya ikut."


"Baiklah," Alan beralih menatap Eva. "Ayo kita pergi, Kak!" ajak Alan.


"Sebentar, kakak mau ambil tas dulu di kamar," Eva beranjak dari duduknya, lalu pergi ke kamar.


Alan mendekati Kiara yang sedang duduk di sofa.


"Bolehkah aku meminta satu permintaan sebelum aku pergi?"


"Tidak," ucapnya tanpa melihat Alan yang sedang memandangnya.


"Ayolah, anggap saja jika ini permintaan terakhirku untuk saat ini."


"Memangnya mau minta apa?" Kini Kiara menatap Alan yang duduk di sebelahnya.


"Minta kiss," Alan memegang bibirnya sendiri.


"Tidak mau, jangan macam-macam deh."


"Baiklah jika kamu tidak mau memberikan," Alan memegang bibirnya dengan tangannya, lalu tangan itu dia tempelkan ke bibir Kiara. "Dengan begini secara tidak langsung kita sudah berciuman. Terima kasih, sayang." Alan menatap Kiara penuh cinta.


Kini Eva sudah kembali. Dia melihat Alan dan Kiara yang sedang saling tatap.

__ADS_1


"Ekhem ekhem ... " Eva berdehem di hadapan mereka.


Kiara buru-buru mengalihkan arah pandangnya.


"Ayo, Kak!" Alan beranjak dari duduknya, lalu dia keluar rumah di ikuti oleh Eva.


Eva akan mengendarai mobil sendiri untuk mengantar adiknya. Reno tidak ikut karena saat ini berada di kantor.


Padahal Kiara ingin sekali ikut mengantar, namun dia punya anak kecil yang tidak bisa di tinggal. Alan sama sekali belum tahu perasaan Kiara yang sebenarnya. Kiara sengaja menutupi perasaannya, karena dia takut jika kembali terluka.


Eva dan Alan sudah berada di perjalanan. Mereka saling bercerita, terutama Alan yang tidak henti-hentinya bercerita tentang Kiara. Alan meminta bantuan kakaknya, agar Kiara bisa mempercayai ketulusannya. Alan melihat keraguan di mata Kiara. Mungkin bayangan masalalu yang membuatnya takut jika dia kembali di permainkan.


°°°°°°°


Beberapa jam kemudian, Kiara melihat tayangan televisi. Disana menayangkan berita kecelakaan pesawat yang di naiki Alan. Dia melihat nama-nama korban. Ternyata disana ada nama Alan. Kiara terlihat sedih. Dia tidak menyangka jika Alan akan mengalami musibah seperti ini. Kiara jadi ingat permintaan terakhir yang Alan minta. Mungkin itu sudah firasatnya saat dia mengatakan permintaan terakhir.


Kiara pergi ke kamar Eva untuk memberitahu berita yang dia lihat.


Tok tok


"Kak, buka pintunya!" ucap Kiara dengan sedikit meninggikan volume suaranya agar terdengar dari dalam.


Eva yang sedang bersantai, langsung saja membuka pintu kamarnya.


"Ada apa, Kia? Kenapa kamu terlihat sedih?"


"Pesawat yang di naiki Alan kecelakaan. Tadi aku melihat berita di televisi."


"Apa?" Eva terkejut saat mendengar penuturan Kiara. Dia langsung saja pergi ke luar kamar. Dia melihat televisi di ruang keluarga yang masih menyala. Ternyata berita kecelakaan itu masih di tayangkan.


Eva langsung menghubungi ibunya untuk memberitahu. Saat dia menelepon, ternyata ibunya juga sudah tahu berita itu.

__ADS_1


Eva menatap Kiara yang saat ini sedang menangis.


"Kia, kamu yang sabar ya," Eva memeluk Kiara sambil menepuk pelan punggungnya.


"Aku cinta sama Alan, Kak. Aku tidak mau kehilangan dia," Kiara mengusap air matanya yang terus keluar dari sudut matanya.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk Alan. Semoga secepatnya dia bisa di temukan."


Kini keduanya sudah melepaskan pelukannya. Eva melihat jika saat ini Kiara begitu sedih. Mungkin Kiara memang benar-benar mencintai Alan, namun dia tidak mau jujur.


'Kamu harus selamat. Ingat ada aku dan anakmu yang menunggumu kembali. Maafkan aku karena tidak jujur dengan perasaanku,' batin Kiara.


"Kia," Eva terkejut saat melihat Kiara yang tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri.


Eva meminta tolong pembatunya untuk membantu dia membawa Kiara ke kamar.


Beberapa menit kemudian, Kiara tersadar. Kiara memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.


"Kia, kamu tidak apa-apa? Apa yang kamu rasakan? Biar kakak panggilkan dokter ya," Eva terlihat khawatir.


"Aku tidak apa-apa kok, Kak. Hanya sedikit pusing. Nanti dibawa istirahat juga sembuh."


"Baiklah, sekarang kamu minum dulu," Eva mengambil gelas berisi air putih yang berada di atas nakas, lalu membantu Kiara untuk minum.


"Terima kasih, Kak."


"Sama-sama. Kamu mau apa? Biar kakak ambilkan."


"Aku tidak mau apa-apa kok," ucapnya.


"Baiklah, kakak keluar dulu. Kamu istirahat saja ya," Eva mengusap pelan bahu Kiara.

__ADS_1


Kiara masih termenung memikirkan Alan. Dia takut jika Alan tidak selamat.


__ADS_2