Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.47


__ADS_3

Hanya sehari Andika tinggal di rumah Ibunya. Pagi ini dia memutuskan untuk kembali lagi ke rumah Pak Indra. Dia sengaja tidak menghubungi Pak Indra atau pun Vanesa, jika dia akan pulang.


Saat ini Andika sudah sampai di depan rumah Pak Indra. Dia turun dari mobil, lalu mengambil kopernya yang ada di bagasi.


Vanesa membuka pintu rumahnya. Karena kebetulan dia akan pergi untuk menenangkan diri. Namun dia melihat suaminya yang kembali pulang. Seketika senyum mengembang di sudut bibirnya.


"Mas, kamu pulang?" Vanesa berjalan mendekati suaminya.


"Iya nih." ucapnya.


"Biar aku yang bawakan," Vanesa mengambil koper yang sedang di pegang oleh suaminya. Lalu dia membawanya masuk ke rumah.


"Pah ... Papah ... "Vanesa berteriak memanggil Pak Indra.


Kebetulan Pak Indra baru keluar dari kamarnya. Dia mendengar Vanesa yang sedang berteriak memanggilnya.


"Ada apa, Nes?" tanya Pak Indra, dari depan pintu kamar. Lalu dia berjalan mendekat ke arah anaknya.


"Itu Mas Andika balik lagi," ucap Vanesa.


"Wah benarkah," Pak Indra terlihat senang saat tahu jika menantunya datang.


"Iya, Pah."


Terlihat Andika yang memasuki rumah. Pak Indra mendekatinya dan meyuruhnya untuk duduk bersama di sofa yang ada di ruang keluarga.


"Papah senang melihat kamu kembali, Nak." Pak Indra tersenyum menampakkan wajah keriputnya.


"Iya, Pah. Maaf ya karena Andika sedikit tidak bisa berpikir jernih."


"Tidak apa-apa, Nak. Kalian lupakanlah masa lalu, sekarang fokus ke masa depan kalian."

__ADS_1


Terlihat Vanesa datang dengan membawa nampan berisi dua gelas air minum.


"Wah sepertinya asyik, lagi pada bahas apaan nih?" tanya Vanesa, lalu dia menaruh dua gelas orange jus ke atas meja.


"Biasa Nak, obrolan antar lelaki," ucapnya.


Vanesa ke dapur untuk menaruh nampan. Lalu dia kembali bergabung dengan ayah dan suaminya untuk mengobrol.


"Nes, Papah minta kamu agar setia sama suamimu. Jangan ada lagi perselingkuhan di antara kalian berdua."


"Baik, Pah." ucap Vanesa.


Vanesa mendekati suaminya lalu memegang tangannya. Beberapa kali dia mencium punggung tangan suaminya dan meminta maaf.


°°°


Anara sedang duduk bersantai bersama anaknya. Dia mendengar ketukan pintu dari luar rumah. Anara menggendong anaknya, lalu dia mendekati pintu rumah. Kebetulan Bi Inem atau pun Ani sedang sibuk mengerjakan pekerjaan mereka.


Anara melihat seorang wanita yang baru pertama kali dia lihat.


"Cari siapa yah?" tanya Anara.


"Apa ini dengan Nona Anara?" tanya Melisa.


"Iya saya Anara, silahkan masuk!" ucap Anara.


"Terima kasih," Melisa mengikuti Anara masuk ke rumah.


"Sama-sama," ucap Anara.


Anara menyuruh Melisa untuk duduk di sofa. Lalu dia memanggil Bi Inem untuk membuatkan minum.

__ADS_1


"Jadi Nona datang karena ada urusan apa?" tanya Anara yang saat ini duduk di depan Melisa.


"Saya hanya mau bertanya, apa Nona Anara ada niatan untuk mengejar cinta Andika? Saya harap sih tidak, karena Nona sepertinya sudah bahagia."


"Tidak mungkin aku sama Kak Andika. Lagian dia itu Kakak iparku. Memangnya kenapa yah?" tanya Anara.


"Tidak apa-apa kok. Itu berarti saya tidak ada saingan," ucap Melisa.


"Saingan dalam hal apa ini?"


"Saya sedang memperjuangkan cintanya. Ya, semua itu demi anak ini," Melisa mengusap perutnya yang masih datar.


"Anak?" Anara sedikit heran saat melihat Melisa mengusap perutnya.


"Iya, aku hamil anaknya Andika."


Anara terkejut mendengar pengakuan langsung dari mulut Melisa. Dia kasihan kepada Kakaknya jika tahu bahwa suaminya menghamili wanita lain. Dia tidak pernah menyangka jika kelakuan Kakak iparnya seperti itu. Bukan hanya dia saja yang menjadi korban. Namun sekarang ada wanita lain yang mengaku hamil dan terang-terangan akan memperjuangkan cintanya.


"Ya sudah, aku hanya mau mengatakan itu saja. Aku pamit pulang yah," ucapnya.


"Eh, tunggu! Itu Bibi sedang buatkan minum loh," ucap Anara.


"Saya tidak haus kok, saya mau langsung pulang saja."


"Baiklah kalau itu maumu, kalau boleh tahu nama kamu siapa?" tanya Anara.


"Saya Melisa, mantan sekretarisnya Andika."


Anara mengantar Melisa hingga ke depan rumah.


Melisa begitu yakin jika anak yang ada di dalam kandungannya itu anak dari Andika. Entah apa yang membuat dia yakin seperti itu.

__ADS_1


°°°°


__ADS_2