Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.72


__ADS_3

Rian sudah sampai di rumah sakit. Baru juga dia akan menggendong Kiara, namun ternyata Kiara sudah membuka kedua matanya duluan.


"Em aku dimana?" Kinara memegangi kepalanya yang sedikit pusing.


"Tadi kamu pingsan di jalan. Saya membawa kamu ke rumah sakit karena merasa khawatir," ucap Rian menimpali perkataan Kiara.


"Terima kasih, Kak. Tapi saya harus pergi. Saya ingin mencari kontrakan baru."


"Lebih baik kamu ikut saya pulang saja. Sekarang kita ke rumah sakit dulu, kamu harus di periksa Dokter dulu. Takutnya jika kamu kenapa-napa."


"Tidak usah, Kak. Saya tidak sakit kok."


"Menurut saja, Kia. Memangnya kamu tidak takut jika terjadi sesuatu sama kamu atau kandungan kamu jika tidak periksa ke dokter?"


Apa yang di katakan oleh Rian ada benarnya juga. Lagian satu bulan ini dia belum periksa ke dokter kandungan.


"Baiklah," Kiara hendak turun dari mobil. Namun Rian memegangi tangannya.


"Biar aku bantu," tawar Rian.


"Tidak usah, Kak. Aku bisa sendiri kok," tolak Kiara.


"Baiklah," Rian membiarkan Kiara turun sendiri dari dalam mobil.


Mereka melangkah memasuki rumah sakit. Rian sedikit memegangi tangan Kiara karena takut Kiara terjatuh.


Sesampainya di dalam, Rian langsung mendaftarkan Kiara ke bagian kandungan. Setelah mendaftar, mereka segera mengantre. Kebetulan tidak terlalu banyak yang mengantre. Hanya ada dua orang ibu hamil yang sedang menunggu antrean mereka.


Setelah beberapa saat menunggu, kini Kiara di panggil untuk masuk ke ruang pemeriksaan. Saat dia masuk, Rian juga ikut masuk ke ruangan itu.


"Dengan Ibu Kiara, apa keluhannya?" tanya Bu Dokter.

__ADS_1


"Tadi saya Pingsan, Bu. Takutnya terjadi sesuatu dengan kandungan saya," kata Kiara.


"Biar saya periksa dulu. Silakan Ibu Kiara berbaring di ranjang pasien itu," pintanya sambil menunjuk ranjang pasien yang ada di ruangan itu.


Kiara beranjak dari duduknya, lalu dia melangkah mendekati ranjang pasien itu.


Dokter mulai memeriksa kandungan Kiara. Rian tidak memperhatikannya. Dia hanya duduk saja sambil memainkan ponselnya. Sebenarnya Rian mengirim pesan kepada istrinya.


Kiara sudah selesai di periksa, kini dia dan Dokter yang memeriksanya sudah kembali ke tempat duduk yang tadi mereka tempati.


"Bu Kiara baik-baik saja, begitu juga dengan kandungannya. Mungkin tadi Bu Kiara pingsan itu karena kecapean saja."


"Syukurlah, saya merasa senang mendengarnya. Tapi saya tadi hanya berdiri cukup lama di pinggir jalan untuk menunggu angkutan umum. Apakah itu juga penyebabnya?" tanya Kiara.


"Benar, Bu. Mungkin itu salah satu faktornya," ucap Dokter itu, lalu beralih menatap Rian. Tolong jaga istrinya, Pak."


"Ini adik ipar saya, Dok. Bukan istri saya."


"Wah salah ya, mohon maaf Pak."


Setelah Dokter itu memberikan resep obat, Kiara dan Rian langsung saja berpamitan pulang.


Kini mereka baru keluar dari ruangan itu. Mereka akan menebus resep obat itu dulu, baru setelah itu langsung pulang.


Kiara dan Rian sudah berada di depan rumah sakit. Kiara hendak pergi sendiri, namun Rian melarangnya. Rian mengajaknya untuk pulang bersamanya.


"Ikut saja dengan saya. Kamu mau pergi kemana? Biar saya antar," kata Rian.


"Saya mau cari kontrakan, Kak. Kalau tidak keberatan, apa Kakak mau mengantar saya?"


"Boleh, ayo pergi ke mobil!" ajaknya.

__ADS_1


"Baik, Kak."


Mereka berdua melangkah pergi menuju ke mobil Rian yang ada di parkiran.


Setelah keduanya masuk ke mobil, Rian langsung saja mengemudikan mobilnya.


Saat ini mereka sudah berada di perjalanan. Namun Kiara sedikit heran, Karena Rian tidak juga menghentikan mobilnya. Padahal kan mereka itu hendak mencari kontrakan. Harusnya jika mencari kontrakan, mereka bisa singgah ke beberapa tempat.


Kiara melihat Rian mengemudikan mobilnya memasuki kompleks perumahan.


"Kak, ini mau kemana? Saya harus cari kontrakan loh."


"Ini jalan pulang ke rumah saya. Setelah saya pikir-pikir, lebih baik kamu tinggal disana saja bersama kami."


"Tapi, Kak. Saya---" baru juga Kiara akan berbicara, namun Rian memotong perkataannya.


"Tenang saja, saya tidak akan memberitahu Alan, jika kamu tinggal bersama saya dan istri saya."


"Baiklah, terima kasih, Kak. Karena Kak Rian mau menolong saya."


"Itu sudah kewajiban saya menjadi seorang Kakak."


Kiara merasa senang karena keluarga Bu Anara baik semua kepadanya. Mereka benar-benar sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarganya.


'Mungkin ini sudah takdirku, mau pergi kemana pun, tetap saja di pertemukan dengan keluarga Alan. Mungkin aku memang tidak bisa lepas dari jangkauan keluarganya," batin Kiara.


Kini mobil yang di kendarai Rian sudah sampai di depan rumahnya. Kebetulan di depan rumah sudah ada Adelia yang menunggu kedatangan suaminya.


Adelia merasa senang saat melihat Kiara turun dari mobil suaminya.


"Kia, akhirnya kita bertemu lagi. Aku senang karena kamu baik-baik saja," Adelia melangkah mendekati Kiara.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Kak. Kia juga senang bisa bertemu Kak Adel."


"Ayo masuk!" Adelia menggandeng tangan Kiara, lalu mereka melangkah masuk ke rumah.


__ADS_2